Tradisi Pasca-Galungan dan Kuningan dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Ilustrasi Penjor Galungan/ Philippe HELLOIN / Flicker/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pasca-Galungan merujuk pada periode setelah Hari Raya Galungan, yang berlangsung selama sepuluh hari hingga mencapai puncaknya pada Hari Raya Kuningan. Dalam kalender Pawukon Bali, Galungan jatuh pada Buda Kliwon Dungulan, sementara Kuningan pada Saniscara Kliwon Kuningan, dengan siklus setiap 210 hari.
Periode ini menjadi momen penting bagi umat Hindu di Bali untuk terus menghormati roh leluhur yang dipercaya masih berada di bumi setelah turun pada Galungan. Tradisi-tradisi yang dilakukan selama masa ini tidak hanya memperkaya kehidupan spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan budaya masyarakat Bali.
Makna Pasca-Galungan dan Kuningan
Periode pasca-Galungan dimaknai sebagai waktu di mana energi spiritual mencapai klimaksnya, terutama pada Kuningan yang jatuh sepuluh hari setelah Galungan. Pada hari ini, roh leluhur dan dewa-dewa dipercaya kembali ke alam asalnya setelah mengunjungi dunia manusia. Hal ini melambangkan keseimbangan antara purusa (energi maskulin) dan pradana (energi feminin), yang menghasilkan kehidupan baru dan harmoni alam semesta. Umat Hindu menggunakan kesempatan ini untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan tuntunan lahir batin dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, masa ini mengingatkan manusia untuk terus mengendalikan nafsu-nafsu negatif seperti keserakahan dan kemarahan, sebagaimana yang telah dimulai pada Galungan.
Khusus pada Kuningan, energi alam bangkit dari pagi hingga mencapai puncak pada siang hari, sekitar pukul 12.00. Ini menjadi saat untuk bersyukur atas ciptaan Tuhan dan memperoleh pengetahuan dharma yang lebih dalam. Tradisi pasca-Galungan juga menekankan refleksi diri, di mana umat diharapkan membersihkan batin dan mempererat hubungan dengan leluhur serta sesama.
Tradisi Pelaksanaan Pasca-Galungan di Bali
Selama periode pasca-Galungan, masyarakat Bali melanjutkan berbagai ritual yang telah dimulai sebelumnya, dengan penekanan pada penghormatan leluhur dan penolakan energi negatif. Berikut beberapa tradisi utama yang dilakukan, yang mencerminkan kekayaan budaya Bali:
- Ngejot: Berbagi Makanan dengan Sesama
Tradisi ngejot tetap berlanjut setelah Galungan, di mana umat Hindu membagikan makanan dari sesajen yang telah dipersembahkan di pura atau rumah. Makanan ini dibagikan tidak hanya kepada sesama umat Hindu, tetapi juga kepada tetangga dari agama lain, sebagai simbol kebersamaan dan toleransi. Biasanya, hidangan seperti lawar, sate, atau jajan tradisional menjadi bagian dari pembagian ini, yang dilakukan pada hari-hari seperti Manis Galungan atau menjelang Kuningan.
- Ngelawang Barong: Prosesi Penolak Bala
Ngelawang melibatkan pengarakkan barong atau rangda keliling desa untuk menetralisir kekuatan negatif. Tradisi ini dilakukan beberapa kali selama periode Galungan hingga Kuningan, termasuk pada Manis Galungan, Penampahan Kuningan, dan Manis Kuningan. Di Desa Adat Tegal, Kabupaten Badung, prosesi ini berlangsung dari siang hingga sore hari, diiringi musik gamelan, dan bertujuan menjaga desa dari kemalangan.
- Memunjung: Persembahan untuk Leluhur di Kuburan
Memunjung adalah ritual menghaturkan makanan favorit almarhum ke kuburan, dilakukan pada Galungan atau Kuningan. Keluarga membawa hidangan dan meletakkannya di atas makam, dengan keyakinan bahwa roh leluhur yang belum melalui upacara ngaben masih berada di sana. Tradisi ini memperkuat ikatan emosional dengan leluhur dan menjadi bagian dari penghormatan selama kunjungan roh di bumi.
- Ngerebeg: Prosesi Sakral untuk Netralisir Energi Negatif
Di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, tradisi Ngerebeg dilakukan pada Kuningan, di mana barong diarak keliling desa diikuti warga. Tujuannya adalah menetralkan energi negatif dan mencegah wabah atau kemalangan. Selain nilai spiritual, tradisi ini memiliki makna sosial yang mendalam, seperti mempererat persaudaraan antarwarga melalui partisipasi bersama.
- Mesuryak: Upacara Perpisahan Leluhur dengan Sukacita
Mesuryak, yang dilakukan di Kabupaten Tabanan pada Kuningan, melibatkan persembahyangan bersama diikuti melempar uang ke atas di depan gerbang rumah. Warga berebut uang tersebut sambil bersorak, sebagai simbol bekal gembira bagi roh leluhur yang kembali ke surga. Tradisi ini menandai akhir periode kunjungan leluhur dan dilakukan setiap enam bulan sekali.
- Nasi Sodan: Sesajen Khas Kuningan
Pada Kuningan, umat hindu menghaturkan nasi sodan berwarna kuning yang dibentuk khusus, melambangkan pertemuan purusa dan pradana untuk menciptakan kehidupan baru. Sesajen ini disertai hiasan seperti tamiang dan endongan, yang menjadi simbol perlindungan spiritual. Ritual ini dilakukan hingga siang hari, sesuai keyakinan bahwa roh leluhur hanya berada hingga waktu itu.
Tradisi pasca-Galungan ini tidak hanya menjaga warisan budaya Bali, tetapi juga menjadi sarana pendidikan spiritual bagi generasi muda. Melalui rangkaian ritual tersebut, masyarakat Bali terus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan yang ilahi.
***

