Darurat Kesehatan Mental Generasi Muda, Program MHAT Tawarkan Edukasi Gratis Bagi Masyarakat
Darurat Kesehatan Mental Generasi Muda, Program MHAT Tawarkan Edukasi Gratis Bagi Masyarakat/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Mengatasi masalah kesehatan mental tidak bisa lagi menunggu hingga seseorang mencapai titik krisis. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi depresi nasional mencapai 1,4 persen, dengan angka tertinggi berada pada kelompok usia muda 15–24 tahun, yakni sebesar 2 persen.
Senada dengan hal itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lonjakan persentase pelajar usia 13–17 tahun di Indonesia yang pernah secara serius mempertimbangkan ide bunuh diri, yaitu naik dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Mamaka Hotels & Resorts bersama Shuffle & Strides menggelar Mamaka Fun Run Vol. 3 di Kuta Beach, Bali, Minggu (18/10/2026). Ajang lari komunitas tahunan dengan rute 5K dan 10K ini melangkah lebih jauh dari sekadar ajang kebugaran fisik, dengan menggalang dukungan bagi perluasan program Pelatihan Kesadaran Kesehatan Mental (Mental Health Awareness Training/MHAT) secara gratis untuk masyarakat umum.
Area General Manager Southeast Asia Mamaka Hotels and Resorts, Joel Bartlett, menegaskan bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental merupakan komitmen jangka panjang dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Bali.
“Bagi kami, memilih kesehatan mental untuk Mamaka Fun Run Vol. 3 adalah keputusan yang sangat alami. Mamaka adalah tentang gerak, koneksi, dan kesejahteraan, dan kami percaya kesejahteraan harus mencakup tubuh dan pikiran,” ujar Joel Bartlett dalam sesi konferensi pers di Mamaka Social Club.
Joel menambahkan bahwa lebih dari 750 pelari mengambil bagian dalam edisi ketiga ini. Pihaknya bertekad untuk terus memperluas jangkauan gerakan sosial ini pada tahun-tahun berikutnya.
“Kami sangat sadar akan pentingnya kesehatan mental dan mengedukasi masyarakat lokal. Visi kami adalah terus mengembangkan acara ini. Tahun depan kami menargetkan lebih dari 1.000 pelari untuk terus mendukung komunitas dan menyebarkan pesan kesehatan mental,” tutur Joel.
Guna memastikan dampak nyata di luar garis finis, seluruh dana yang terkumpul difokuskan untuk mendanai program MHAT yang dikelola oleh Shuffle & Strides. Program pelatihan gratis selama dua hari ini dirancang agar masyarakat awam mampu mengenali gejala awal gangguan mental, memahami cara berkomunikasi dengan orang yang sedang berjuang, serta mengetahui rujukan bantuan profesional yang tepat.
Perwakilan Shuffle & Strides, Ira Gesima, menjelaskan bahwa lembaga nirlaba yang berdiri sejak tahun 2022 ini berfokus membuka akses edukasi kesehatan mental seluas-luasnya, khususnya bagi warga negara Indonesia.
“Kami adalah yayasan yang bertujuan memfasilitasi warga negara Indonesia untuk mengenal lebih jauh tentang kesehatan mental. Selain kegiatan berlari, kami memiliki program pelatihan rutin setiap bulan melalui Mental Health Awareness Training dengan mendatangkan psikiater dan dokter spesialis,” jelas Ira.
Ira menggarisbawahi bahwa pelatihan ini tidak bertujuan mencetak tenaga medis profesional, melainkan membekali masyarakat dengan keberanian dan keterampilan dasar untuk merespons kondisi krisis di sekitarnya.
“Satu orang yang terlatih akan membawa pengetahuan tersebut kembali ke keluarga, tempat kerja, dan lingkungan pertemanannya. Ini menciptakan efek berantai dari edukasi komunitas yang mudah diakses,” tambah Ira.
Komitmen keberlanjutan ini juga diwujudkan melalui klub lari mingguan yang terbuka untuk umum setiap Sabtu pagi pukul 06.45 WITA di Mamaka, serta pembukaan saluran konsultasi dan pendaftaran program edukasi gratis melalui media sosial resmi @EmpownessAsia dan @ShavilleAndStrides.
“Bagi WNI yang ingin berkonsultasi atau bergabung dengan program kami, bisa menghubungi akun Instagram resmi @EmpownessAsia atau @ShuffleAndStrides. Kami menyediakan layanan khusus dan gratis bagi WNI agar lebih sadar akan kesehatan mental mereka,” tutur Ira.
Dengan melatih satu individu, Ira berharap timbul efek domino yang memperluas pemahaman kesehatan mental ke lingkungan keluarga, tempat kerja, hingga lingkaran sosial yang lebih luas.
***
