22/01/2026

Arti Ngelawang Barong sebagai Bagian dari Perayaan Galungan Kuningan

sejarah dan tujuan ngelawang tradisi saat galungan dan kuningan

Barong Bangkung yang menjadi ikon saat tradisi ngelawang digelar/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tradisi Ngelawang Barong merupakan salah satu warisan budaya yang kaya makna dalam perayaan Hari Raya Galungan di Bali. Dilaksanakan setelah Hari Raya Galungan hingga menjelang Hari Raya Kuningan, tradisi ini melibatkan kelompok anak-anak atau sekaa yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk menampilkan Tarian Barong Bangkung. Tradisi ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial yang mendalam dalam budaya Bali.

Apa Itu Tradisi Ngelawang Barong?

Ngelawang berasal dari kata Bali “lawang” yang berarti pintu. Secara harfiah, Ngelawang dapat diartikan sebagai kegiatan berkeliling dari pintu ke pintu atau dari rumah ke rumah untuk mempertunjukkan Tarian Barong, khususnya Barong Bangkung. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh sekaa, kelompok anak-anak atau remaja di banjar atau desa adat, yang terdiri dari penari dan penabuh gamelan. Mereka mengenakan kostum Barong Bangkung, sebuah representasi makhluk mitologi yang melambangkan kebaikan, dan menari di halaman rumah warga.

Setelah pertunjukan, pemilik rumah biasanya memberikan punia atau sumbangan berupa uang atau barang kepada sekaa. Dana ini biasanya digunakan untuk perawatan kostum Barong dan kebutuhan kelompok, seperti peralatan musik atau kegiatan komunal lainnya. Tradisi ini umumnya berlangsung pada hari Umanis Galungan, sehari setelah Galungan, dan berlanjut hingga menjelang Hari Raya Kuningan.

Makna Spiritual Ngelawang Barong

Dalam konteks Hari Raya Galungan, yang merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan), Ngelawang Barong memiliki makna spiritual yang mendalam. Tarian Barong Bangkung diyakini memiliki kekuatan untuk menetralisir pengaruh negatif di lingkungan rumah-rumah yang dikunjungi. Barong, sebagai simbol pelindung dan kebaikan dalam mitologi Bali, dianggap membawa energi positif yang dapat membersihkan aura negatif serta memperkuat harmoni spiritual di setiap rumah.

Selain itu, tradisi Ngelawang juga mencerminkan filosofi “membuka pintu” atau membuka diri. Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk membuka hati dan pikiran terhadap nilai-nilai kebaikan, kebersamaan, dan kemenangan Dharma. Dalam ajaran Hindu Bali, tradisi ini dijiwai oleh tiga kerangka dasar agama Hindu, yaitu tatwa (filosofi), susila (etika atau tindakan), dan upacara (ritual). Ketiganya tercermin dalam pelaksanaan Ngelawang yang semi-sakral, di mana tarian tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial.

Pelaksanaan Tradisi Ngelawang

Pelaksanaan Ngelawang Barong biasanya melibatkan persiapan yang matang oleh sekaa. Anak-anak atau remaja yang tergabung dalam kelompok ini berlatih menari dan memainkan gamelan untuk memastikan pertunjukan mereka menarik dan sesuai dengan tradisi. Barong Bangkung, yang menjadi pusat pertunjukan, adalah kostum berbentuk makhluk berkaki empat yang dimainkan oleh dua penari, satu mengendalikan kepala dan yang lain mengendalikan tubuh bagian belakang. Kostum ini dihias dengan detail artistik, seperti bulu, cermin, dan kain warna-warni, yang menambah keindahan visual tarian.

Sekaa berkeliling di lingkungan banjar atau desa adat, mengunjungi rumah-rumah warga untuk menampilkan tarian singkat di halaman rumah. Musik gamelan yang mengiringi tarian menciptakan suasana meriah, menarik perhatian warga, terutama anak-anak, yang sering kali ikut menyaksikan dengan antusias. Setelah selesai menari, pemilik rumah memberikan punia sebagai bentuk apresiasi. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda untuk melestarikan budaya Bali.

Peran Ngelawang dalam Memperkuat Kebersamaan

Selain makna spiritual, Ngelawang Barong juga memiliki peran sosial yang signifikan. Tradisi ini menjadi sarana bagi anak-anak dan remaja untuk belajar bekerja sama dalam kelompok, mengasah keterampilan seni, dan memahami tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya. Bagi masyarakat, kehadiran sekaa Ngelawang menciptakan suasana kebersamaan dan kegembiraan pasca Galungan, memperkuat ikatan antarwarga di banjar atau desa adat.

Tradisi ini juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pelestarian budaya Bali. Melalui Ngelawang, mereka tidak hanya belajar tentang seni, tari, dan musik, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam perayaan Galungan, seperti kebaikan, harmoni, dan gotong royong.

Ngelawang Barong adalah tradisi yang kaya akan makna dalam perayaan Hari Raya Galungan di Bali. Dengan Tarian Barong Bangkung sebagai inti kegiatannya, tradisi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa nilai spiritual untuk menetralisir pengaruh negatif dan memperkuat kemenangan Dharma. Filosofi “membuka pintu” dalam Ngelawang mengajak masyarakat untuk membuka diri terhadap kebaikan dan kebersamaan.

Melalui pelaksanaan yang sesuai dengan nilai-nilai Hindu Bali, tradisi ini terus hidup sebagai wujud pelestarian budaya dan penguatan ikatan sosial di masyarakat. Dengan menjaga esensi tradisi, Ngelawang Barong akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Galungan yang penuh makna.

***

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE