Makna Siwaratri di Tengah Era Digital: Ketua PHDI Bali Ingatkan Esensi ‘Jagra’ Bukan Sekadar Terjaga

Makna Siwaratri di Tengah Era Digital Ketua PHDI Bali Ingatkan Esensi 'Jagra' Bukan Sekadar Terjaga/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali hari ini merayakan hari suci Siwaratri, momen yang secara tradisional dimaknai sebagai malam perenungan dosa dan kebangkitan kesadaran. Namun, di tengah keterbukaan informasi dan dominasi teknologi, pelaksanaan brata Siwaratri kini menghadapi tantangan baru yang signifikan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, I Nyoman Kenak, mencermati adanya pergeseran perilaku umat dalam menjalankan rangkaian brata (pantangan) di era digital. Menurutnya, teknologi informasi telah membuat akses terhadap sastra agama menjadi sangat mudah, namun di sisi lain berpotensi mendistorsi kekhusyukan ritual.
Nyoman Kenak menjelaskan bahwa saat ini umat tidak lagi kesulitan mencari makna Siwaratri atau tata cara persembahyangan karena semuanya tersedia di internet. Namun, kemudahan ini seringkali hanya berhenti pada pengetahuan intelektual tanpa penghayatan spiritual.
“Informasi sekarang sangat terbuka. Ini bagus untuk literasi, tapi kita harus waspada. Jangan sampai ritual Siwaratri hanya menjadi ajang pamer di media sosial atau sekadar mengikuti tren tanpa memahami esensi Lubdaka yang mendalam,” ujar Nyoman Kenak saat ditemui di Denpasar, Sabtu (17/1).
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah pelaksanaan Mejagra (tidak tidur semalam suntuk). Nyoman Kenak menekankan bahwa esensi jagra adalah kewaspadaan pikiran, bukan sekadar ketahanan fisik untuk tidak tidur.
“Banyak umat, terutama generasi muda, terjaga semalam suntuk tetapi tangannya tidak lepas dari ponsel. Bermain gim atau scrolling media sosial semalaman itu bukan jagra dalam konteks Siwaratri. Itu hanya memindahkan waktu tidur. Jagra yang sesungguhnya adalah introspeksi diri atau mulat sarira,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterbukaan informasi seharusnya digunakan untuk membaca e-lontar atau mengikuti Dharma Tula (diskusi keagamaan) secara daring, bukan untuk memuaskan kesenangan indrawi yang justru dilarang saat melakukan Upawasa dan Monobrata.
Lebih lanjut, PHDI Bali mendorong umat untuk mengadaptasi nilai-nilai Siwaratri ke dalam konteks modern. Jika Monobrata secara tradisional berarti tidak berbicara, di era sekarang hal itu bisa dimaknai sebagai “Puasa Digital”.
“Menahan diri dari menulis komentar negatif, menyebarkan hoaks, atau memicu konflik di grup WhatsApp adalah bentuk Monobrata masa kini. Inilah pengendalian diri yang relevan dengan kondisi umat saat ini,” tambah Kenak.
Meskipun zaman telah berubah, Nyoman Kenak berharap esensi Siwaratri sebagai malam penyucian diri tetap terjaga. Ia mengajak umat Hindu di Bali untuk menggunakan teknologi sebagai alat pendukung spiritualitas, bukan sebagai penghambat.
Melalui momentum Siwaratri tahun ini, PHDI Bali berpesan agar umat mampu memilah informasi yang bermanfaat dan menjadikan malam keheningan ini sebagai waktu untuk “mereset” diri dari hiruk-pikuk dunia maya yang seringkali menguras energi mental.
***

