Kanalisasi Kejenuhan Gadget: Generasi Muda Bali Mulai Lirik Seni Pewayangan sebagai Media Edukasi
Kanalisasi Kejenuhan Gadget Generasi Muda Bali Mulai Lirik Seni Pewayangan sebagai Media Edukasi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Di tengah gempuran era digital, perayaan Tumpek Wayang dan kesenian wayang kulit kini menemukan momentum baru di kalangan generasi muda Bali. Akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa sekaligus Dalang Muda, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H., menilai bahwa kejenuhan terhadap perangkat elektronik (gadget) menjadi pemicu meningkatnya minat anak muda untuk mempelajari seni pewayangan.
“Justru sekarang ini banyak anak muda belajar menjadi dalang, karena kejenuhan dengan gadget, sehingga banyak saya lihat anak muda belajar untuk memainkan wayang kulit. Tinggal kita berikan ruang agar mereka terus berkreasi,” ungkap Akademisi yang akrab disapa Jro Dalang Robi.
Menurutnya, pewayangan pada dasarnya merupakan bentuk teknologi komunikasi dan edukasi visual tingkat tinggi yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak zaman dahulu. Melalui daya imajinasi dan visualisasi, pesan-pesan moral dan filsafat dapat tersampaikan secara efektif.
“Dunia wayang ini adalah dunia teknologi paling canggih untuk mengajarkan sesuatu kepada orang melalui visualisasi dan imajinasi, dan ini telah berlangsung sejak zaman dulu,” tuturnya.
Untuk menjaga agar Tumpek Wayang dan tradisi pewayangan tidak hanya berhenti sebagai ritual seremonial semata, Jro Dalang Robi mendorong keterlibatan lintas sektor. Sekolah-sekolah diharapkan mulai mengajarkan seni menggambar serta melukis wayang, sementara para pemimpin daerah diimbau memberikan teladan dengan mengutip kisah-kisah pewayangan dalam setiap pidato resmi.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kehadiran teknologi internet dan Artificial Intelligence (AI) tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu (tools) baru untuk mengedukasi generasi muda mengenai kebudayaan wayang.
Sementara itu dari sisi spiritualitas para seniman, Jro Dalang Robi menjelaskan bahwa saat Tumpek Wayang, para dalang mempersiapkan banten piodalan sebagai ungkapan bakti kepada Ida Bhatara Iswara dan Dewa Tri Sakti, di samping memiliki sadhana atau disiplin spiritual khusus secara personal dengan ista dewata wayang yang dipuja.
***
