Begini Kalau Lahir di Wuku Medangsia: Rentan Jadi Sasaran Ilmu Hitam dan Kelahiran Melik, Ini Ramalan Lengkapnya

ilustrasi menggendong bayi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam tradisi Hindu Bali, hari kelahiran atau otonan memegang peran penting sebagai kunci keseimbangan hidup sekala dan niskala. Otonan menjadi momen mempersembahkan upacara kepada jiwa yang bereinkarnasi dalam tubuh manusia, sekaligus kepada Nyama Papat—empat saudara gaib yang menemani sejak lahir hingga akhir hayat.
Banyak orang rajin sembahyang ke pura-pura besar, tetapi sering lupa memberikan persembahan kepada Sang Hyang Prana atau jiwa utama, serta Nyama Papat. Akibatnya, jiwa menjadi tidak stabil, muncul rasa malas belajar, malas bekerja, hingga enggan bersembahyang. Hidup pun terasa berat: rezeki sulit datang, masalah bertubi-tubi, dan kesehatan sering terganggu.
Menurut lontar Raspati Kalpa, pengaruh saptawara (hari tujuh), pancawara (hari lima), dan wuku terhadap kelahiran manusia sangat menentukan watak dan nasib seseorang. Khusus untuk wuku Medangsia, dewa yang memayungi adalah Bhatara Brahma. Lambangnya batu hitam, pohon asem, dan burung belatuk bawang. Simbol kekayaan digambarkan sebagai gedung terkunci dan lumbung tertutup.
Secara umum, orang yang lahir di wuku Medangsia berpotensi mendapatkan rezeki baik karena sifatnya hemat dan disukai banyak orang. Mereka juga gemar menolong sesama. Namun, hati mereka cenderung keras, sulit dikendalikan, dan kurang sabar. Keinginan sering ingin segera dipenuhi, sehingga terkadang memicu konflik dengan keluarga sendiri.
Yang paling mencolok, kelahiran wuku Medangsia rawan menjadi sasaran ilmu hitam atau serangan gaib dari orang yang iri hati. Banyak di antaranya tergolong “kelahiran melik”—istilah untuk weton yang rentan gangguan gaib. Risiko kematian pun mengintai melalui kecelakaan api, senjata tajam saat berkelahi, atau serangan mistis.
Berikut ramalan lengkap berdasarkan hari pancawara saat otonan wuku Medangsia jatuh pada 7-13 Desember 2025, beserta saran upacara untuk menetralkan energi negatif:
Minggu Redite Pon, 7 Desember 2025 Orangnya suka berdiskusi dan pandai menyembunyikan perasaan. Bahaya mengintai di area persawahan. Hindari menjadi penasehat orang lain karena bisa memendekkan umur. Termasuk kelahiran melik, disarankan melaksanakan upacara oton dan melik, diruwat oleh dalang samirana, serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.
Senin Soma Wage, 8 Desember 2025 Jarang merasakan kebahagiaan sejati meski teliti dan jujur. Akan ada penyakit yang sulit disembuhkan. Saat marah, emosi sangat sulit dikendalikan. Juga tergolong kelahiran melik, perlu upacara oton-melik, ruwatan dalang samirana, serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.
Selasa Anggara Kliwon, 9 Desember 2025 Pembawaannya menarik dan murah hati, tapi sering kalut. Perempuan rawan meninggal saat melahirkan, laki-laki berisiko mati salah pati. Termasuk kelahiran melik, wajib upacara oton-melik, ruwatan dalang samirana, serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.
Rabu Buda Umanis, 10 Desember 2025 Sopan santun, hidup sederhana, adil, dan bijaksana. Sayangnya sering menjadi korban perasaan dan kesedihan mendalam. Perlu pebayuhan oton rutin untuk menetralisir karma buruk masa lalu dan utang pemanumadian, ditambah penglukatan Urip Pemanumadian serta Gangga Amerta.
Kamis Wraspati Paing, 11 Desember 2025 Cenderung acuh tak acuh tapi rukun dalam keluarga. Boros dan sering menjadi pelindung bagi orang kesusahan. Bahaya datang dari orang yang tidak senang padanya. Saran upacara sama: pebayuhan oton untuk karma dan utang manumadi, serta penglukatan Urip Pemanumadian dan Gangga Amerta.
Jumat Sukra Pon, 12 Desember 2025 Baik budi, suka bergaul, dan pendiam. Namun pikiran sering bingung, mudah bimbang, dan rentan berduka. Rawan menjadi duda atau janda. Kelahiran melik, perlu upacara oton-melik, ruwatan dalang samirana, serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.
Sabtu Saniscara Wage, 13 Desember 2025 Pendirian sangat teguh, suka membantah, dan sering terlibat pertengkaran. Banyak orang justru mengaguminya hingga memiliki pengikut setia. Risiko besar saat menikah: salah satu pasangan bisa meninggal di usia produktif. Termasuk kelahiran melik, wajib upacara oton-melik, ruwatan dalang samirana, serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.
Bagi yang lahir di wuku Medangsia atau memiliki keluarga dengan weton ini, melaksanakan upacara oton secara rutin serta penglukatan yang direkomendasikan menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan hidup dan melindungi diri dari gangguan gaib. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa menghormati jiwa dan saudara gaib adalah kunci menjalani kehidupan yang lebih tenang dan sejahtera.
***

