22/01/2026

Tahu Gak Sih Gimana Asal – Usul Nama Otonan Itu?

WHDI Denpasar Gelar Pelatihan Pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu di Banjar Lantang Bejuh Sesetan

WHDI Denpasar Gelar Pelatihan Pembuatan Banten Otonan Ayaban Tumpeng Pitu di Banjar Lantang Bejuh Sesetan/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Upacara Pawetonan atau Otonan, yang dirangkaikan dengan ritual Napak Sithi, menjadi bagian penting dalam siklus kehidupan umat Hindu di Bali. Tradisi ini dilaksanakan ketika seorang bayi berusia 210 hari berdasarkan kalender Bali. Bagi masyarakat Bali, momen tersebut menandai fase awal kehidupan spiritual seorang manusia yang mulai berhubungan langsung dengan alam semesta.

Otonan dan Napak Sithi kerap disebut sebagai kelanjutan dari upacara tiga bulanan. Dalam praktiknya, ritual ini mengandung nilai religius, filosofis, dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Jejak Sejarah dan Asal Usul Otonan

Istilah ototan atau otonan berakar dari bahasa Jawa Kuno, yakni kata wetu atau metu yang berarti keluar, lahir, atau menjelma. Secara makna, otonan dipahami sebagai peringatan hari kelahiran seseorang dalam sistem penanggalan Bali.

Berbeda dengan perayaan ulang tahun dalam kalender Masehi, otonan mengikuti siklus 210 hari atau enam bulan Bali. Sistem ini menjadi ciri khas kebudayaan Bali yang masih lestari hingga kini dan tetap dijalankan dalam kehidupan religius masyarakat Hindu Bali.

Makna Spiritual dalam Upacara Otonan

Otonan pertama seorang bayi umumnya dilakukan saat berusia 105 hari. Pada usia ini, tubuh bayi diyakini telah berkembang dengan lebih sempurna. Upacara ini dipandang sebagai proses penyucian diri sejak awal kehidupan.

Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa otonan memiliki tujuan spiritual yang kuat. Bayi yang belum menjalani otonan dipandang belum sepenuhnya suci secara niskala. Oleh karena itu, ritual ini menjadi sarana permohonan agar bayi terbebas dari pengaruh buruk serta mendapatkan tuntunan hidup yang baik.

Dalam keyakinan Hindu Bali, otonan bukan sekadar seremoni keluarga. Upacara ini menjadi pengingat akan pentingnya membangun kesadaran spiritual sejak manusia dilahirkan ke dunia.

Landasan Filsafat dan Nilai Keagamaan

Pelaksanaan otonan dan Napak Sithi berlandaskan pemahaman filosofis yang mendalam. Angka 210 hari dalam kalender Bali dikaitkan dengan konsep Samkhya, yang menandai mulai aktifnya Tri Pramana dalam diri manusia, yaitu Bayu (tenaga), Sabda (ucapan), dan Idep (pikiran).

Pada fase ini, bayi dianggap mulai mampu merespons kehidupan secara lahir dan batin. Melalui otonan, keluarga memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi agar sang anak tumbuh dalam keseimbangan antara raga dan jiwa.

Kesederhanaan yang Mengandung Makna

Upacara otonan di Bali umumnya dilakukan secara sederhana. Kesederhanaan tersebut tidak mengurangi nilai sakral yang terkandung di dalamnya. Esensi otonan terletak pada niat tulus, doa, dan pemaknaan spiritual yang menyertai prosesi.

Dalam ajaran Hindu Bali, otonan diharapkan mampu membentuk karakter seseorang agar bersikap santun, hormat kepada sesama, dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.

Napak Sithi, Simbol Langkah Awal Kehidupan

Ritual Napak Sithi menjadi puncak dari rangkaian upacara ini. Prosesi ini menandai saat pertama bayi menyentuh tanah. Dalam pandangan spiritual, bumi dipahami sebagai ibu yang memberi kehidupan dan perlindungan.

Napak Sithi dilengkapi dengan berbagai simbol sakral seperti Rerajahan Badawang Nala, sangkar ayam, dan yuyu. Setiap simbol memiliki makna sebagai penangkal kekuatan negatif dan penuntun jalan hidup yang selaras dengan dharma.

Mangku I Wayan Satra menyebutkan bahwa bayi biasanya digendong oleh seorang anak yang giginya belum tanggal. Hal ini melambangkan kesucian, ketulusan, serta pikiran yang masih bersih.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Tradisi Otonan dan Napak Sithi mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat Hindu Bali. Ritual ini tidak hanya memperingati kelahiran secara fisik, tetapi juga menanamkan kesadaran akan hubungan manusia dengan alam dan kekuatan Ilahi.

Melalui upacara ini, umat Hindu di Bali diajak untuk menjaga keseimbangan hidup, menghormati proses kelahiran, serta merawat nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur. Otonan dan Napak Sithi tetap hidup sebagai identitas budaya dan spiritual Bali yang terus dijaga hingga kini.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE