Harmoni dari Gianyar: Kala Pancasila Menjadi Napas Hidup Warga Banjar Puri Chandra Asri

Harmoni dari Gianyar: Kala Pancasila Menjadi Napas Hidup Warga Banjar Puri Chandra Asri/ balikonten
GIANYAR – Di tengah riuh rendah dinamika politik nasional, sebuah potret kesejukan muncul dari jantung Kabupaten Gianyar, Bali. Tepatnya di Balai Banjar Puri Chandra Asri, Kecamatan Sukawati, nilai-nilai kebangsaan bukan lagi sekadar teks hafalan dalam buku pelajaran, melainkan sudah mendarah daging dalam laku hidup sehari-hari.
Sabtu (13/12/2025), suasana balai banjar tampak hangat. Sebanyak 150 warga yang terdiri dari pengurus banjar, kepala dusun, hingga ibu-ibu PKK berkumpul untuk mengikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Hadir sebagai narasumber, Anggota MPR RI I Komang Merta Jiwa, yang membawa misi penguatan ideologi negara langsung ke akar rumput.
Laboratorium Toleransi di Sukawati
Banjar Puri Chandra Asri bukanlah wilayah biasa. Banjar ini menjadi representasi kecil Indonesia yang majemuk. Di sini, keberagaman etnis dan agama bertemu dalam harmoni yang cair. Keberadaan tiga rumah ibadah—pura, masjid, dan gereja—yang berdiri berdampingan menjadi bukti fisik betapa dewasanya masyarakat setempat dalam menyikapi perbedaan.
“Empat Pilar MPR RI adalah fondasi utama kita. Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus hidup dalam praktik nyata, bukan sekadar semboyan,” tegas I Komang Merta Jiwa di hadapan warga.
Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap tradisi gotong royong lintas iman yang sudah berjalan bertahun-tahun di Gianyar. Saat Nyepi, warga Muslim turut membantu Pecalang menjaga ketenangan. Sebaliknya, saat Idul Fitri maupun Natal, silaturahmi antarwarga mengalir tanpa sekat.
Menjawab Tantangan Zaman
Dalam sesi dialog yang interaktif, warga melontarkan pertanyaan krusial mengenai cara menjaga harmoni di tengah perubahan sosial yang cepat. Menanggapi hal tersebut, I Komang Merta Jiwa menekankan bahwa keteladanan adalah kunci.
“Keharmonisan sosial perlu dijaga melalui dialog dan keteladanan. Banjar memiliki peran strategis sebagai ruang sosial untuk membangun komunikasi. Di sinilah persatuan kita diuji dan diperkuat melalui kedekatan emosional serta budaya,” ungkapnya.
Fokus diskusi juga mengarah pada peran generasi muda. Mengingat tantangan digital yang besar, narasumber mengajak para orang tua dan tokoh masyarakat untuk terus melibatkan anak muda dalam kegiatan sosial. Tujuannya agar tongkat estafet toleransi di Bali tidak terputus dan tetap menjadi fondasi yang kokoh bagi NKRI.
Poin Utama Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gianyar:
- Implementasi Nyata: Menjadikan nilai-nilai kebangsaan sebagai panduan perilaku sehari-hari.
- Peran Banjar: Mengoptimalkan fungsi banjar sebagai ruang dialog lintas agama dan budaya.
- Edukasi Generasi Muda: Mewariskan nilai toleransi melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan sosial bermasyarakat.
Kegiatan ini diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk terus merawat “modal sosial” yang luar biasa ini. Apa yang terjadi di Banjar Puri Chandra Asri adalah pesan kuat dari Bali untuk Indonesia: bahwa perbedaan adalah kekayaan, dan persatuan adalah kekuatan yang harus dijaga selamanya.
***

