Ulihan, Kembalinya Leluhur ke Surya Loka, Ini Banten yang Digunakan

Ilustrasi gambar banten/ Wikimedia Commons/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bali kembali memasuki suasana sakral menjelang akhir November 2025. Tepat pada Minggu, 23 November 2025, umat Hindu di Pulau Dewata merayakan rahinan Ulihan, momen penuh makna yang menandai kembalinya para dewa dan pitara (leluhur) ke kahyangan setelah rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan.
Bagi masyarakat Hindu Bali, Ulihan bukan sekadar hari biasa. Nama “Ulihan” sendiri berasal dari kata “mulih” yang berarti kembali, sekaligus merujuk pada “oleh-oleh” berupa sesajen khusus yang disiapkan sebagai bekal perjalanan rohani para dewa dan leluhur menuju alam niskala.
Kapan Ulihan Dirayakan?
Ulihan selalu jatuh pada Redite (Minggu) Wage wuku Kuningan, tepat enam hari sebelum Hari Raya Kuningan. Menjadikannya bagian penting dalam rentang hari suci antara Galungan dan Kuningan.
Makna Mendalam di Balik Tradisi Ulihan
Pada hari ini, umat Hindu meyakini para dewa yang turun ke bumi saat Galungan—termasuk manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa—akan kembali ke tempat suci masing-masing. Mereka meninggalkan dunia sekala (nyata) untuk kembali ke alam niskala (abstrak).
Sebagai wujud terima kasih atas segala anugerah dan perlindungan selama masa kunjungan suci itu, umat menghaturkan banten ulihan berisi rempah-rempah, beras, buah-buahan, sayuran, dan berbagai hasil bumi. Rempah-rempah melambangkan kesehatan dan obat, sedangkan beras atau bija menjadi simbol benih kehidupan yang terus mengalir dari Sang Pencipta.
“Ini bentuk rasa syukur kami. Kami memberikan bekal terbaik agar perjalanan para dewa dan leluhur kembali lancar dan penuh berkah,” ujar Ni Ketut Sari, warga Desa Pupuan, Tabanan, yang setiap tahun menyiapkan banten ulihan dengan penuh khidmat.
Tradisi Unik di Beberapa Daerah
Di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Tabanan, ada kebiasaan khusus yang masih lestari. Banten ulihan tidak hanya diletakkan di sanggah atau merajan, tetapi juga di lebuh (halaman depan rumah) atau tepat di bawah penjor yang masih berdiri sejak Galungan. Prosesi ini seperti benar-benar “mengantar pulang” tamu suci dengan penuh hormat.
Sementara di wilayah lain, tata cara dan bentuk sesajen disesuaikan dengan tradisi desa pakraman masing-masing. Yang pasti, semangatnya sama: mengucap syukur dan memberikan “oleh-oleh” terbaik untuk para dewa dan leluhur.
Mengapa Ulihan Tetap Penting di Era Modern?
Di tengah gempuran budaya global, Ulihan menjadi pengingat kuat akan nilai leluhur dan rasa syukur. Perayaan ini mengajarkan generasi muda Bali untuk tetap menghormati asal-usul, menjaga kesehatan melalui rempah tradisional, dan menghargai beras sebagai sumber kehidupan.
Tahun 2025 ini, saat Bali kembali ramai dengan wisatawan menjelang akhir tahun, Hari Raya Ulihan pada 23 November menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan langsung prosesi sakral yang penuh makna. Bagi Anda yang berada di Bali pada tanggal tersebut, luangkan waktu untuk melihat penjor yang masih tegak, aroma rempah yang semerbak, dan doa-doa tulus yang menggema dari setiap rumah.
Ulihan bukan hanya tentang mengantar pulang. Ia adalah perwujudan cinta, syukur, dan harapan agar berkah terus mengalir—dari kahyangan ke bumi, dari leluhur ke anak cucu.
***

