I Wayan Sugita: Maestro Drama Gong Bali yang Abadikan Peran Patih Agung

I Wayan Sugita: Maestro Drama Gong Bali yang Abadikan Peran Patih Agung/ facebook/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Bali kembali beruduka atas kepergian seniman legendaris Wayan Sugita. Lebih dikenal sebagai sosok Paman Patih Agung dalam Drama Gong Lawas.
Kabar duka ini pertama kali disebar luaskan oleh sang anak Tilem Pastika melalui sosial media Facebook pada Rabu, 7 Januari 2026 sekira pukul 23.49 WITA.
“Majalan-majalan pak ….. Suba lascara de ngajak makejang dini…,” tulisnya seperti dikutip Balikonten.com Kamis, 8 Januari 2026.
Dan berikut adalah profil singkat tentang Nama I Wayan Sugita selalu langsung mengingatkan pecinta seni pertunjukan Bali pada sosok Patih Agung. Karakter antagonis berkumis tebal dengan suara menggelegar itu telah menjadi ikon drama gong puluhan tahun lamanya. Sang maestro asal Bali ini tetap setia berkarya meski usia sudah menginjak 60 tahun.
Dalam perbincangan eksklusif dengan STI Bali, I Wayan Sugita menceritakan perjalanan panjangnya di dunia drama gong Bali. Ia memulai segalanya dari nol, tanpa pendidikan seni formal.
Lahir tahun 1965, Sugita belajar seni pertunjukan secara otodidak. Bakat alami dan kegigihan membawanya menapaki panggung profesional. Titik terang kariernya muncul pada 1984. Saat itu, ia menyabet gelar pemeran pria utama terbaik dalam festival drama gong remaja se-Bali.
Kemenangan tersebut tidak membuatnya berpuas diri. Sugita justru mengajak para juara festival lain untuk membentuk kelompok yang lebih solid. Bersama mereka, ia mendirikan grup Panji Nuarasrama di tahun yang sama. Sejak saat itu, peran Patih Agung yang ia bawakan semakin melekat di benak penonton drama gong Bali.
“Apa pun peran yang kita mainkan, lakukan saja dengan totalitas penuh,” ujar Sugita tegas. Pesan sederhana itu menjadi kunci kesuksesannya hingga kini.
Sepanjang karier, Sugita kerap berhadapan dengan situasi tak terduga di atas panggung. Penonton yang berulah pernah mengganggu pertunjukan, tapi ia selalu menanganinya dengan tenang dan profesional. Pengalaman-pengalaman itu justru memperkuat mentalnya sebagai seniman.
Pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan berat. Pertunjukan drama gong nyaris terhenti total. Namun, semangat Sugita untuk melestarikan seni tradisional Bali tidak pernah padam. Ia tetap berlatih dan mencari cara agar drama gong terus hidup di tengah keterbatasan.
Kini, Sugita aktif mengajak generasi muda untuk mencintai dan mendalami drama gong. Ia membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin belajar langsung darinya.
“Mari kita kembangkan dan lestarikan seni budaya Bali bersama-sama,” serunya penuh semangat.
Bagi anak muda Bali yang tertarik menekuni dunia seni pertunjukan tradisional, Sugita menyampaikan undangan terbuka. “Silakan datang ke sini, kita belajar bareng,” tutupnya ramah.
Kisah I Wayan Sugita menjadi bukti nyata bahwa totalitas dan cinta terhadap warisan budaya Bali mampu melahirkan legenda hidup di panggung drama gong.
***

