23/01/2026

Keajaiban Pura Beji Utama Sari: Tempat Suci Hindu di Bali yang Dijaga Makhluk Gaib untuk Ritual Melukat

hari baik dan dewasa ayu melukat

Tirta Empul di Gianyar menjadi salah satu tempat tujuan melaksanakan tradisi melukat di Bali/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM –  Pura Beji Utama Sari, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Pura Beji Gerobogan atau Pancoran Taman Sari, bukan hanya berfungsi sebagai lokasi penyucian bagi Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Tempat suci Hindu Bali ini, yang berada di Banjar Lebah Sari, juga menjadi tujuan utama untuk ritual melukat yang diyakini penuh dengan energi mistis serta perlindungan dari makhluk gaib.

Jejak Spiritual Ida Pedanda Sakti Ender dalam Sejarah Pura Beji Utama Sari

Jro Mangku Made Sarya, selaku pemangku Pura Beji Utama Sari, menjelaskan bahwa pura ini memiliki hubungan erat dengan perjalanan rohani Ida Pedanda Sakti Telaga, yang populer dengan sebutan Ida Pedanda Sakti Ender.

Tokoh suci tersebut diceritakan pernah melakukan pengembaraan dari Gelgel menuju Desa Gulingan pada era pemerintahan Tjokorda Pugangga, Raja Mengwi.

Dalam pengembaraan spiritual itu, Ida Pedanda Sakti Ender sempat berhenti dan mengajarkan ilmu kepada banyak murid di Gulingan.

Perjalanannya dimulai dari arah timur, kemudian ke selatan hingga mencapai Banjar Batulumbung, dan akhirnya beristirahat di Pancoran Utama Sari.

Saat berada di sana, beliau melaksanakan Puja Samadi di pancoran yang terkenal dengan ketenangannya. Namun, ketika mandi di pancoran itu, sebuah kejadian tak terduga terjadi.

Gangguan dari Makhluk Gaib Wong Peri di Pancoran Suci

Mangku Sarya menceritakan bahwa saat Ida Pedanda Sakti Ender mandi, ia diganggu oleh makhluk gaib yang dikenal sebagai Wong Peri.

Karena merasa terganggu, Ida Pedanda menggunakan kesaktiannya untuk menemukan makhluk tersebut. Setelah terungkap, para Wong Peri mengakui kehebatan Ida Pedanda dan memohon ampun.

Sebagai bentuk hukuman, Ida Pedanda menugaskan Wong Peri untuk menjaga pancoran tersebut secara abadi.

Selain itu, Wong Peri diberi wewenang untuk mengganggu siapa saja yang mandi di pancoran pada waktu-waktu tertentu, yaitu saat matahari berada tepat di atas kepala (tengai tepet) dan pada saat Sandikala.

Tidak hanya itu, siapa pun yang berbicara tidak sopan di kawasan Pura Beji Gerobogan juga akan mengalami gangguan dari makhluk gaib tersebut.

Hingga sekarang, masyarakat masih meyakini bahwa larangan ini harus ditaati agar tidak mengalami kejadian aneh saat mengunjungi Pancoran Utama Sari.

Khasiat Air Suci Pura Beji Utama Sari, dari Penyembuhan Sakit Mata hingga Irigasi Sawah

Di samping sebagai tempat melukat, air di Pura Beji Utama Sari diyakini memiliki manfaat khusus, termasuk menyembuhkan sakit mata.

Mangku Sarya menyebutkan bahwa sejak dulu, warga sekitar telah menggunakan air pancoran ini sebagai obat alami untuk penyakit mata akibat virus.

“Banyak orang datang mengambil air di sini ketika ada wabah sakit mata. Mereka yakin air pancoran ini punya energi penyembuhan,” katanya.

Lebih dari itu, banyak pengunjung dari berbagai wilayah di Bali datang untuk melukat setelah mendapat petunjuk dari orang pintar.

Ritual melukat dilakukan dengan upakara dan sarana khusus sesuai arahan spiritual.

Selain untuk keperluan rohani dan pengobatan, air Pancoran Utama Sari juga dipakai untuk mengairi sawah di wilayah Subak Batan Badung Munduk Bukti Tuh.

Air suci ini turut digunakan dalam ritual penyucian Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan serta dalam upacara atma wedana.

Piodalan di Pura Beji Utama Sari dan Tanggung Jawab 48 Pekarangan Rumah

Pura Beji Utama Sari menyelenggarakan piodalan setiap Purnama Kedasa. Ritual ini dikelola oleh 48 pekarangan rumah dari beberapa banjar di Desa Adat Gulingan, yang bertugas merawat dan melaksanakan upacara di pura tersebut.

Dalam piodalan itu, berbagai kelompok seperti barong dan rangda dari banjar-banjar setempat ikut hadir untuk memeriahkan prosesi.

Ritual dilakukan dengan banten Taman Pulegembal yang meski sederhana, tetap termasuk dalam tingkatan utama tradisi keagamaan Bali.

Mitos, Kepercayaan, dan Larangan yang Masih Dijaga di Pura Beji Utama Sari

Keberadaan Wong Peri sebagai penjaga Pancoran Utama Sari telah menjadi bagian integral dari keyakinan masyarakat lokal.

Larangan mandi saat tengai tepet dan Sandikala, serta berbicara kasar di area beji, masih dipegang erat hingga kini.

Warga meyakini bahwa pelanggaran aturan ini bisa menyebabkan gangguan gaib, seperti mendengar suara aneh, kehilangan keseimbangan saat mandi, atau mengalami peristiwa mistis lain.

Dengan sejarah yang mendalam, suasana mistis, serta khasiat air sucinya, Pura Beji Utama Sari terus menjadi destinasi spiritual menarik bagi umat Hindu Bali dan wilayah sekitarnya.

***

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE