Harga Emas 15 Mei 2025 Mulai Stabil: Faktor Inflasi, Suku Bunga, dan Geopolitik Jadi Pendorong

Harga Emas mulai stabil/ balikonten
JAKARTA, BALIKONTEN.COM – Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan tren kenaikan pada Kamis, 15 Mei 2025, didorong oleh sejumlah faktor fundamental yang kuat. Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas global berpotensi menyentuh kisaran USD 3.292 per ons. Apa saja pemicu utama di balik prediksi ini?
Inflasi AS dan Sentimen Penurunan Suku Bunga
Salah satu katalis utama kenaikan harga emas adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang mencatatkan angka 2,3%, sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Angka ini menjadi sinyal positif bagi Bank Sentral AS (The Federal Reserve) untuk kembali mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
“Data inflasi yang stabil ini memberikan ruang bagi The Fed untuk membahas penurunan suku bunga, yang pada gilirannya meningkatkan daya tarik emas sebagai aset investasi,” ungkap Ibrahim dalam wawancara di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Penurunan suku bunga biasanya melemahkan nilai tukar dolar AS, sehingga mendorong investor beralih ke emas dan logam mulia lainnya sebagai alternatif investasi. Kondisi ini memperkuat posisi emas sebagai aset safe-haven yang mampu menjaga nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ketegangan Perang Dagang AS-China
Faktor kedua yang mendukung kenaikan harga emas adalah dinamika perang dagang antara AS dan China. Meski kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sementara selama 90 hari, ketegangan masih membayangi pasar. Kesepakatan ini mencakup penurunan tarif impor masing-masing sebesar 115%, dengan AS dan China menangguhkan tarif tambahan 34% selama periode jeda, sambil mempertahankan tarif 10%.
Namun, Ibrahim menegaskan bahwa gencatan senjata ini bersifat sementara. “Setelah 90 hari, tarif impor yang lebih tinggi kemungkinan akan diterapkan. Ini bisa memicu guncangan ekonomi global, terutama bagi AS dan China,” jelasnya.
Pada periode awal perang dagang, tarif impor berkisar antara 10-25% saja sudah cukup mengguncang pasar. Jika tarif naik hingga 30%, dampaknya diprediksi akan jauh lebih signifikan. Kondisi ini mendorong investor untuk kembali melirik emas sebagai lindung nilai (hedging) yang andal.
Geopolitik Timur Tengah Memanaskan Pasar
Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik berkelanjutan, termasuk serangan Israel di Jalur Gaza, menciptakan ketidakstabilan yang memperkuat posisi emas sebagai aset safe-haven. Selain itu, kebijakan AS di bawah pemerintahan Donald Trump yang mengecam Iran dan memberlakukan sanksi ekonomi terhadap 20 perusahaan terkait ekspor minyak mentah ke China turut memanaskan situasi.
“Ketegangan geopolitik ini menjadi pendorong kuat bagi harga emas. Investor melihat emas sebagai pelindung nilai yang kokoh di tengah ketidakpastian global,” tambah Ibrahim.
Dampak Kesepakatan Dagang AS-China terhadap Komoditas
Meski kesepakatan dagang AS-China sempat meredakan ketegangan, dampaknya terhadap harga emas justru berlawanan di beberapa kesempatan. Riset dari PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa de-eskalasi tarif dagang dianggap sebagai skenario terbaik untuk mencegah gangguan rantai pasok global dan kekhawatiran resesi. Namun, hal ini juga memicu penurunan harga emas sementara.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 3% menjadi USD 3.225,28 per ons, sementara emas berjangka AS anjlok 3,5% ke level USD 3.228 per ons. “Penguatan dolar AS dan rotasi investor ke aset berisiko menyebabkan tekanan pada harga emas, karena permintaan aset safe-haven menurun,” jelas Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, dalam keterangan resmi, Rabu (14/5/2025).
Mengapa Emas Tetap Menarik?
Meski mengalami tekanan jangka pendek, prospek jangka panjang emas tetap cerah. Kombinasi inflasi yang terkendali, potensi penurunan suku bunga, ketegangan perang dagang, dan konflik geopolitik menciptakan lingkungan yang mendukung kenaikan harga emas. Bagi investor, emas tetap menjadi pilihan strategis untuk diversifikasi portofolio dan melindungi aset dari guncangan ekonomi.
***

