22/01/2026

Mengenal Wuku Warigadian: Pengaruh Spiritual pada Kelahiran dan Kehidupan

menggendong bayi mimiliki arti yang cukup beragam

ilustrasi menggending bayi/ gabdullinayuka/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM –  Siklus waktu dalam kalender Bali yang memengaruhi sifat dan nasib seseorang sejak lahir. Wuku Warigadian, misalnya, sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual kuat yang bisa membawa tantangan sekaligus peluang. Bagi masyarakat Bali, memahami pengaruh ini bukan sekadar pengetahuan, melainkan kunci untuk menjaga harmoni jiwa dan raga.

Otonan, upacara peringatan kelahiran berdasarkan wuku, memegang peran sentral dalam menjaga keseimbangan tersebut. Melalui otonan, manusia menghormati jiwa yang bereinkarnasi dalam tubuhnya serta entitas pendamping seperti Nyama Papat—empat saudara gaib yang menjaga kehidupan sehari-hari.

Tanpa persembahan yang layak, jiwa bisa menjadi gelisah, memicu kemalasan dalam belajar, bekerja, atau bahkan beribadah. Bayangkan saja, Nyama Papat yang setia menemani dari lahir hingga akhir hayat, tapi tak pernah mendapat bagian dari kemakmuran kita. Akibatnya, hidup terasa berat, rezeki sulit mengalir, dan masalah kesehatan serta emosional sering muncul.

Menurut lontar Raspati Kalpa, sebuah naskah kuno Bali, pengaruh saptawara (minggu tujuh hari), pancawara (minggu lima hari), dan wuku membentuk karakter manusia. Khusus untuk Wuku Warigadian, dewa pelindungnya adalah Betara Maharesi, dengan pengawak berupa gandarwa. Elemen alam seperti kayu ancak dan cemara, burung drakuku kesturi, serta binatang gajah menjadi simbolnya. Lintang marga (bintang jalan) dan pesimpangan gedung tertutup juga mewarnai pengaruhnya.

Sifat orang yang lahir di wuku ini cenderung ekspresif dan menarik. Bicara mereka ramai, manis, serta berwibawa, sehingga perintahnya sering diindahkan. Mereka giat dalam mencari nafkah, kuat kemauan, dan bersemangat. Namun, tantangannya tak kalah besar: sulit merendahkan hati, jarang merasa bahagia sepenuhnya, dan kekurangan harta bisa menjadi beban. Jika keinginan tak tercapai, depresi atau putus asa mudah datang. Bahkan, kematian mereka sering dikaitkan dengan patah hati, kemarahan, atau konflik seperti perceraian. Mereka gemar berdagang, tapi memberi dengan setengah hati.

Pengaruh wuku ini semakin spesifik tergantung hari otonan jatuh. Berikut rinciannya berdasarkan lontar:

  • Redite Umanis Warigadian: Watak keras hati, suka mendua, dan gemar berdebat. Sulit menerima nasihat orang lain. Termasuk kelahiran melik, sehingga wajib diruwat oleh dalang samirana dengan penglukatan Asta Pungku, Sudhamala, serta Gangga Amerta.
  • Soma Paing Warigadian: Bisa kaya mendadak, tapi juga miskin seketika. Pernikahan berisiko kehilangan pasangan, tapi jika melewati usia 50 tahun, umur panjang dan bahagia menanti. Juga kelahiran melik, butuh ruwatan dalang samirana serta penglukatan serupa.
  • Anggara Pon Warigadian: Berjiwa kesatria, disukai banyak orang, cocok jadi prajurit, dan sangat dermawan. Namun, mudah cemburu dan sensitif, hingga hidup penuh kekecewaan. Saran: Lakukan pebayuhan otonan dengan penglukatan Urip Pemanumadian dan Gangga Amerta.
  • Buda Wage Warigadian : Hidup bahagia, tapi rawan cinta segitiga atau poligami. Penampilan menarik, pintar, meski agak pelit. Lakukan pebayuhan otonan dengan penglukatan Urip Pemanumadian dan Gangga Amerta.
  • Wraspati Kliwon Warigadian: Sukacita dan duka seimbang, berbakat sastra, hati bersih. Sayang, mudah tersinggung hingga hidup tak stabil. Kelahiran melik, wajib ruwatan dalang samirana serta penglukatan Asta Pungku, Sudhamala, dan Gangga Amerta. Jika otonan jatuh pada Kajeng Kliwon, pebayuhan diperlukan untuk menghindari apremade dewa.
  • Sukra Umanis Warigadian: Boros, marah saat dinasihati, sering kehilangan, dan sulit sukses. Sulit memaafkan, teman tak bertahan lama, serta sering kecewa. Lakukan pebayuhan otonan dengan penglukatan Urip Pemanumadian dan Gangga Amerta.
  • Saniscara Paing Warigadian: Giat berusaha, suka diskusi, tapi tak suka disaingi dan gemar menyombongkan diri. Lakukan pebayuhan otonan dengan penglukatan Urip Pemanumadian dan Gangga Amerta.

Tak hanya itu, Wuku Warigadian termasuk dalam pawetonan yang “disusupi” kekuatan Rangda Tiga—sebuah pengaruh spiritual dari wuku tertentu seperti Menail, Prangbakat, Warigadian, Pujut, Wariga, dan Pahang. Kelahiran Rangda Tiga sering membawa “panes” atau panas spiritual, seperti masalah rumah tangga, sakit kronis, emosi labil, perceraian, rezeki tersendat, hingga ditinggal pasangan. Dalam kasus ekstrem, orang tersebut bisa mengalami kegilaan atau penglihatan aneh karena kekuatan Rangda bersemayam di jiwa.

Solusinya? Ruwatan dan penglukatan menjadi langkah utama untuk membersihkan pengaruh negatif. Tradisi ini mengajarkan bahwa menghormati warisan spiritual bukan hanya ritual, tapi cara nyata menjaga kesejahteraan. Bagi yang lahir di wuku ini, memahami dan bertindak bisa mengubah tantangan menjadi kekuatan.

***

 

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE