03/11/2026

Pekerjaan yang Cocok untuk Kelahiran Soma Wage Wuku Tambir

begini ramalan jumat paing

ilustrasi bayi lahir pada Jumat Paing/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Soma Wage Wuku Tambir merupakan salah satu penanggalan penting dalam Kalender Bali yang masih digunakan secara aktif oleh masyarakat Hindu Bali hingga saat ini.

Kombinasi hari Soma (Senin), pasaran Wage, dan Wuku Tambir memiliki nilai budaya dan spiritual yang bersumber dari tradisi wariga Bali. Pemahaman terhadap hari ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang berfungsi sebagai pedoman dalam aktivitas adat, sosial, dan keagamaan.

Posisi Soma Wage Wuku Tambir dalam Kalender Bali

Kalender Bali menggunakan sistem pawukon yang terdiri atas 210 hari dan terbagi ke dalam 30 wuku. Wuku Tambir berada pada urutan ke-26 dalam siklus pawukon. Soma Wage Wuku Tambir terjadi ketika hari Soma bertepatan dengan pasaran Wage dalam pekan Wuku Tambir. Perhitungan ini mengikuti pakem tradisional yang telah digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.

Berdasarkan Kalender Bali yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta rujukan lontar wariga, setiap kombinasi hari memiliki karakter perhitungan yang berbeda. Soma Wage Wuku Tambir dicatat memiliki nilai urip tertentu yang menjadi dasar penentuan dewasa ayu atau hari baik dalam tradisi Bali.

Makna Wuku Tambir Menurut Lontar Wariga

Dalam tradisi wariga, Wuku Tambir dinaungi oleh Sang Hyang Siwa dengan Dewi Durga sebagai pasangannya. Lontar Wariga Gemet dan Wariga Palalintangan menggambarkan Wuku Tambir sebagai wuku yang mencerminkan keteguhan, keteraturan, dan kestabilan. Karakter tersebut menjadi acuan dalam membaca pengaruh hari-hari yang berada di bawah Wuku Tambir, termasuk Soma Wage Wuku Tambir.

Hari Soma dalam Kalender Bali berkaitan dengan unsur bulan dan pengaruh terhadap pikiran. Pasaran Wage memiliki nilai urip yang memengaruhi keseimbangan perhitungan hari. Kombinasi Soma dan Wage pada Wuku Tambir menghasilkan perhitungan yang digunakan oleh sulinggih dan ahli wariga dalam menentukan kecocokan waktu untuk berbagai kegiatan.

Fungsi Soma Wage Wuku Tambir dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Dalam kehidupan sehari-hari, Soma Wage Wuku Tambir sering dijadikan rujukan dalam menentukan waktu pelaksanaan upacara keagamaan, kegiatan adat, serta aktivitas pertanian. Informasi penanggalan ini digunakan sebagai pedoman untuk menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai tradisi Bali.

Sejumlah catatan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) serta publikasi kebudayaan Bali menyebutkan bahwa sistem penanggalan Bali berfungsi sebagai panduan waktu yang bersifat praktis dan kultural. Pengetahuan mengenai Soma Wage Wuku Tambir membantu masyarakat memahami struktur waktu berdasarkan kearifan lokal yang telah diwariskan secara berkelanjutan.

Sumber Tradisi dan Keakuratan Data Kalender Bali

Informasi mengenai Soma Wage Wuku Tambir bersumber dari Kalender Bali resmi, lontar-lontar wariga, serta kajian akademik tentang sistem penanggalan tradisional Bali. Lontar wariga menjadi rujukan utama dalam penentuan wuku, wewaran, dan karakter hari. Lembaga kebudayaan dan institusi pendidikan di Bali juga secara rutin menerbitkan kalender dan kajian yang merujuk pada sumber-sumber klasik tersebut.

Keberlanjutan penggunaan Kalender Bali menunjukkan konsistensi metode perhitungan yang digunakan. Soma Wage Wuku Tambir tercatat secara sistematis dalam siklus pawukon dan dapat diverifikasi melalui kalender Bali yang diterbitkan setiap tahun.

Upaya Pelestarian Pengetahuan Kalender Bali

Pemahaman tentang Soma Wage Wuku Tambir menjadi bagian dari pelestarian warisan budaya Bali. Pengetahuan ini berfungsi sebagai penanda waktu sekaligus sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Dokumentasi dan publikasi mengenai Kalender Bali terus dilakukan oleh akademisi dan lembaga kebudayaan untuk menjaga kesinambungan pengetahuan tradisional.

Dengan merujuk pada lontar wariga, Kalender Bali resmi, dan kajian lembaga kebudayaan, informasi mengenai Soma Wage Wuku Tambir tetap terjaga keakuratannya. Penanggalan ini hadir sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang hidup dan digunakan secara nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026