22/01/2026

Nilai Kebersamaan dan Gotong Royong dalam Persiapan Hari Raya Galungan

doa apa yang digunakan saat galungan dan kuningan

Penjor Galungan oleh Jorge Láscar/ Flicker/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender Bali, yang merupakan perayaan penting bagi umat Hindu di Bali. Galungan menjadi momen untuk memperingati kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan) serta mempererat tali persaudaraan dan solidaritas sosial.

Dalam persiapan menyambut hari suci ini, nilai kebersamaan dan gotong royong tercermin melalui berbagai tradisi yang melibatkan keluarga, banjar (komunitas desa adat), dan masyarakat luas.

Tradisi Ngayah: Pengabdian Tulus untuk Kebersamaan

Dalam budaya Bali, ngayah merupakan bentuk gotong royong yang dilakukan secara sukarela dan tulus ikhlas sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan, leluhur, dan komunitas. Tradisi ini menjadi inti dari persiapan Galungan, di mana masyarakat bersama-sama membersihkan dan menghias pura, menyiapkan sesajen, serta mempersiapkan upacara keagamaan.

Kegiatan ngayah tidak hanya mencerminkan semangat kerja sama, tetapi juga memperkuat rasa persatuan di antara anggota banjar. Misalnya, anggota masyarakat secara bergiliran membersihkan area pura desa atau menyiapkan perlengkapan upacara, seperti banten (sesajen), tanpa mengharapkan imbalan.

Pembuatan Penjor: Simbol Kebersamaan dan Rasa Syukur

Salah satu tradisi ikonik dalam persiapan Galungan adalah pembuatan penjor, tiang bambu melengkung yang dihiasi dengan janur (daun kelapa muda), hasil bumi, dan kain warna-warni. Proses pembuatan penjor biasanya dilakukan secara gotong royong oleh anggota keluarga atau tetangga di banjar.

Setiap keluarga berpartisipasi untuk menghias penjor yang kemudian dipasang di depan rumah, sehingga menciptakan pemandangan indah di sepanjang jalan desa. Penjor tidak hanya menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki, tetapi juga wujud nyata kebersamaan, karena proses pembuatannya melibatkan kolaborasi dan pembagian tugas antaranggota masyarakat.

Memasak Bersama: Momen Kekeluargaan di Hari Penampahan

Sehari sebelum Galungan, yang dikenal sebagai Hari Penampahan, umat Hindu Bali mempersiapkan masakan tradisional seperti lawarsate, dan babi guling untuk keperluan upacara dan hidangan keluarga. Proses ini sering dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga dan kerabat, menciptakan suasana keakraban dan kerja sama. Misalnya, para ibu menyiapkan bumbu, sementara anggota keluarga lain membantu memotong bahan atau membuat sate. Kegiatan memasak bersama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan upacara, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antargenerasi, berbagi cerita, dan menjaga tradisi kuliner Bali.

Pembersihan Lingkungan: Menyucikan Desa untuk Hari Suci

Gotong royong juga terlihat dalam kegiatan pembersihan lingkungan menjelang Galungan. Masyarakat di berbagai desa di Bali melakukan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan desa, balai banjar, dan pura. Tujuannya adalah menciptakan suasana yang bersih dan suci sebagai wujud kesiapan spiritual menyambut Hari Raya Galungan.

Kegiatan ini biasanya dikoordinasikan oleh banjar, di mana setiap anggota masyarakat turut berkontribusi, baik dengan tenaga maupun ide. Pembersihan lingkungan ini memperlihatkan solidaritas sosial dan rasa tanggung jawab kolektif terhadap kebersihan dan kesucian desa.

Silaturahmi di Umanis Galungan: Memperkuat Tali Persaudaraan

Setelah rangkaian upacara Galungan selesai, momen Umanis Galungan menjadi waktu yang tepat untuk saling mengunjungi sanak saudara dan tetangga. Tradisi silaturahmi ini memperkuat hubungan antarkeluarga dan masyarakat, sekaligus menjadi ajang untuk berbagi kebahagiaan setelah merayakan kemenangan spiritual.

Kunjungan ini sering kali diisi dengan obrolan hangat, berbagi makanan tradisional, dan saling mendoakan. Silaturahmi pada Umanis Galungan menjadi wujud nyata dari nilai kekeluargaan dan solidaritas yang terus dijaga dalam budaya Bali.

Nilai-Nilai Luhur dalam Persiapan Galungan

Persiapan Hari Raya Galungan tidak hanya tentang melaksanakan ritual keagamaan, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi masyarakat Bali. Berikut adalah beberapa nilai yang terkandung dalam tradisi gotong royong ini:

  1. Persatuan dan Kesatuan: Kegiatan seperti ngayah, pembuatan penjor, dan pembersihan lingkungan mencerminkan semangat persatuan, di mana masyarakat bekerja bersama untuk tujuan yang sama.
  2. Solidaritas Sosial: Gotong royong menunjukkan kepedulian terhadap sesama, di mana setiap individu rela membantu tanpa pamrih demi keberhasilan upacara dan kesejahteraan komunitas.
  3. Kerja Ikhlas (Ngayah): Semangat ngayah mengajarkan pentingnya bekerja dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan masyarakat.
  4. Kekeluargaan dan Silaturahmi: Tradisi memasak bersama dan saling mengunjungi memperkuat hubungan antargenerasi dan menjaga keharmonisan dalam keluarga serta komunitas.

Persiapan Hari Raya Galungan adalah cerminan nyata dari nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah mengakar kuat dalam budaya Bali. Melalui tradisi seperti ngayah, pembuatan penjor, memasak bersama, pembersihan lingkungan, dan silaturahmi, masyarakat Bali tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan solidaritas sosial.

Nilai-nilai luhur ini tidak hanya relevan dalam konteks Galungan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan saling mendukung. Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat Bali terus menghidupkan semangat gotong royong yang menjadi warisan budaya tak ternilai. 

***

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE