Ini Alasan Penyebrangan Fastboat Lombok-Bali Ditutup
Ilustrasi gambar boat /max4ex/ pixabay/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama di tengah cuaca ekstrem yang melanda perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Otoritas pelabuhan resmi memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas penyeberangan kapal cepat (fastboat) rute Lombok menuju Bali. Kebijakan ini berlaku sejak Rabu, 21 Januari 2026, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Langkah tegas ini diambil berdasarkan analisis mendalam dari BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid. Selain mengacu pada data teknis, pantauan visual di lapangan menunjukkan kondisi gelombang dan angin yang berisiko tinggi bagi pelayaran kapal berkecepatan tinggi.
Prioritaskan Keselamatan Penumpang
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Pemenang, Mahdi, menegaskan bahwa seluruh operator, nakhoda, dan pemilik kapal wajib mematuhi instruksi ini. Penundaan keberangkatan dari Pelabuhan Pemenang merupakan langkah preventif guna menghindari kecelakaan laut.
“Kami menetapkan penundaan sejak Rabu kemarin. Operasional akan kembali dibuka segera setelah kondisi cuaca dinyatakan normal dan aman bagi pelayaran,” ujar Mahdi dalam keterangan resminya, Kamis (22/1/2026).
Keputusan ini memiliki landasan hukum yang kuat, merujuk pada UU Nomor 66 Tahun 2024 tentang Pelayaran serta regulasi mengenai tata cara penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Otoritas pelabuhan tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun di tengah situasi alam yang tidak menentu.
Sektor Pariwisata Mulai Terdampak
Penghentian operasional ini langsung dirasakan dampaknya oleh para pelaku industri pariwisata. Arus wisatawan yang biasanya mengandalkan jalur laut untuk mobilitas antara dua pulau ikonik tersebut kini terhambat.
Manager Pemasaran PT Eka Jaya Fastboat, Puput, mengakui bahwa penghentian aktivitas ini menurunkan volume kunjungan turis ke Pulau Lombok secara signifikan. Meskipun merugi secara bisnis, pihaknya sepenuhnya mendukung keputusan otoritas demi keselamatan bersama.
“Sudah dua hari ini kapal kami tidak beroperasi. Dampaknya jelas, kunjungan wisatawan menurun drastis karena akses utama kapal cepat terputus,” ungkap Puput.
Hingga saat ini, para calon penumpang diimbau untuk terus memantau informasi terbaru dari pihak pelabuhan atau beralih ke moda transportasi udara jika memiliki keperluan mendesak. Otoritas pelabuhan dan BMKG akan terus melakukan evaluasi harian untuk menentukan kapan jalur penyeberangan ini aman untuk dibuka kembali.
***
