Perang Tipat Bantal: Tradisi Unik Desa Kapal Bali yang Sarat Makna Sejak Zaman Patih Kebo Iwa

ilustrasi Perang Tipat Bantal di Mengwi Badung/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Purnama Kapat, Desa Kapal menggelar sebuah tradisi unik yang namanya Perang Tipat Bantal. Bahkan grup band XXX Bali membuatkan sebuah lagu yang diberi judul Tabu Rah Pengangon.
Tradisi unik ini tepatnya dilaksanakan di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, yaitu Perang Tipat Bantal, atau dikenal juga sebagai Aci Tabuh Rah Pengangon. Setiap tahun, pada Purnama Kapat sesuai kalender Bali, ribuan warga dan wisatawan berkumpul di depan Pura Desa lan Puseh untuk merayakan ritual yang penuh tawa, makna, dan solidaritas.
Bayangkan, dua kelompok besar, dari anak-anak hingga lansia, saling melempar tipat (ketupat nasi) dan bantal (lontong ketan) yang dibungkus daun kelapa. Ini bukan perang sungguhan, melainkan perayaan syukur atas panen melimpah, kesejahteraan, dan perlindungan dari bencana. Tradisi ini bukan hanya soal keseruan, tetapi juga membawa nilai filosofis dan sejarah yang dalam, menjadikannya salah satu warisan budaya Bali yang wajib dijaga.
Akar Sejarah: Kisah Patih Kebo Iwa di Tahun 1339
Perang Tipat Bantal bukanlah tradisi sembarangan. Menurut Bendesa Adat Desa Kapal, I Ketut Sudarsana, ritual ini bermula pada tahun 1339 Masehi, saat Patih Kebo Iwa dari Blahbatuh diutus Raja Bali, Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, untuk merestorasi Pura Purusada di Desa Kapal. Saat tiba, Kebo Iwa mendapati desa dilanda paceklik—gagal panen yang membuat warga kesulitan hidup karena ketergantungan pada hasil bumi.
Merasa iba, Kebo Iwa melakukan semadi di pura, memohon petunjuk dari Bhatara Siwa. Jawaban datang dari angkasa, laksanakan upacara Aci Tabuh Rah Pengangon. Sejak saat itu, ritual ini menjadi tradisi tahunan yang wajib dilaksanakan, dan hingga 2024, sudah digelar sebanyak 685 kali. Sudarsana menjelaskan, “Aci berarti persembahan, Tabuh artinya turun, Rah adalah sumber kehidupan, dan Pengangon merujuk pada Bhatara Siwa. Ini adalah permohonan agar sumber kehidupan diturunkan untuk kemakmuran desa.”
Konon, Kebo Iwa juga meninggalkan bhisama (kutukan suci) bahwa jika tradisi ini ditinggalkan, paceklik akan kembali melanda. Inilah yang membuat warga Desa Kapal begitu setia menjaga ritual ini, bahkan di era modern.
Makna Filosofis: Pertemuan Purusa dan Pradana
Keunikan Perang Tipat Bantal terletak pada simbolisme yang kaya. Tipat, nasi yang dibungkus daun kelapa, melambangkan pradana (energi feminin), sedangkan bantal, ketan dalam bungkus serupa, merepresentasikan purusa (energi maskulin). Saat keduanya dilempar dan bertemu, ini melambangkan harmoni yang menciptakan kehidupan baru, yakni sumber pangan, energi, dan kemakmuran.
Pelaksanaan yang Meriah dan Penuh Persiapan
Persiapan Perang Tipat Bantal dimulai jauh-jauh hari. Warga desa bahu-membahu membuat ribuan tipat dan bantal, yang kemudian digunakan dalam ritual. Acara diawali dengan sembahyang bersama, dipimpin pemangku adat yang memercikkan air suci untuk keselamatan. Jalan raya Denpasar-Gilimanuk pun ditutup sementara demi kelancaran acara, menunjukkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya.
Puncak ritual adalah “perang” itu sendiri. Tawa, jeritan gembira, dan aroma ketan memenuhi udara saat tipat dan bantal beterbangan. Meski terlihat kacau, semuanya berlangsung aman dan penuh hormat. Selain itu, partisipasi wisatawan semakin ramai, termasuk turis asing yang antusias ikut serta.
Lebih dari Ritual: Solidaritas dan Ekonomi Lokal
Perang Tipat Bantal bukan hanya soal spiritualitas. Tradisi ini mempererat solidaritas antarwarga dan banjar di Desa Kapal. Selain itu, UMKM lokal turut berkembang, dari penjual tipat-bantal hingga souvenir budaya.
Acara ini juga menjadi magnet wisata, mengundang pengunjung untuk merasakan Bali yang autentik. Uniknya lagi, sejak 2019 Perang Tipat Bantal diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Pengakuan ini memperkuat posisinya sebagai daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan.
***

