05/11/2026

Rai Mantra Sentil Menbud RI lewat Instagram @balikonten: Modal Budaya Harus Jadi Indikator Kualitas Pembangunan

Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk, Rai Mantra Desak Pemerintah Pusat Berikan Kepastian Status PPPK

Nasib Guru Honorer di Ujung Tanduk, Rai Mantra Desak Pemerintah Pusat Berikan Kepastian Status PPPK/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM — Modal budaya merupakan aset bangsa yang sangat langka dan tidak mudah ditiru oleh negara mana pun di dunia.

Oleh karena itu, pengelolaannya wajib diserap secara optimal dan diakomodasi menjadi salah satu indikator utama arah kebijakan serta kualitas pembangunan (quality of development) bangsa ke depan.

Tegasan tersebut disampaikan oleh Anggota DPD RI Dapil Bali, Dr. Drh. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, S.E., M.Si., merespons pernyataan Kementerian Kebudayaan terkait konsep Ekonomi Budaya Sirkular dan penguatan Warisan Budaya Takbenda (ICH).

Meskipun tidak hadir secara langsung di lokasi acara perhelatan Utsawa Bali Sani XI di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, mantan Wali Kota Denpasar tersebut menyampaikan pandangan kritis serta dukungannya secara terbuka melalui kolom komentar media sosial Instagram @balikonten.

Rai Mantra menyoroti bagaimana modal budaya selama ini sering kali mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan sektor modal lainnya, padahal memiliki daya saing dan nilai ekonomis strategis.

“Dalam kebudayaan terkandung competitive proud (kebanggaan bersaing), identitas Nusantara, pertumbuhan, hingga pemerataan ekonomi,” tegas Rai Mantra merespons unggahan akun Instagram @balikonten.

Senator asal Bali ini pun mendesak Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, agar keberadaan modal budaya tidak hanya berhenti pada wacana pelestarian atau soft power, tetapi benar-benar diserap menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional.

Pernyataan Rai Mantra tersebut memantik respons publik setelah Menteri Kebudayaan RI, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., secara resmi membuka perhelatan Utsawa Bali Sani XI pada Kamis (24/9/2026) di kampus UNHI, Denpasar.

Dalam arahannya, Menbud Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk mengawal pemajuan kebudayaan sekaligus menjadikan budaya sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi (New Engine of Economic Growth) melalui konsep Ekonomi Budaya Sirkular.

“Kehadiran saya dalam UBS UNHI ini menjadi kali pertama sebagai Menteri Kebudayaan. Kenapa Bali terkenal? Salah satunya adalah karena kuatnya seni budaya dan adat istiadat yang ada di Bali. Bahkan siapa yang tidak kenal Bali di dunia internasional?” ujar Fadli Zon dalam sambutannya.

Menbud menambahkan bahwa sumber daya alam seperti batu bara dan nikel suatu saat akan habis, namun kebudayaan tidak akan pernah habis selama ekosistem dan para pelakunya terus dijaga.

Bali dinilai sukses menjadi percontohan ekosistem ekonomi budaya sirkular yang menjadi pintu masuk memperkenalkan keberagaman budaya Nusantara ke tingkat global.

Guna mendukung keberlanjutan ekosistem seni dan komunitas budaya tersebut, pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran Dana Indonesia Raya senilai Rp500 miliar pada tahun ini.

Pihak kementerian juga membuka peluang adanya perhatian serta afirmasi khusus bagi bidang-bidang kebudayaan langka seperti pengobatan tradisional dan Ayurveda yang dikembangkan di UNHI.

Sementara itu, Rektor UNHI, Dr. Cokorda Gde Bayu Putra, S.E., M.Si., menekankan bahwa Utsawa Bali Sani yang digagas sejak 2010 dengan tema Prabhā Nīti Widyā Sani Prawartana hadir untuk membentengi seni dari komersialisasi pasar melalui semangat ngayah (pengabdian tulus).

“Penyatuan antara rasio dan rasa dijiwai oleh filosofi Hindu Satyam, Sivam, Sundaram—di mana kebenaran logika dan kesucian budi pekerti menyatu melahirkan keindahan sejati,” pungkas Rektor UNHI.

***

Pewarta: Wira Natagumi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026