Bukan Hanya Sebagai Pelengkap, Begini Arti Tamiang, Endongan, dan Reringgitan pada Hari Kuningan

Arti Tamiang, Endongan, dan Reringgitan pada Hari Kuningan/ youtube/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Kuningan merupakan salah satu perayaan penting dalam tradisi Hindu Bali yang dirayakan setiap Sabtu Kliwon Wuku Kuningan, 10 hari setelah Hari Raya Galungan.
Perayaan ini identik dengan warna kuning yang melambangkan kemakmuran dan penghormatan kepada leluhur serta Dewa Mahadewa, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber kelimpahan.
Dalam pelaksanaannya, Kuningan memiliki sarana upacara khas yang kaya makna, yaitu tamiang, endongan, dan reringgitan.
Tamiang: Simbol Perlindungan dan Harmoni Kosmik
Tamiang adalah sarana upacara khas Kuningan yang berbentuk bulat, terbuat dari janur (daun kelapa muda) atau terkadang ental (daun lontar) di beberapa daerah. Kata “tamiang” berasal dari “tameng” dalam bahasa Indonesia, yang berarti pelindung.
Dalam konteks Kuningan, tamiang melambangkan kekuatan perlindungan untuk mempertahankan kemenangan Dharma yang dirayakan pada Galungan, sekaligus menangkal energi negatif.
Tamiang memiliki diameter yang bervariasi dan dihias dengan ornamen khas Bali, seperti janur yang dipilin atau bunga-bungaan. Secara filosofis, tamiang melambangkan Dewata Nawa Sanga, sembilan dewa yang menjaga sembilan arah mata angin sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa-dewa tersebut adalah Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa. Bentuk bulat tamiang mencerminkan harmoni kosmik dan keseimbangan alam semesta.
Ada dua jenis tamiang yang digunakan pada Hari Kuningan:
- Tamiang Upacara: Digunakan khusus untuk ritual keagamaan seperti Kuningan. Tamiang ini lebih sederhana, sering berisi porosan (campuran sirih, kapur, dan pinang) yang melambangkan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) sebagai wujud Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tamiang upacara diletakkan di sanggah atau pelinggih untuk keperluan sembahyang.
- Tamiang Hias: Digunakan untuk acara khusus seperti pernikahan atau upacara lain di luar Kuningan. Tamiang ini lebih dekoratif, dengan variasi bentuk, warna cerah, bunga beragam, dan ornamen tambahan, tetapi tidak mengandung porosan.
Tamiang biasanya dipasang di sanggah keluarga, pelinggih, atau pintu masuk rumah, menandakan perlindungan spiritual bagi umat dan lingkungan sekitar.
Endongan: Simbol Bekal untuk Leluhur dan Kehidupan
Endongan adalah sarana upacara berbentuk kantong atau tas kecil yang terbuat dari janur atau tapis kelapa. Endongan diisi dengan berbagai persembahan, seperti nasi kuning, pisang, tebu, jajan tradisional, dan daun paku cemara.
Secara simbolis, endongan melambangkan bekal yang diberikan kepada para leluhur (Pitara) saat mereka kembali ke Swarga Loka setelah Kuningan, sekaligus sebagai bekal spiritual bagi umat Hindu dalam menjalani kehidupan ke depan.
Makna endongan mencerminkan keseimbangan antara penghormatan kepada leluhur dan persiapan untuk menghadapi tantangan hidup. Isi endongan, seperti nasi kuning, melambangkan kemakmuran, sementara pisang dan tebu menandakan kesejahteraan dan keberlimpahan. Endongan biasanya digantung di sanggah atau diletakkan bersama sarana lain selama sembahyang Kuningan, menegaskan nilai syukur dan kesiapan.
Reringgitan: Simbol Penolak Bala dan Keindahan
Reringgitan, sering disebut juga sampian gantung, adalah sarana upacara berupa hiasan janur yang digantung, biasanya berbentuk anyaman rumit dengan pola artistik. Reringgitan melambangkan penolak bala atau perlindungan dari gangguan energi negatif. Bentuknya yang indah dan simetris mencerminkan keharmonisan dan estetika dalam tradisi Bali, sekaligus sebagai persembahan estetis kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Reringgitan sering dipasang di sanggah, pelinggih, atau sebagai bagian dari banten Kuningan. Anyaman janur pada reringgitan menunjukkan keterampilan seni tradisional Bali, yang tidak hanya berfungsi ritual tetapi juga memperkuat identitas budaya.
Makna Keseluruhan dalam Konteks Kuningan
Tamiang, endongan, dan reringgitan memiliki peran penting dalam Hari Raya Kuningan, yang dirayakan untuk memohon kemakmuran, perlindungan, dan tuntunan dari Dewa Mahadewa serta para leluhur. Ketiga sarana ini saling melengkapi:
- Tamiang memberikan perlindungan spiritual melalui simbol tameng dan harmoni Dewata Nawa Sanga.
- Endongan menyiapkan bekal bagi leluhur dan umat, mencerminkan kesejahteraan dan kesiapan hidup.
- Reringgitan menolak bala sekaligus memperindah upacara, menegaskan nilai estetika dan spiritual.
Ketiga sarana ini dihaturkan sebelum pukul 12.00 Wita, sesuai ajaran Lontar Sundarigama, yang menyebutkan bahwa tengah hari adalah waktu kembalinya Dewata dan Pitara ke Swarga Loka. Persembahan ini diletakkan di sanggah keluarga, pura desa, atau pelinggih, memperkuat hubungan antara umat, leluhur, dan Tuhan.
Tamiang, endongan, dan reringgitan adalah elemen kunci yang membuat Hari Raya Kuningan begitu istimewa dalam tradisi Hindu Bali. Melalui simbol perlindungan, bekal, dan penolak bala, ketiga sarana ini mengajak umat untuk merenungkan makna kemakmuran, kebersyukuran, dan harmoni spiritual. Dengan memahami arti ketiganya tidak hanya memperkaya wawasan tentang Kuningan, tetapi juga menguatkan apresiasi terhadap budaya Bali yang penuh makna.
***

