Purnama Kanem: Hari Penyucian Diri Lahir Batin dan Waktu Terbaik untuk Sedekah

ilustrasi banten/badungkab.go.id/balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Purnama Kanem, hari suci yang jatuh pada bulan keenam menurut penanggalan Bali. Purnama ini bukan sekadar fenomena bulan penuh, melainkan waktu khusus untuk menyucikan diri lahir batin sekaligus melakukan dana punia atau sedekah tanpa pamrih.
Dalam tradisi Bali, purnama disebut juga sukla paksa, yaitu saat bulan bersinar sempurna. Lontar Sundarigama dengan tegas menyebut purnama sebagai payogan Sang Hyang Candra, tempat Dewa Bulan bersemayam dan beryoga. Sebaliknya, saat tilem (bulan mati) menjadi payogan Sang Hyang Surya.
“Purnama dan tilem adalah hari penyucian bagi Sang Hyang Rwa Bhineda, yaitu Surya dan Candra sekaligus,” demikian bunyi petikan lontar Sundarigama yang masih sering dikutip para sulinggih dan pemangku.
Karena itulah, pada hari purnama setiap warga Hindu Bali dianjurkan membersihkan diri secara fisik maupun batin. Caranya dengan mempersembahkan banten canang wangi-wangi dan canang nyasa kepada para dewa di sanggah kemulan serta merajan keluarga, kemudian dilanjutkan memohon tirtha (air suci) untuk penyucian.
Lontar Sundarigama kembali menegaskan: purohita maupun umat biasa wajib menghaturkan wangi-wangi dan canang nyasa kepada semua dewa, lalu melaksanakan upacara matirtha gocara dengan bunga harum.
Sedekah Tanpa Mengharap Balasan
Selain penyucian diri, purnama juga menjadi hari istimewa untuk melaksanakan dana punia. Sarasamuscaya sloka 170 menjelaskan bahwa sedekah sejati lahir dari sifat tidak iri hati dan keteguhan menjalankan dharma. Orang yang terus-menerus bersedekah akan selalu mendapat keselamatan, pahalanya setara dengan amal yang berlipat ganda.
Namun, para rsi dan pandita masa kini menekankan sedekah terbaik justru yang dilakukan tanpa memikirkan pahala. “Laksanakan saja, ada phala atau tidak, tetap laksanakan,” ujar salah seorang rsi saat dimintai keterangan.
Pandangan ini selaras dengan ajaran Bhagawad Gita XVII.25 yang menyebutkan bahwa yajna, tapa, dan berbagai bentuk dana punia yang dilakukan dengan ucapan “Tat” (persembahan kepada Tuhan) serta tanpa mengharapkan hasil, akan membawa pelakunya menuju moksa.
Makna Purnama Kanem bagi Kehidupan Sehari-hari
Bagi masyarakat Bali, Purnama Kanem bukan hanya ritual rutin, tetapi pengingat kuat untuk selalu membersihkan hati dan berbagi kepada sesama. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tradisi ini tetap dijaga turun-temurun sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi dan leluhur.
Saat bulan purnama kembali menerangi langit Bali bulan ini, ribuan canang sari dan sesaji lainnya akan menghiasi sanggah rumah tangga, pura kahyangan, sekaligus menjadi bukti bahwa nilai-nilai penyucian diri dan kedermawanan tetap hidup di tengah masyarakat Bali hingga kini.
Purnama Kanem, hari baik untuk memulai lembaran baru yang lebih bersih dan penuh welas asih.
***

