10/09/2026

PLN Perkuat Sistem Kelistrikan Bali, GI Kubu Dipasang Meter Utama dan Pembanding

PLN Perkuat Sistem Kelistrikan Bali, GI Kubu Dipasang Meter Utama dan Pembanding

PLN Perkuat Sistem Kelistrikan Bali, GI Kubu Dipasang Meter Utama dan Pembanding/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Keandalan listrik yang digunakan masyarakat Bali tidak hanya bergantung pada pembangkit dan jaringan distribusi. Di balik listrik yang menghidupkan rumah, usaha, fasilitas publik hingga aktivitas ekonomi, terdapat sistem pengukuran yang memastikan energi yang masuk dan disalurkan tercatat secara akurat.

Untuk memperkuat sistem tersebut, PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) Bali memasang kWh meter utama dan kWh meter pembanding di Gardu Induk (GI) Kubu, Karangasem. Pemasangan ini menjadi bagian dari persiapan sistem kelistrikan Bali dalam menerima tambahan sumber pembangkit baru.

Meter utama digunakan sebagai acuan pencatatan energi, sementara meter pembanding berfungsi menyediakan data referensi untuk memastikan hasil pengukuran tetap konsisten. Dengan dua perangkat tersebut, PLN dapat melakukan pemeriksaan apabila ditemukan perbedaan pencatatan energi.

Manager PLN UP2D Bali, Petrus Irwan Ichwansaputra, mengatakan akurasi pengukuran menjadi bagian penting dalam menjaga pengelolaan sistem kelistrikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Pemasangan kWh meter utama dan pembanding di GI Kubu bukan hanya berkaitan dengan pencatatan energi, tetapi juga memastikan kami memiliki data yang akurat mengenai energi yang masuk dan disalurkan ke sistem. Data tersebut menjadi dasar penting dalam pengelolaan dan evaluasi sistem kelistrikan,” ujar Petrus.

Mengapa pengukuran listrik penting bagi masyarakat?

Bagi pelanggan, kWh mungkin lebih dikenal sebagai satuan yang tertera pada meter listrik rumah atau tempat usaha. Namun dalam sistem tenaga listrik, pengukuran dilakukan di berbagai titik penting, termasuk gardu induk.

Data tersebut membantu PLN mengetahui berapa besar energi yang masuk ke sistem, ke mana energi mengalir, serta bagaimana kinerja sistem ketika terjadi perubahan beban atau tambahan sumber pembangkit.

Semakin kompleks sistem kelistrikan, semakin penting pula ketersediaan data yang akurat.

“Semakin berkembang sistem kelistrikan dan semakin banyak sumber energi yang terhubung, semakin penting pula kualitas data pengukuran. Dengan data yang akurat, pengelolaan energi dapat dilakukan secara lebih terukur, efisien, dan akuntabel sehingga keandalan pelayanan kepada masyarakat dapat terus dijaga,” tambah Petrus.

Di GI Kubu, data dari meter utama dan pembanding dapat digunakan untuk mengevaluasi konsistensi pengukuran. Informasi tersebut juga mendukung rekonsiliasi energi, evaluasi aliran listrik, serta pengambilan keputusan dalam pengoperasian sistem.

Bagi masyarakat Bali, manfaatnya memang tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, kualitas pengukuran merupakan bagian dari rantai panjang yang menentukan bagaimana sistem kelistrikan dikelola sebelum energi sampai ke pelanggan.

Menyiapkan sistem menerima pembangkit baru

Pemasangan meter di GI Kubu juga berkaitan dengan kesiapan sistem dalam menerima dan mengelola energi dari pembangkit baru.

Masuknya sumber energi baru ke jaringan membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan pembangkit. Jaringan, gardu induk, sistem pengendalian, hingga perangkat pengukuran harus mampu bekerja secara terintegrasi.

Setiap energi yang masuk perlu diketahui jumlah dan alirannya. Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi PLN untuk mengevaluasi operasi sistem dan menjaga agar energi dapat disalurkan secara optimal.

Secara sederhana, kWh atau kilowatt-jam merupakan satuan energi listrik. Satu kWh menunjukkan energi yang digunakan perangkat berdaya 1.000 watt selama satu jam. Satuan yang sama digunakan dalam pencatatan konsumsi pelanggan maupun pengukuran energi pada berbagai titik dalam sistem ketenagalistrikan.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE