22/01/2026

Setia dan Imannya Kuat, Begini Karakter Kelahiran Wuku Medangkungan

bayi kelahiran soma pon memiliki karakter yang kuta

ilustrasi bayi/ katerinakucherenko/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam kearifan lokal Bali, otonan bukan sekadar penanda usia berdasarkan kalender pawukon. Lebih dari itu, otonan dipahami sebagai momen penting untuk menjaga keseimbangan hidup manusia, baik secara sekala (lahiriah) maupun niskala (batiniah).

Melalui upacara otonan, manusia menghaturkan bakti kepada jiwa yang kembali menjelma, sekaligus menyelaraskan hubungan dengan Nyama Papat—empat saudara spiritual yang dipercaya setia mendampingi sejak kelahiran hingga akhir hayat.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang tekun bersembahyang ke pura, tetapi luput memberi perhatian kepada Sang Hyang Paraning Jiwa. Ketimpangan ini, menurut kepercayaan tradisi Bali, dapat memicu kegelisahan batin.

Tanda-tandanya beragam: mudah lelah, kehilangan semangat bekerja dan belajar, malas sembahyang, hingga perasaan hidup yang terasa berat tanpa sebab jelas.

Hal serupa juga diyakini berlaku pada Nyama Papat. Unsur spiritual ini dipercaya menjaga keselamatan, rejeki, dan ketenangan hidup. Ketika manusia lalai memberi penghormatan melalui otonan dan upacara penyelarasan, gangguan sekala maupun niskala kerap muncul. Rejeki terasa seret, kesehatan menurun, dan masalah datang silih berganti.

Gambaran Umum Kelahiran Wuku Medangkungan

Merujuk Wacakan Lontar Raspati Kalpa, seseorang yang lahir pada Wuku Medangkungan berada dalam pengaruh unsur-unsur berikut:

  • Dewa: Betara Basuki
  • Pengawak: Sang Mandala
  • Kayu: Kroya dan Pelasa
  • Burung: Kepudang dan Pelung
  • Binatang: Menjangan
  • Lintang: Kedi
  • Pesimpenan: Gedung tertutup
  • Rejeki: Lumbung tergolong cukup

Dari sisi karakter, kelahiran Wuku Medangkungan dikenal setia, berhati bersih, memiliki iman kuat, dan gemar menanamkan nilai Dharma Sewaka. Mereka cakap berbicara dan pandai bergaul, meski kerap mudah diperdaya. Sikapnya cenderung hati-hati, bersyukur, serta sangat memperhatikan harta benda. Namun di balik itu, daya pikir yang lambat dan kecerobohan tertentu berpotensi memicu masalah sosial. Dalam catatan lontar, kelahiran ini juga dikaitkan dengan risiko desti atau kiriman energi negatif dari musuh.

Otonan Redite Kliwon Wuku Medangkungan – 18 Januari 2026

Otonan yang jatuh pada Minggu, 18 Januari 2026, memiliki catatan khusus. Wacakan Raspati Kalpa menggambarkan sosok yang pendiam, sulit diajak bermusyawarah, namun dikenal sabar dan sopan dalam bersikap. Tantangan terbesarnya adalah kecenderungan memendam beban batin hingga menyiksa diri sendiri secara emosional.

Ada peringatan penting bagi kelahiran ini untuk menjauhi dunia perjudian karena berpotensi merusak tatanan hidup. Dalam kehidupan rumah tangga, ujian berat kerap datang terkait keturunan.

Kelahiran ini tergolong melik, sehingga dianjurkan menjalani ruwatan Dalang Samirana serta penglukatan Asta Pungku, Sudamala, dan Gangga Amerta.

Karena otonan bertepatan dengan Tilem, pebayuhan sangat disarankan agar terhindar dari apramade dewa.

Karakter Kelahiran Berdasarkan Hari di Wuku Medangkungan

Soma Umanis
Berjiwa dermawan, ramah, dan gemar merantau. Namun sering terlalu jauh mencampuri urusan orang lain. Pebayuhan oton dan penglukatan Urip Pemanumadian serta Gangga Amerta dianjurkan untuk menjaga keseimbangan hidup.

Anggara Paing
Rejeki relatif lancar dan mudah disukai lingkungan. Di sisi lain, sifat pemarah dan kemalasan kerap menjadi penghambat. Pebayuhan oton menjadi sarana penting untuk menetralkan energi negatifnya.

Buda Pon
Tekun, menyukai pujian, dan memiliki peluang besar untuk hidup berkecukupan. Termasuk kelahiran Kesenengin Desti dan melik, sehingga ruwatan Dalang Samirana dan penglukatan utama sangat dianjurkan.

Wraspati Wage
Cerdas dan rajin belajar, tetapi keras kepala dan mudah tersinggung. Kehidupan batinnya sering diliputi penderitaan emosional. Pebayuhan oton menjadi kunci menjaga keharmonisan hidupnya.

Sukra Kliwon
Berperilaku sopan, serba bisa, dan memiliki potensi kepemimpinan. Masa muda cenderung penuh keterbatasan, namun kehidupan akan membaik di usia tua jika mampu mengendalikan diri.

Saniscara Umanis
Berjiwa ksatria dan pemaaf, namun kerap difitnah dan dijadikan kambing hitam. Termasuk kelahiran Melik Durga, sehingga ruwatan Dalang Samirana dan penglukatan utama sangat dianjurkan.

Penutup

Kelahiran Wuku Medangkungan menyimpan potensi besar sekaligus tantangan spiritual yang tidak ringan. Melalui pemahaman makna otonan, pelaksanaan pebayuhan, serta ruwatan yang tepat, keseimbangan hidup sekala dan niskala diyakini dapat terjaga.

Dalam tradisi Bali, keharmonisan batin bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama menuju kehidupan yang tenteram, sejahtera, dan bermakna.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE