Karakter dan Makna Kelahiran Buda Pon Medangkungan dalam Kalender Pawukon Bali

ilustrasi menggending bayi/ gabdullinayuka/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam sistem penanggalan tradisional Bali, hari kelahiran memiliki arti penting dalam memahami karakter, kecenderungan perilaku, serta perjalanan hidup seseorang. Salah satu kombinasi hari yang sering dibahas dalam kalender Pawukon adalah Buda Pon Medangkungan.
Informasi mengenai hari ini tercatat dalam sumber-sumber klasik seperti Lontar Wariga, Lontar Pawukon, serta penjelasan kalender Bali yang diterbitkan oleh lembaga kebudayaan dan pakar wariga.
Posisi Buda Pon Medangkungan dalam Kalender Pawukon
Kalender Pawukon merupakan sistem penanggalan tradisional Bali yang terdiri dari siklus 210 hari. Setiap hari ditentukan oleh pertemuan berbagai unsur wewaran, termasuk saptawara, pancawara, dan wuku.
- Buda berarti hari Rabu dalam siklus saptawara.
- Pon merupakan salah satu pancawara.
- Medangkungan adalah nama wuku dalam siklus 30 wuku.
Pertemuan ketiga unsur ini membentuk hari Buda Pon Medangkungan, yang dicatat dalam tabel pawukon sebagai hari dengan nilai neptu dan pengaruh tertentu terhadap sifat lahiriah dan batiniah seseorang.
Makna Wuku Medangkungan Menurut Lontar Wariga
Dalam Lontar Wariga, wuku Medangkungan digambarkan sebagai periode dengan pengaruh energi yang stabil dan terarah. Orang yang lahir pada wuku ini disebut memiliki kecenderungan berpikir terstruktur dan menjaga keseimbangan dalam bertindak.
Sumber dari kalender Pawukon yang digunakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menjelaskan bahwa Medangkungan berada pada fase pertengahan siklus wuku. Fase ini sering dikaitkan dengan kematangan cara pandang dan kemampuan menata kehidupan secara bertahap.
Karakter Buda sebagai Hari Kelahiran
Hari Buda atau Rabu dalam tradisi Bali diasosiasikan dengan ketenangan berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan kecermatan dalam mengambil keputusan. Dalam catatan wariga, pengaruh Buda memperkuat daya nalar dan ketelitian.
Orang yang lahir pada hari ini sering digambarkan memiliki ketertarikan pada pengetahuan, terampil mengatur pekerjaan, serta mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial.
Pengaruh Pon dalam Pancawara
Pon dikenal sebagai hari dengan energi dinamis dalam pancawara. Berdasarkan penjelasan Lontar Pawukon, Pon membawa sifat giat, responsif, dan cepat membaca situasi. Unsur ini memberi dorongan untuk bergerak aktif dan menyelesaikan tugas dengan tuntas.
Dalam kombinasi Buda Pon, unsur kecermatan berpadu dengan daya gerak, menghasilkan karakter yang teratur dalam bekerja dan tanggap terhadap perubahan.
Watak Kelahiran Buda Pon Medangkungan
Rujukan dari kalender Pawukon Bali yang disusun oleh para ahli wariga menyebutkan bahwa kelahiran pada Buda Pon Medangkungan memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut:
Memiliki kemampuan mengelola pikiran dan emosi secara seimbang.
Cermat dalam perencanaan dan konsisten dalam menjalankan tanggung jawab.
Mudah dipercaya dalam urusan kerja dan sosial karena sikap teratur.
Mampu membaca peluang dan mengatur langkah dengan perhitungan matang.
Ciri-ciri tersebut muncul dari pertemuan unsur Buda yang rasional, Pon yang aktif, dan Medangkungan yang stabil.
Peran Buda Pon Medangkungan dalam Tradisi Bali
Dalam praktik adat, hari kelahiran digunakan sebagai dasar perhitungan upacara otonan dan pemilihan hari baik. Buda Pon Medangkungan tercatat sebagai hari yang netral dan seimbang, sehingga sering dipilih sebagai acuan peringatan kelahiran tanpa pantangan khusus.
Kalender Bali resmi yang diterbitkan lembaga kebudayaan daerah menyebutkan bahwa kombinasi ini jarang dikaitkan dengan hari berat atau hari larangan, sehingga cocok untuk aktivitas rutin dan perencanaan jangka panjang.
Penutup
Kelahiran pada Buda Pon Medangkungan dalam kalender Pawukon mencerminkan perpaduan kecermatan, daya gerak, dan kestabilan. Makna ini tersusun dari sistem penanggalan tradisional yang telah diwariskan selama berabad-abad dan terus digunakan dalam kehidupan masyarakat Bali hingga kini.
***

