22/01/2026

Makna Hari Raya Siwaratri dan Kisah Lubdaka dalam Ajaran Hindu

apa itu siwaratri yang perlu diketahui banten dan doa siwaratri

ilustrasi Dewa Siwa oleh jewgenij_kuschnow/ Pixabay/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Siwaratri merupakan salah satu hari suci penting dalam ajaran agama Hindu yang diperingati satu kali dalam setahun, tepatnya pada setahun sekali pada purwaning tilem sasih kepitu (sehari sebelum bulan mati di bulan ketujuh kalender Bali).

Pada hari suci ini, umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa, sekaligus melakukan perenungan mendalam terhadap perjalanan hidup dan perbuatan yang telah dilakukan.

Makna Hari Raya Siwaratri

Secara etimologis, kata Siwaratri berasal dari bahasa Sanskerta, yakni Siwa dan Ratri. Kata Siwa mengandung makna kebaikan, kasih sayang, pengampunan, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, Ratri berarti malam atau kegelapan. Dengan demikian, Siwaratri dapat dimaknai sebagai malam penyucian batin, yakni proses melebur kegelapan dalam diri menuju cahaya kesadaran rohani.

Siwaratri bukan sekadar perayaan ritual, melainkan momentum spiritual untuk melakukan introspeksi diri. Umat Hindu diajak untuk merenungkan kesalahan, menilai kembali sikap dan tindakan, serta memperbaiki diri agar dapat hidup selaras dengan nilai-nilai dharma.

Dalam ajaran tatwa, Siwaratri merupakan simbol pendakian spiritual yang bertujuan untuk mencapai kesadaran tertinggi, yaitu bersatunya Atman (jiwa manusia) dengan Paramatman (Tuhan).

Kisah Lubdaka dalam Tradisi Siwaratri

Makna Siwaratri semakin kuat melalui kisah Lubdaka, sebuah cerita yang ditulis oleh Mpu Tanakung dan menjadi bagian penting dalam perayaan hari suci ini. Lubdaka dikisahkan sebagai seorang kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dari berburu binatang di hutan.

Pekerjaan tersebut membuatnya sering melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai kesucian hidup.

Suatu hari, Lubdaka mengalami nasib kurang baik. Seharian berburu, ia tidak mendapatkan satu pun hasil. Tanpa disadarinya, hari telah beranjak malam dan kegelapan hutan membuatnya tidak mampu menemukan jalan pulang.

Demi keselamatan diri, ia memutuskan untuk bermalam di hutan dengan memanjat sebuah pohon bila yang besar. Di bawah pohon tersebut terdapat sebuah telaga dan sebuah pelinggih berupa lingga sebagai simbol Dewa Siwa.

Untuk menjaga dirinya agar tetap terjaga dan tidak terjatuh saat tertidur, Lubdaka memetik daun-daun dari pohon bila satu per satu dan menjatuhkannya ke bawah. Tanpa ia sadari, daun-daun tersebut jatuh tepat mengenai lingga Siwa.

Sepanjang malam itu, Lubdaka berjaga sambil menahan lapar dan haus, serta tenggelam dalam perenungan atas segala perbuatan yang telah ia lakukan selama hidupnya.

Dalam keheningan malam, tumbuh kesadaran dalam diri Lubdaka. Ia menyesali pekerjaannya sebagai pemburu dan bertekad untuk meninggalkan pekerjaan tersebut demi menjalani kehidupan yang lebih baik dan tidak menyakiti makhluk hidup lainnya. Meskipun tanpa niat ritual, Lubdaka sejatinya telah menjalankan inti dari laku spiritual Siwaratri melalui kesadaran, penyesalan, dan ketulusan hati.

Siwaratri: Malam Perenungan, Bukan Sekadar Peleburan Dosa

Sering kali Siwaratri dipahami sebagai hari peleburan dosa. Namun, pemahaman tersebut sesungguhnya perlu diluruskan. Siwaratri bukanlah malam untuk menghapus dosa secara instan, melainkan malam perenungan dosa yang bertujuan membangkitkan kesadaran diri.

Pengampunan bukan datang dari ritual semata, tetapi dari perubahan sikap dan komitmen untuk hidup lebih baik.

Secara filosofis, Siwaratri mengajarkan bahwa jalan menuju kesucian ditempuh melalui pengendalian diri, kejujuran batin, dan kesungguhan dalam memperbaiki diri. Kisah Lubdaka menjadi bukti bahwa ketulusan dan kesadaran batin memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di hadapan Dewa Siwa.

Hari Raya Siwaratri mengandung ajaran universal tentang introspeksi, pertobatan, dan transformasi diri. Melalui perenungan mendalam dan pengendalian diri, umat Hindu diajak untuk keluar dari kegelapan batin menuju cahaya kebijaksanaan.

Kisah Lubdaka mengingatkan bahwa setiap manusia, apa pun latar belakangnya, selalu memiliki kesempatan untuk berubah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sebagai salah satu hari suci yang dirayakan secara luas di Bali, Siwaratri juga menjadi bagian dari kekayaan tradisi spiritual yang sarat makna dan nilai kehidupan.

Perayaan ini tidak hanya memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk kesadaran untuk hidup lebih harmonis dengan sesama dan alam semesta.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE