22/01/2026

Menyelami Kesucian Pujawali Jelih Nadi di Pura Dang Kahyangan Petitenget, Momentum Menjaga Keselarasan, Warga Tak Boleh Ngaben

Menyelami Kesucian Pujawali Jelih Nadi di Pura Dang Kahyangan Petitenget, Momentum Menjaga Keselarasan, Warga Tak Boleh Ngaben

Menyelami Kesucian Pujawali Jelih Nadi di Pura Dang Kahyangan Petitenget, Momentum Menjaga Keselarasan, Warga Tak Boleh Ngaben/ balikonten

BADUNG, BALIKONTEN.COM – Pura Dang Kahyangan Petitenget, yang berdiri kokoh di pesisir pantai Kerobokan, Badung, bukan sekadar destinasi wisata religi.

Pada Buda Wage Merakih, Rabu (7/1/2026), pura ini kembali menjadi pusat spiritualitas melalui upacara Pujawali Jelih Nadi. Di balik kemegahannya, pura ini menyimpan fragmen sejarah besar dan aturan adat yang unik yang tetap dijaga hingga hari ini.
Jejak Sejarah: Peti yang Keramat
Sejarah Pura Petitenget tak lepas dari perjalanan suci Dhang Hyang Nirartha (Ida Peranda Sakti Wawu Rauh) pada abad ke-16. Konon, sebelum melanjutkan perjalanannya ke Pura Uluwatu, beliau meninggalkan sebuah kotak persembahyangan (Peti) di kawasan semak belukar kepada asisten setianya yang bernama Bhuta Ijo.
Kata “Petitenget” berasal dari dua kata: “Peti” (kotak persembahyangan) dan “Tenget” (keramat/angker). Nama ini merujuk pada kesaktian Bhuta Ijo yang menjaga peti tersebut hingga siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin ke wilayah itu akan jatuh sakit.
Untuk menetralisir kekeramatan tersebut dan sebagai bentuk penghormatan, dibangunlah sebuah pelinggih yang kini kita kenal sebagai Pura Dang Kahyangan Petitenget.
Keunikan Tradisi: Pantangan Ngaben Jadi Penghormatan
Salah satu nilai paling unik yang menjadikannya berbeda dari banyak pura lain di Bali adalah aturan mengenai kesucian wilayah selama upacara berlangsung.
Pantangan Atiwa-tiwa (Ngaben): Berdasarkan Purana Pura, selama Ida Bhatara malinggih atau berstana (6–10 Januari 2026), krama Desa Adat Kerobokan dilarang keras melaksanakan upacara kematian atau penguburan di Pura Dalem setempat. Hal ini merupakan bentuk kepatuhan total krama untuk menjaga getaran spiritual pura agar tetap murni.

Pura Dang Kahyangan: Statusnya sebagai Pura Dang Kahyangan menandakan bahwa pura ini adalah tempat pemujaan bagi guru suci (Acarya) dan bersifat umum bagi seluruh umat Hindu, bukan hanya milik satu klan atau desa tertentu.
Rangkaian Ritual & Tingkatan Upakara 2026
Tingkatan upacara kali ini adalah Jelih Nadi dengan sarana utama Bebangkit Pregembal. Sebuah ritual megah yang bertujuan memohon keseimbangan alam dan keselamatan jagat.
Jadwal Puncak Pujawali (Rabu, 7 Januari 2026). Dimulai pukul 08.00 – 10.00 wita, yaitu prosesi Tirta Tedun dan Pasamuan Lelengisan. Pukul 13.00 wita Puncak pemujaan dipuput oleh Ida Ratu Perande Putra Telaga Griya Sanur. Pukul 14.30 – 15.30 wita, persembahyangan bersama umat, Majaya-jaya pengurus pura, hingga Paecan-ecan Ida Bhatara.
Panduan Bagi Umat Tangkil
Untuk menjaga kenyamanan bersembahyang, umat yang hendak menghaturkan bakti diimbau memperhatikan hal berikut:
Waktu Terbaik: Disarankan hadir lebih awal (pukul 07.00 WITA) untuk menghindari antrean panjang.
Masa Nyejer: Ida Bhatara akan tetap berstana dari tanggal 8 hingga 10 Januari 2026. Ini adalah waktu alternatif bagi umat untuk tangkil dengan suasana yang lebih tenang.
Penyineban: Rangkaian upacara akan ditutup pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 16.30 wita.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE