Empat Fakta Menarik di Tanjung Bias, Pantai Unik dan Kreatif

 Empat Fakta Menarik di Tanjung Bias, Pantai Unik dan Kreatif

PANTAI yang terletak di Kota Mataram, Lombok ini memang relatif sepi dari kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara sejak pandemi Covid-19 berlangsung. Sebagian besar kedai-kedai kuliner di pesisir pantai ini memutuskan tutup. Mereka yang masih buka, umumnya mengandalkan peruntungan pada sore hari.

Menurut Andi, pelayan di Kedai Lury saat diwawancarai mengatakan saat ini kunjungan domestik menjadi andalan. Kunjungan umumnya meningkat pada sore hari, khususnya pada akhir pekan. Dengan catatan, tidak hujan. “Sekarang karena hujan dan masih ada Covid-19, memang agak sepi,” ujarnya Kamis (27/11).

Menurut Andi, pengunjung umumnya kalangan remaja dan rombongan keluarga. Selain olahan kuliner, para pengelola usaha kuliner juga beradu penataan kedai. Mereka berlomba-lomba mengatur meja makan dan tempat duduk senyaman mungkin. Hampir semua kedai menawarkan pemandangan pantai yang sama.

Adu Kreatifitas

Kreatifitas menjadi daya tarik di Pantai Tanjung Bias. Para pedagang saling beradu untuk menghadirkan sensasi yang berbeda.

BEDANYA, sensasi duduk di sofa santai dan pernak pernik yang unik dan kreatif. Di kedai Luri misalnya, mereka memasang nampan organik berbahan bambu bertuliskan slogan unik dan menggelitik. Misalnya, “melihat terong bapak bangun ibu mencuci. Susunlah kata di atas agar menjadi kalimat yang benar”.

“Dikocok tegang, sudah keluar lemes. Apakah itu? Ngga dapat arisan,”. “Kenapa ikan tidak hidup di darat? Takut dimakan kucing,”. Daya tarik lainnya, masing-masing kedai juga beradu ornamen lampu hias. Di kedai Luri, lampu hias dikemas dengan keranjang kecil yang dililit hiasan daun kain berwarna hijau.

Sensasinya baru akan terasa pada malam hari. Pernak pernik ini menambah nuansa romantis, mengingat tempat ini juga kerap dikunjungi pasangan pacaran. Daya tarik lainnya, masing-masing juga menempatkan spot foto unik di depan kedai. Spot foto itu berlatar Pantai Tanjung Bias dengan deburan ombak sedang.

BACA JUGA:  5 Jajanan Pasar yang Ada dalam Serat Centhini, Pernah Mencobanya?

Walau latarnya laut yang sama, namun sensasinya berbeda-beda. “Ya, kebetulan yang datang kesini banyak remaja nongkrong, ada juga yang pacaran, jadi spot foto ini jadi daya tarik,” ujar Andi. Dia menyebutkan, kuliner khas di Pantai Tanjung Bias ini adalah beragam ikan laut, khususnya ikan Luri bakar dan bumbu rajang.

Harga Relatif Murah

Harga kuliner di Pantai Tanjung Bias relatif murah dibanding kawasan wisata lainnya. Ini menjadi solusi berwisata di tengah pandemi Covid-19.

SOAL harga, relatif murah. Mulai Rp.50 ribu per ekor, Rp.75 ribu dan Rp.100 ribu perekor. Kata Andi, pengunjung lebih banyak memesan ikan seharga Rp.75 ribu, dengan kapasitas dua hingga tiga orang. Porsi ini disukai pasangan muda karena murah meriah. Mereka dapat sensasi berekreasi di pantai dan segala pernak perniknya.

Ada Wisata Berkuda

Berkuda di pesisir tentu memberi sensasi berbeda dari umumnya. Di Pantai Tanjung Bias ini, wisatawan dapat menikmatinya.

DI tempat wisata ini juga tersedia wisata berkuda di pesisir pantai. Penyewa kuda umumnya akan mendekati wisatawan untuk menawarkan jasa. Wahana ini menjadi daya tarik tersendiri, mengingat di daerah wisata lainnya keberadaannya sangat jarang. Meski dilengkapi kelengkapan sederhana, wahana ini patut dicoba.

Menjaring Ikan Bersama Nelayan

Menjaring ikan bersama nelayan di Pantai Tanjung Bias. Wisatawan dapat berpose menarik tali ini, sehingga menjadi pilihan berfoto yang unik.

SELAIN itu, ada pemandangan klasik bila wisatawan berkunjung ke pantai ini, yakni menjaring ikan ke tengah laut kemudian jaring ditarik dari pesisir oleh sejumlah nelayan. Aktifitas ini biasanya berlangsung di tiga hingga empat titik, durasi satu jam atau dua jam dengan panjang tali ratusan meter, yang melibatkan tiga nelayan.

Aktifitas ini juga menjadi daya tarik pengunjung Pantau Tanjung Bias. Tak jarang pengunjung ditawari berfoto oleh nelayan dengan pose memegang tali yang ditarik tersebut. Menurut seorang nelayan, ini merupakan tradisi lama di Lombok yang dikenal dengan nama Ngerakat. (801)

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE

error: Content is protected !!