Perkokoh Persatuan di Tanah Dewata: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Sasar Jagabaya dan Masyarakat Penatih

Perkokoh Persatuan di Tanah Dewata: Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Sasar Jagabaya dan Masyarakat Penatih/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Semangat kebangsaan berdenyut kencang di Aula PMI Provinsi Bali, Kelurahan Penatih, Kota Denpasar. Pada Sabtu (13/12/2025), sebanyak 150 peserta yang terdiri dari Jagabaya Pasek, tokoh masyarakat, serta warga setempat berkumpul untuk mendalami nilai-nilai fundamental negara dalam acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.
Anggota MPR RI, I Komang Merta Jiwa, hadir langsung sebagai narasumber untuk membedah urgensi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks kehidupan masyarakat Bali yang dinamis.
Kemanusiaan di Jantung Pancasila
Dalam pemaparannya, I Komang Merta Jiwa menekankan bahwa nilai-nilai Pancasila bukan sekadar hafalan normatif, melainkan harus hidup dalam tindakan nyata. Ia mencontohkan aksi donor darah sebagai manifestasi konkret dari Sila Kedua, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
“Donor darah adalah bukti nyata persaudaraan sejati. Saat membantu sesama, kita tidak lagi melihat latar belakang suku, agama, atau golongan. Inilah esensi kebangsaan yang diwujudkan melalui tindakan kemanusiaan,” ujar I Komang Merta Jiwa di hadapan para peserta.
Pemilihan lokasi di markas PMI Bali pun memiliki makna simbolis. Sebagai lembaga kemanusiaan yang bekerja tanpa diskriminasi, PMI menjadi cermin ideal dari implementasi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika.
Jagabaya dan Pecalang: Benteng Budaya dan Keamanan
Diskusi semakin hangat saat membahas peran vital Jagabaya dan Pecalang di Bali. Sebagai “polisi adat”, mereka menjadi instrumen keamanan berbasis kearifan lokal yang terbukti ampuh menjaga stabilitas wilayah melalui pendekatan persuasif dan budaya.
I Komang Merta Jiwa menegaskan bahwa posisi Jagabaya dan Pecalang merupakan mitra strategis bagi aparat keamanan negara. Sinergi ini menjadi kunci utama mengapa Bali tetap kondusif sebagai destinasi wisata dunia.
“Keamanan berbasis adat ini adalah kekuatan unik kita. Konstitusi negara mengakui kekhasan Bali, dan praktik toleransi yang ditunjukkan para penjaga adat saat mengamankan hari besar lintas agama adalah contoh nyata Bhinneka Tunggal Ika yang diakui dunia,” tambahnya.
Menjaga Harmoni dan Aspirasi Rakyat
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog dua arah. Masyarakat menyampaikan aspirasi terkait pentingnya penguatan koordinasi antara keamanan tradisional dengan aparat formal, serta perlunya dukungan berkelanjutan terhadap pelestarian kearifan lokal.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI meresap ke dalam aktivitas sehari-hari masyarakat Penatih dan seluruh Bali. Dengan penguatan identitas lokal yang selaras dengan hukum nasional, Bali terus menjadi teladan dalam merawat harmoni sosial dan memperkokoh tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
***

