22/01/2026

Tilem Kalima: Saat Umat Hindu Bali Justru Memuliakan Kegelapan Paling Pejam

doa dan mantram hindu yang digunakan saat purnama tilem

ilustrasi banten/badungkab.go.id/balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari ini umat Hindu melaksanakan Tilem Sasih Kelima sekaligus rahinan Umanis Galungan.

ketika bulan benar-benar gelap tanpa sinar sama sekali, umat Hindu di Bali tidak larut dalam kesunyian kosong. Mereka justru merayakan Tilem Kalima — hari raya yang memuliakan kegelapan paling dalam sebagai wujud Dewa Siwa itu sendiri.

Berbeda dengan Purnama yang selalu dirayakan dengan cahaya terang dan upacara meriah, Tilem sering dipahami sebagai “hari mati” atau waktu yang sepi.

Namun dalam tradisi Bali, gelap pada Tilem Kalima justru mendapat penghormatan setara, bahkan lebih dalam maknanya.

“Di dalam matahari ada suci, di dalam suci ada Siwa, di dalam Siwa ada gelap yang paling gelap,” jelas Putu Eka Guna Yasa, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Filosofi ini tercantum dalam teks Jnyana Sidantha dan menjadi dasar mengapa Tilem mendapat pemuliaan khusus.

Bukti nyata tradisi ini masih hidup kuat di Pura Penileman, Bangli. Setiap Tilem, ratusan umat datang untuk memuja Siwa dalam wujud kegelapan. “Di sana ada arca Dewa Gana, putra Siwa, sebagai saksi bahwa masyarakat dulu meminta taksu dan pengidep pati kepada Beliau yang bersemayam dalam gelap,” tambah Guna Yasa.

Pandangan serupa dikemukakan IBM Dharma Palguna dalam bukunya Sekarura. Ia menulis bahwa para Guru Kehidupan sekaligus Guru Kematian mengajarkan kita untuk menghormati gelap tidak kalah dari terang. Bahkan, Mpu Tan Akung membela kegelapan dengan tegas: “Gelap tidak perlu diusir dengan lampu buatan. Masukilah ia, susupilah, leburkan diri di dalamnya — atau masukkan gelap itu ke dalam dirimu sendiri.”

Ritual Inti Tilem Kalima: Membersihkan Diri di Tengah Malam

Lontar Sundarigama secara tegas menyebutkan kewajiban umat pada Tilem: menghilangkan segala dosa, noda, dan kekotoran batin serta jasmani.

Caranya?

  • Menghaturkan wangi-wangian (dupa, kembang rampai) di sanggah/parhyangan kemulan dan di atas tempat tidur sebagai persembahan kepada widyadari-widyadara.
  • Lebih utama lagi jika menyertakan sesayut widyadari khusus, sambil memohon kelancaran dan ketepatan dalam segala pekerjaan sehari-hari.
  • Puncak ritual dilakukan tengah malam dengan yoga semedi atau tirta kamandalu — hening total, menyatu dengan kegelapan.

Hasilnya, menurut lontar: semua papa pataka, letuh, dan kekotoran dalam tubuh serta pikiran akan terlukat (terbersihkan) secara sempurna.

Jadi, Tilem Kalima bukan hari untuk ditakuti atau dihindari. Ia adalah undangan sakral untuk masuk ke dalam kegelapan paling pejam — tempat Dewa Siwa bersemayam — lalu keluar darinya dengan jiwa yang jauh lebih bersih dan terang dari sebelumnya.

Dalam lontar Sundarigama juga disebutkan.

Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, turakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring sanggar parhyangan, mwang ring luhur ing aturu, pujakna ring widyadari widyadara, sabhagyan pwa yanana wehana sasayut widyadari 1, minta nugraha ri kawyajnana ning saraja karya, ngastriyana ring pantaraning ratri, yoga meneng, phalanya lukat papa pataka letuh ning sarira.

Artinya:

Pada saat Tilem, wajib menghilangkan segala bentuk dosa, noda, dan kekotoran dalam diri.

Dengan menghaturkan wangi-wangian di Sanggar atau di parahyangan, dan di atas tempat tidur, yang dipersembahkan kepada bidadari dan bidadara.

Akan lebih baik jika mempersembahkan 1 buah sesayut widyadari untuk memohon anugerah agar terampil dalam melaksanakan segala aktivitas.

Di Bali, bahkan kegelapan paling gelap pun dirayakan. Karena di sana, tepat di pusatnya, ada Cahaya yang tak pernah padam.

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE