22/01/2026

Makna Hari Penampahan Galungan dan Tradisi Potong Babi

Diprediksi Harga Babi Sampai Rp55.000 per Kg Mendekati Galungan

Diprediksi Harga Babi Sampai Rp55.000 per Kg Mendekati Galungan/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pernah gak sih kalian betanya atau berfikir kenapa Galungan itu sangat identik dengan potong babi? Tentu bagi masyarakat Hindu khususnya di Bali potong babi saat Penampahan Galungan sangat lazim meski di beberapa tempat ada juga yang potong daging kerbau.

Hari Raya Galungan merupakan perayaan suci bagi umat Hindu di Bali, diperingati setiap enam bulan sekali pada Buda (Rabu) Kliwon Dungulan, melambangkan kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (keburukan).

Sehari sebelumnya, pada Anggara (Selasa) Wage Wuku Dungulan, umat Hindu melaksanakan Hari Penampahan, sebuah tradisi penting yang mencakup penyembelihan hewan seperti babi, kerbau atau ayam. Tradisi ini tidak hanya mempersiapkan kebutuhan upacara dan pesta, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan budaya.

Hari Penampahan: Puncak Persiapan Galungan

Hari Penampahan merupakan bagian akhir dari rangkaian upacara menjelang Galungan, setelah Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, dan Penyajan. Jatuh pada Selasa Wage Wuku Dungulan, hari ini menjadi momen krusial di mana umat Hindu mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk menyambut Galungan. Tradisi utama meliputi penyembelihan hewan seperti babi atau ayam, yang digunakan untuk sesajen yadnya dan hidangan pesta perayaan. Kegiatan ini dilakukan secara komunal di banjar atau desa, memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat Bali.

Secara spiritual, Penampahan adalah waktu untuk memperkuat ketahanan batin menghadapi godaan bhuta kala, yang diyakini berusaha mengganggu kesiapan umat untuk merayakan Galungan. Dengan fokus pada dharma, umat menjalani hari ini dengan kesadaran penuh untuk menjaga kesucian hati dan pikiran.

Makna Tradisi Potong Babi

Tradisi potong babi pada Hari Penampahan memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu Bali. Penyembelihan babi atau ayam melambangkan upaya membasmi sifat-sifat hewani dalam diri manusia, seperti sifat serakah yang diasosiasikan dengan babi atau kecerobohan yang mirip perilaku ayam. Proses ini mencerminkan pengendalian nafsu dan pembersihan batin, mempersiapkan umat untuk merayakan Galungan dengan sikap bijaksana dan penuh kesadaran spiritual.

Selain itu, umat Hindu Bali percaya bahwa hewan yang disembelih pada hari suci ini akan memperoleh kehidupan yang lebih mulia di kelahiran berikutnya, sesuai dengan konsep karma dan reinkarnasi. Penyembelihan dilakukan dengan niat suci, diiringi doa untuk kesejahteraan semua makhluk, sehingga tidak sekadar tindakan fisik tetapi juga ritual spiritual. Daging hasil penyembelihan dibagikan untuk keperluan sesajen dan hidangan, memperkuat semangat gotong royong dalam komunitas.

Natab Byakala: Penyucian Spiritual

Hari Penampahan juga melibatkan ritual natab byakala, sebuah upacara penyucian untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif bhuta kala. Ritual ini mencakup doa dan sesajen sederhana yang dihaturkan di merajan keluarga, bertujuan untuk menetralkan godaan yang dapat mengganggu kesiapan spiritual umat. Natab byakala membantu umat mencapai keseimbangan batin, memastikan mereka siap menyambut Galungan dengan jiwa yang bersih dan pikiran yang jernih.

Melalui ritual ini, umat Hindu menegaskan komitmen mereka untuk hidup sesuai dharma, menjaga harmoni dengan alam dan Tuhan. Proses penyucian ini menjadi jembatan antara persiapan fisik, seperti potong babi, dan kesiapan spiritual untuk hari suci.

Penjor dan Suguhan Leluhur

Selain potong babi dan natab byakala, Hari Penampahan diisi dengan pembuatan penjor, hiasan bambu melengkung yang dihiasi dengan daun, padi, kelapa, dan umbi-umbian. Penjor dipasang di depan rumah sebagai simbol syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia yang diberikan. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara manusia dan alam, di mana bahan-bahan alami digunakan untuk menghormati keberlimpahan yang diberikan Tuhan.

Umat juga menyiapkan suguhan leluhur, seperti nasi, lauk, buah, dan sirih pinang, untuk menyambut arwah leluhur yang dipercaya turun ke dunia selama Galungan. Persiapan ini menunjukkan keseimbangan antara dimensi spiritual dan sosial, menghubungkan umat dengan leluhur, alam, dan Tuhan.

Harmoni dengan Alam dan Tuhan

Hari Penampahan bukan hanya tentang persiapan fisik untuk pesta Galungan, tetapi juga tentang menjaga harmoni dengan alam dan Tuhan. Tradisi potong babi, natab byakala, dan pembuatan penjor mencerminkan keseimbangan antara sekala (fisik) dan niskala (spiritual). Dengan mengendalikan sifat hewani, membersihkan diri dari godaan bhuta kala, dan mengungkapkan syukur melalui penjor, umat Hindu memperkuat hubungan mereka dengan alam semesta dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tradisi ini juga menegaskan pentingnya gotong royong dalam masyarakat Bali, di mana persiapan Penampahan dilakukan bersama-sama, menciptakan suasana meriah yang menjadi ciri khas perayaan Galungan. Hari Penampahan menjadi jembatan menuju Galungan, di mana umat merayakan kemenangan kebaikan dengan hati yang suci dan penuh sukacita.

Pelestarian Tradisi Penampahan

Hari Penampahan dan tradisi potong babi tetap menjadi bagian dari budaya Hindu Bali, meskipun tantangan modernisasi terus muncul. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan nilai spiritual, tetapi juga memperkuat identitas budaya Bali yang unik. Dengan melaksanakan Penampahan, umat Hindu di Bali menjaga warisan leluhur sambil mempersiapkan diri untuk merayakan Galungan dengan penuh makna.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE