05/11/2026

Workshop Badung Caka Fest 2027, Tetapkan 9 Zona Kompetisi dan Wajibkan Undagi Lokal demi Berdayakan Sekaa Teruna

Workshop Badung Caka Fest 2027, Tetapkan 9 Zona Kompetisi dan Wajibkan Undagi Lokal demi Berdayakan Sekaa Teruna

Workshop Badung Caka Fest 2027, Tetapkan 9 Zona Kompetisi dan Wajibkan Undagi Lokal demi Berdayakan Sekaa Teruna/ balikonten

BADUNG, BALIKONTEN.COM — Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung bersama Pasikian Yowana Kabupaten Badung menggelar rangkaian workshop Badung Caka Fest 2027.

Sosialisasi dan penyamaan persepsi ini dilaksanakan secara maraton di seluruh kecamatan se-Kabupaten Badung, salah satunya bertempat di Kantor Perbekel Gulingan, Kecamatan Mengwi, pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah untuk memastikan para Sekaa Teruna dan undagi memahami regulasi, kriteria teknis, serta inovasi baru yang diterapkan pada penyelenggaraan festival di tahun 2027 mendatang.

Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Ida Bagus Agung Munika, S.H., M.Si. menjelaskan bahwa salah satu lompatan signifikan pada Badung Caka Fest 2027 adalah penambahan wilayah zona penyisihan.

“Kalau tahun 2026 lalu dibagi menjadi 7 zona, maka untuk penilaian ogoh-ogoh di tahun 2027 kita tingkatkan menjadi 9 zona. Dari total 597 Sekaa Teruna, kini masing-masing zona menaungi sekitar 66 hingga 67 Sekaa Teruna,” ujar Ida Bagus Agung Munika.

Kebijakan ini sekaligus memperlebar kuota pemenang tingkat zona yang akan melaju ke panggung utama di Puspem Badung, dari yang sebelumnya 21 tim kini bertambah menjadi 27 tim karya terbaik.

Terkait sistem penilaian, Ida Bagus Agung Munika menyebutkan bahwa substansi kriteria utama seperti lebar, tinggi, dan struktur ogoh-ogoh secara umum masih sama dengan tahun sebelumnya. Kendati demikian, Pemkab Badung memberikan penekanan khusus agar para undagi ogoh-ogoh berasal dari lokal Kabupaten Badung.

“Harapan kami, adik-adik ketua Sekaa Teruna ataupun undagi yang akan membuat ogoh-ogoh memahami kriteria ataupun aturan-aturan yang harus ditaati,” tegasnya.

Sementara itu, narasumber sekaligus seniman asal Canggu, I Putu Arif Suciawan, menyampaikan bahwa workshop ini difokuskan untuk mempertajam kriteria yang telah dirancang bersama Dinas Kebudayaan sekaligus mengantisipasi potensi kendala di lapangan melalui sesi diskusi interaktif.

Ia merinci, penekanan kriteria tahun ini mencakup detail bahan, regulasi ukuran tinggi ogoh-ogoh yang mengalami sedikit perubahan, serta pengetatan aturan pelaporan. Dari sisi tema, Badung Caka Fest tetap memberikan kebebasan berekspresi kepada para undagi sesuai kategori yang ada, seperti wujud raksasa, dewa, dan catur rupa.

“Kalau penambahan untuk bahan alaminya, untuk bentuk hampir 60% itu harus alami di luar konstruksi. Konstruksi kan masih boleh menggunakan besi dan memang kabel-kabelan untuk pendukung gerak dan inovasi mesinnya,” jelasnya.

Arif Suciawan juga menegaskan pentingnya pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) lokal, di mana penggunaan undagi dan tukang cat wajib berasal dari wilayah Badung demi keberlanjutan regenerasi seni di tingkat banjar. .

“Kita ingin dana kreativitas dari Bapak Bupati Badung yang merupakan salah satu yang terbesar di Bali ini benar-benar berputar untuk menyokong SDM lokal kita. Jangan sampai dana besar disupport hanya untuk mencari juara instan dengan memakai jasa luar. Regenerasi arsitek ogoh-ogoh harus lahir dari banjar-banjar di Badung,” tegas Arif Suciawan.

Selain itu, instrumen pelaporan kini diperketat dengan mewajibkan bukti berupa video yang didukung penuh oleh pengawasan desa adat guna menghindari kesalahpahaman.

Hal senada diungkapkan oleh seniman Dr. A.A. Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn., yang menekankan pentingnya sosialisasi regulasi secara langsung melalui roadshow ke tujuh lokasi. Ia juga memaparkan adanya pemisahan instrumen penilaian antara ogoh-ogoh dan fragmentari pada festival mendatang.

“Dulu penilaian ogoh-ogoh dan fragmentari dijadikan satu. Untuk tahun 2027, itu dipisah secara tegas. Fragmentari akan dinilai secara mendalam berdasarkan kriteria wirasa, wirama, wiraga, wirupa, dan wibawa, yang harus selaras dengan narasi ogoh-ogohnya,” ujar Agung Rahma Putra.

Sementara itu, Ketua Pasikian Yowana Kabupaten Badung, I Made Yudi Dwipayana, menyatakan komitmen organisasinya dalam mengawal jalannya regulasi hingga tingkat Sekaa Teruna serta memastikan pemanfaatan dana kreativitas dari Bupati Badung dapat terserap secara maksimal.

“Kita dari Yowana Kabupaten Badung berperan penting untuk mengawal itu dan mengawal bagaimana proses Sekaa Teruna dalam pembuatan ogoh-ogoh dan memanfaatkan dana kreativitas dari Bapak Bupati Badung dengan semaksimal mungkin,” ujar Yudi Dwipayana.

Tidak hanya fokus pada pakem tradisi, Badung Caka Fest 2027 juga memperkenalkan inovasi komersialisasi pariwisata yang ramah wisatawan. Pementasan puncak yang dijadwalkan pada 25-28 Februari 2027 di Puspem Badung akan menerapkan sistem tiket khusus bagi Warga Negara Asing (WNA), sementara penonton domestik tetap digratiskan.

Langkah ini diintegrasikan dengan pembenahan alur lalu lintas, rekayasa kantong parkir, serta penyiapan satu jalur sirkulasi penonton yang telah dievaluasi secara matang bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian. Penyelenggaraan workshop keliling kecamatan ini diharapkan mampu mencetak karya seni ogoh-ogoh yang tidak hanya megah secara visual, tetapi juga kokoh secara filosofis dalam mengusung semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026