Dishub Badung Sebut Rekayasa Lalu Lintas di Kerobokan Klod Efektif Urai Kemacetan, Driver Pariwisata Juga Terdampak

Dishub Badung Sebut Rekayasa Lalu Lintas di Kerobokan Klod Efektif Urai Kemacetan, Driver Pariwisata Juga Terdampak/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Dinas Perhubungan (Dishub) tengah membuktikan bahwa jarak tempuh yang lebih jauh tidak selalu berarti perjalanan yang lebih lama.
Melalui penerapan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) di Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, data menunjukkan adanya efisiensi waktu tempuh yang signifikan meski pengendara harus menempuh rute memutar.
Sejak diberlakukan di sembilan persimpangan strategis pada pertengahan Desember lalu, pola arus baru ini dirancang untuk mengatasi persoalan klasik di kawasan wisata dan pemukiman padat yakni kemacetan di titik pertemuan arus atau persimpangan.
Mengurangi Titik Konflik untuk Kelancaran Arus
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Badung, AA Rai Yuda Darma, menjelaskan bahwa inti dari rekayasa lalu lintas satu arah adalah menghilangkan “titik konflik” atau persilangan kendaraan di persimpangan.
Dalam teori lalu lintas, persimpangan dengan banyak arah sering kali menjadi penyebab utama antrean panjang karena kendaraan harus saling menunggu giliran untuk melintas.
“Tujuan utama kami adalah meniadakan crossing di persimpangan. Dengan sistem satu arah, aliran kendaraan menjadi lebih kontinu. Meski secara geografis rute memutar membuat jarak lebih jauh, namun karena kendaraan terus bergerak tanpa banyak berhenti, waktu tempuh secara total menjadi lebih singkat,” ujar Yuda Darma pada Rabu (7/1).
Evaluasi lapangan menunjukkan bahwa kawasan yang sebelumnya rawan macet total, seperti Jalan Batubelig, Jalan Petitenget, hingga Jalan Raya Kerobokan Semer, kini mulai menunjukkan pola arus yang lebih stabil atau “padat lancar” bahkan pada jam sibuk.
Pentingnya Keseimbangan Volume dan Kapasitas Jalan
Yuda Darma menyebut, edukasi mengenai kapasitas jalan menjadi poin penting dalam evaluasi ini. Dishub Badung terus memantau fluktuasi volume kendaraan yang disandingkan dengan kapasitas badan jalan yang tersedia. Hasil pemantauan harian mengidentifikasi bahwa hambatan utama saat ini berada pada penyempitan di mulut-mulut simpang (bottleneck).
Pemerintah juga telah menyiapkan rencana perbaikan infrastruktur sebagai pendukung MRLL, antara lain Pelebaran Geometrik Simpang yang direncanakan di Jalan Mertanadi Utara (sebelah barat LP). Dan Pelebaran Mulut Simpang yang fokus pada pertemuan Jalan Pengubengan Kauh dan Jalan Intan.
Kata dia, langkah ini diambil agar kapasitas jalan mampu menampung volume kendaraan yang terus meningkat, mengingat pertumbuhan jumlah kendaraan di Bali tidak sebanding dengan penambahan luas jalan baru.
Adaptasi Masyarakat dan Dampak Ekonomi
Yuda Darma menambahkan, setiap perubahan pola lalu lintas tentu memerlukan masa transisi. Munculnya beragam respons di media sosial dipandang sebagai bagian dari proses adaptasi masyarakat terhadap rute baru.
Namun, bagi para pelaku jasa transportasi yang sangat bergantung pada efisiensi waktu, kebijakan ini mulai dirasakan manfaatnya secara ekonomi karena berkurangnya waktu yang terbuang di tengah kemacetan.
Sistem satu arah ini dipersiapkan sebagai solusi jangka panjang. Masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa keteraturan lalu lintas memerlukan kerja sama antara pengaturan regulasi oleh pemerintah dan kepatuhan pengguna jalan dalam mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan.

