Bitcoin Sedang Tren, Pelaku Wajib Kenali Blockchain

 Bitcoin Sedang Tren, Pelaku Wajib Kenali Blockchain

Suasana diskusi yang berlangsung di Gedung DNA, Denpasar.

Denpasar, Balikonten.com – Teknologi uang elektronik Bitcoin saat ini makin dikenal masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Bitcoin juga didukung sejumlah teknologi, yakni Blockchain.

Hal itu dibahas dalam pertemuan antara CEO (Chief Executive Officer) kepeng.io, I Gede Putu Rahman Desyanta, didampingi CO-Founder kepeng.io, I Putu Sugiarta dan Chief Marketing Officer, Melizabeth Erchie S, Rabu (2/6) di Gedung Dharma Negara Alaya.

Rahman Desyanta mengatakan, pada tanggal 3 januari 2009, dalam sebuah whitepaper yang berjudul “Bitcoin: A Peer-To-Peer Electronic Cash System”, disebutkan Bitcoin pertama kali diluncurkan.

Menurutnya, Bitcoin adalah mata uang digital yang pertama kali diterbitkan sebagai media, dalam transaksi elektronik, berbasiskan jaringan yang terdesentralisasi.

“Teknologi dibelakang dari mata uang ini adalah technology Blockchain,” tegasnya.

Berikutnya, Rahman Desyanta memaparkan, “Blockchain” adalah metode atau konsep pencatatan transaksi data, dimana data tersebut, tersebar tidak hanya pada satu komputer atau server saja, tetapi, terkoneksi ke berbagai komputer didalam suatu jaringan.

“Data transaksi yang tersimpan ini, pada satu komputer dengan komputer lainnya, memiliki data yang identik atau sama,” tuturnya.

Diungkapkan, Blockchain juga disebut dengan “Desentralize Network” atau jaringan yang terdesentralisasi. Data tersimpan dan disusun, seperti blok-blok data yang terhubung satu sama lain.

Kata dia, dengan data yang terdesentralisasi ini, menyebabkan untuk melakukan peretasan terhadap data didalamnya, cukup sulit bahkan hampir mustahil.

Dipaparkan, lebih lanjut, “Blockchain” memiliki 4 karakteristik kunci, yaitu, yang pertama, disebut Konsensus, yang setiap jaringan blockchain, memiliki kunci atau aturan yang telah disepakati bersama, sehingga setiap terjadi transaksi, setiap komputer atau disebut dengan node tersebut, akan diberikan notifikasi bahwa terjadi transaksi.

Transaksi tersebut, akan tercatat dalam jaringan, jika telah mendapat persetujuan dari setiap node dalam jaringan.

BACA JUGA:  Fintech Marak, Menkominfo Sebut Edukasi Keuangan dan Perlindungan Konsumen Makin Krusial

Berikutnya, ada istilah Provenance, yang menurutnya, pada setiap data yang tersimpan dalam “Blockchain” haruslah terbuka dan semua dapat mengaksesnya dengan sangat terbuka. Setiap data harus diketahui siapa yang membuat, dari mana asalnya data ini. Setiap data harus dapat dijelajah lebih dalam asal mulanya.

Selanjutnya, yang ketiga, diungkapkan, ada istilah Immutable, yang dipaparkan bahwa, tidak ada satupun pihak yang dapat memodifikasi dan menghapus data yang telah terekam dalam jaringan blockchain.

Setiap data yang berada disana, telah terekam secara abadi dan telah terikat dengan blok data berikutnya.

Jika terjadi kesalahan dalam data, maka data atau blok baru akan dibuat bukan sebagai pengganti dari blok data yang salah, tetapi sebagai tambahan data baru.

Dalam hal ini, kedua transaksi tersebut akan terlihat dengan jelas pada jaringan data. (Red)

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE

error: Content is protected !!