BPS Soroti Ancaman Kenaikan Harga Pangan Selama Ramadan, Komoditas Ini Jadi Perhatian

ilustrasi Pasar Mini di Madrasah Jembrana/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi lonjakan harga bahan pangan menjelang Ramadan. Berdasarkan evaluasi data historis lima tahun terakhir, sejumlah komoditas tercatat berulang kali menjadi penyumbang inflasi terbesar saat memasuki bulan puasa.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyebut antisipasi perlu segera dilakukan karena periode Ramadan 2026 semakin dekat. Menurutnya, pola kenaikan harga menjelang puasa cenderung berulang dari tahun ke tahun.
“Komoditas ini sebaiknya mulai kita waspadai sejak sekarang, karena kita sudah memasuki periode menuju Ramadan,” kata Pudji dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri.
Daging Ayam hingga Cabai Rawit Masih Dominan
Dari pemetaan BPS, beberapa bahan pangan hampir selalu muncul sebagai pemicu inflasi Ramadan. Di antaranya daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Meski komposisinya berubah tiap tahun, komoditas tersebut konsisten memberi tekanan besar pada indeks harga konsumen.
Pada 2021, inflasi didorong oleh daging ayam ras dan minyak goreng. Setahun kemudian, minyak goreng kembali memimpin, disusul daging ayam ras dan telur ayam ras. Tahun 2023, tekanan beralih ke beras, cabai rawit, dan bawang putih, namun daging serta telur tetap menjadi faktor penting.
Situasi serupa berulang pada 2024 dengan telur ayam ras sebagai penyumbang inflasi tertinggi. Sementara pada Ramadan 2025, bawang merah mencatat kontribusi terbesar, diikuti ikan segar, cabai rawit, daging ayam ras, dan beras.
“Jika ditarik garis besar, lima komoditas inilah yang paling sering memicu inflasi di awal Ramadan,” jelas Pudji.
Kelompok Makanan Jadi Penentu Inflasi Ramadan
BPS juga menyoroti peran kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang hampir selalu menjadi kontributor utama inflasi saat Ramadan tiba. Lonjakan konsumsi rumah tangga menjelang sahur dan berbuka menjadi faktor pendorong utama kenaikan harga.
“Dalam periode 2021–2025, kelompok ini konsisten memberi andil terbesar terhadap inflasi di bulan awal Ramadan,” ujar Pudji.
Awal Ramadan Pengaruhi Besaran Inflasi
Tak hanya jenis komoditas, waktu dimulainya Ramadan juga berpengaruh besar terhadap pola inflasi bulanan. Jika puasa dimulai sejak awal bulan, tekanan harga biasanya terkonsentrasi dalam satu bulan. Sebaliknya, bila Ramadan dimulai di pertengahan atau akhir bulan, inflasi cenderung terbagi ke dua bulan.
Fenomena ini terlihat jelas pada Ramadan 2025 yang dimulai 1 Maret. Saat itu, inflasi Maret mencapai 1,65 persen, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Selain sektor pangan, kelompok perumahan dan energi turut memberi kontribusi besar karena penyesuaian tarif listrik setelah masa diskon berakhir di awal tahun.
Ramadan 2026 Berpotensi Geser Puncak Inflasi
Untuk Ramadan 2026, awal puasa diperkirakan jatuh di pertengahan bulan. Dengan pola tersebut, BPS memperkirakan tekanan inflasi mulai terasa sejak bulan awal Ramadan, namun puncaknya berpotensi bergeser ke bulan berikutnya karena jumlah hari puasa lebih banyak berada setelahnya.
“Pengalaman 2023 menunjukkan, saat Ramadan dimulai di akhir bulan, inflasi muncul lebih awal tetapi puncaknya justru terjadi di bulan selanjutnya,” terang Pudji.
Ada Komoditas Penahan Inflasi
Di tengah risiko kenaikan harga, BPS juga mencatat beberapa komoditas justru kerap menahan laju inflasi pada awal Ramadan. Cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat tercatat beberapa kali memberi andil deflasi karena pasokan yang relatif melimpah.
Dengan berbagai sinyal tersebut, BPS menekankan pentingnya pengendalian pasokan dan distribusi pangan sejak dini. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga selama Ramadan sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
***

