Ini Tradisi Manis Galungan di Bali yang Jarang Diketahui

Penjor Galungan oleh Jorge Láscar/ Flicker/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan perayaan suci yang sangat penting bagi umat Hindu di Bali. Perayaan ini dilaksanakan dua kali dalam setahun berdasarkan perhitungan kalender Bali (Wuku) dan menjadi simbol kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).
Dalam rangkaian perayaan tersebut, terdapat satu hari khusus setelah Galungan yang disebut Umanis Galungan, atau dalam beberapa daerah disebut juga Manis Galungan. Meskipun penyebutannya berbeda, keduanya memiliki makna dan pelaksanaan yang sama.
Umanis Galungan merupakan hari berikutnya setelah puncak perayaan Galungan, yang menjadi momen untuk menikmati kebahagiaan dan kedamaian setelah segala rangkaian upacara keagamaan yang dilakukan sebelumnya.
Pada hari tersebut, umat Hindu biasanya mengunjungi sanak saudara, kerabat, maupun tetangga untuk saling bersilaturahmi dan mempererat hubungan kekeluargaan. Selain itu, masyarakat juga sering mengunjungi tempat wisata, pura, atau tempat-tempat suci lainnya sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan Dharma serta keseimbangan hidup yang telah diraih.
Waktu Pelaksanaan Manis Galungan dan Umanis Galungan
Manis Galungan atau Umanis Galungan merupakan sebutan untuk hari setelah Hari Raya Galungan, yang jatuh pada, Kamis Umanis Wuku Dungulan menurut perhitungan kalender Bali (pawukon). Hari Raya Galungan sendiri diperingati setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Rabu (Buda) Kliwon Wuku Dungulan. Galungan menandai kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan), serta menjadi simbol kembalinya roh leluhur ke dunia untuk menerima persembahan dan doa dari keturunannya. Pada hari tersebut, umat Hindu melaksanakan berbagai upacara, menghaturkan banten (sesajen), serta bersembahyang di pura keluarga maupun pura desa.
Sehari setelahnya, yaitu Kamis Umanis Wuku Dungulan, umat Hindu merayakan Manis Galungan atau Umanis Galungan. Dengan suasana yang lebih santai dan penuh kebahagiaan dibandingkan puncak Galungan, karena menjadi waktu untuk menikmati hasil dari perjuangan spiritual yang telah dilakukan sebelumnya. Umat Hindu biasanya mengunjungi sanak keluarga, tetangga, dan sahabat untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan sosial. Selain itu, banyak juga yang berwisata bersama keluarga, mengunjungi pura-pura besar, atau menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional seperti ngelawang yang kerap digelar di berbagai banjar (dusun).
Tradisi Utama pada Manis Galungan
Manis Galungan dan Umanis Galungan diisi dengan sejumlah tradisi yang mencerminkan nilai spiritual, sosial, dan budaya umat Hindu di Bali. Berikut adalah tradisi-tradisi utama yang dilakukan pada hari ini:
- Simakrama (Silaturahmi)
Salah satu tradisi utama pada Manis Galungan adalah Simakrama, yaitu kegiatan bersilaturahmi antarumat Hindu. Pada hari ini, umat Hindu biasanya mengunjungi rumah keluarga, tetangga, atau kerabat untuk saling menyapa, berbagi cerita, dan mendoakan keselamatan serta kesejahteraan. Simakrama bukan hanya sekadar kunjungan sosial, tetapi juga menjadi wujud nyata dari nilai kebersamaan dan harmoni dalam masyarakat Bali.
Selama Simakrama, suasana penuh kehangatan dan keakraban tercipta. Banyak keluarga yang menyediakan hidangan tradisional, seperti jaja (kue khas Bali) dan buah-buahan, untuk menyambut tamu. Tradisi ini memperkuat ikatan sosial dan menjadi momen untuk saling memaafkan serta mempererat hubungan antarindividu dalam komunitas.
- Natab Sesayut
Tradisi Natab Sesayut adalah upacara khusus yang dilakukan terutama untuk anak-anak yang belum mengalami meketus (tanggal gigi). Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan spiritual bagi anak-anak tersebut. Natab Sesayut biasanya dilakukan di tempat suci keluarga, seperti sanggah atau merajan, dengan menggunakan persembahan sederhana seperti canang sari, sesajen, dan bunga.
- Ngelawang
Salah satu tradisi yang paling meriah pada Umanis Galungan adalah Ngelawang, yaitu pementasan tarian Barong yang diiringi gamelan. Dalam tradisi ini, kelompok masyarakat, biasanya anak-anak atau pemuda desa, mengarak Barong dari rumah ke rumah di wilayah desa. Barong, yang dianggap sebagai simbol kebaikan dan pelindung, diarak untuk mengusir energi negatif dan mendatangkan aura positif bagi lingkungan serta penghuni rumah.
Tarian Barong dalam Ngelawang biasanya disertai dengan gamelan Bali yang khas, seperti gong kebyar atau baleganjur, yang menambah semarak suasana. Penduduk yang dikunjungi sering memberikan persembahan berupa canang atau dana sebagai tanda syukur. Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana pelestarian seni dan budaya Bali, karena melibatkan generasi muda dalam pementasan seni tradisional.
- Persembahyangan dan Dharma Santi
Selain tradisi di atas, Manis Galungan juga diisi dengan persembahyangan di pura keluarga atau tempat suci lainnya. Persembahyangan ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan Dharma yang dirayakan pada Hari Raya Galungan, sekaligus untuk memohon keberkahan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa, para Dewa, dan leluhur (Pitara).
Setelah persembahyangan, beberapa komunitas juga mengadakan Dharma Santi, yaitu kegiatan yang bertujuan untuk mempererat hubungan sosial melalui diskusi keagamaan atau berbagi nilai-nilai Dharma. Dharma Santi biasanya dilakukan dalam suasana santai, di mana umat Hindu saling berbagi pandangan tentang ajaran agama dan cara menjalani hidup yang selaras dengan Dharma.
Makna Tradisi Manis Galungan dan Umanis Galungan
Setiap tradisi pada Manis Galungan dan Umanis Galungan memiliki makna yang mendalam, baik dari sisi spiritual maupun budaya. Berikut adalah beberapa makna utama dari tradisi-tradisi tersebut:
- Kebersamaan dan Harmoni Sosial: Simakrama memperkuat ikatan antaranggota masyarakat, menciptakan rasa solidaritas, dan menjaga harmoni dalam komunitas. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.
- Perlindungan dan Keselamatan: Natab Sesayut dan Ngelawang memiliki nilai spiritual untuk memohon perlindungan dari pengaruh negatif dan memastikan kesejahteraan, terutama bagi anak-anak dan lingkungan sekitar.
- Pelestarian Budaya: Ngelawang menjadi wujud pelestarian seni tradisional Bali, seperti tarian Barong dan gamelan, yang melibatkan generasi muda sebagai pewaris budaya.
- Keseimbangan Spiritual: Persembahyangan dan Dharma Santi mengingatkan umat Hindu untuk selalu menjaga hubungan dengan Tuhan, leluhur, dan sesama manusia, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana (harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam).
Umanis Galungan adalah tradisi suci yang memperkaya perayaan Hari Raya Galungan dengan ritual-ritual penuh makna. Melalui Simakrama, Natab Sesayut, Ngelawang, persembahyangan, hingga Dharma Santi, umat Hindu di Bali tidak hanya merayakan kemenangan kebaikan atas kejahatan, tetapi juga mempererat hubungan sosial, melestarikan budaya, dan memohon keselamatan serta keberkahan.
Tradisi ini mencerminkan kekayaan spiritual dan budaya Bali yang terus dijaga hingga kini, menjadikan Umanis Galungan sebagai momen yang dinanti untuk memperkuat ikatan komunitas dan nilai-nilai luhur Hindu.
***

