22/01/2026

Ramalan Jodoh Suami-Istri Menurut Tradisi Hindu Bali: Panduan Spiritual Memilih Pasangan Hidup

ramalan jodoh menurut primbon bali

ilustrasi pernikahan /balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam tradisi spiritual Hindu Bali, pertemuan antara laki-laki dan perempuan (petemon suami-istri) bukanlah sesuatu yang dianggap sepele. Proses perjodohan diyakini memiliki pengaruh besar terhadap keharmonisan rumah tangga, dan hal ini telah lama menjadi bagian dari warisan budaya leluhur. Melalui berbagai hitungan wariga atau neptu yang bersumber dari sistem kalender Bali, masyarakat bisa mengetahui apakah suatu hubungan jodoh membawa keberuntungan atau justru tantangan.

Menakar Kecocokan Berdasarkan Neptu dan Hari Kelahiran

Salah satu metode yang digunakan adalah dengan menghitung neptu hari kelahiran dari calon suami dan istri, yang terdiri dari kombinasi Sapta Wara (7 hari) dan Panca Wara (5 pasaran). Total neptu dari masing-masing pihak kemudian dibagi 9, dan sisanya akan mengindikasikan seperti apa kehidupan rumah tangga ke depan.

Berikut makna dari sisa pembagian tersebut:

  • Sisa 3 dan 9: Tanda kemakmuran, rumah tangga dipenuhi rejeki.

  • Sisa 2 dan 7: Banyak anak, namun rentan kehilangan.

  • Sisa 3 dan 5: Cinta cepat bersemi, tapi berisiko berpisah.

  • Hari lahir juga punya arti: Misalnya Selasa dan Rabu dianggap membawa kekayaan, Rabu dan Sabtu dianggap baik, sementara Minggu dan Senin dianggap membawa kekayaan namun juga tantangan kesehatan.

Rumus Pemilihan Hari Baik untuk Pernikahan

Sistem lain yang digunakan adalah rumus Tri Pramana atau Sodasa Rsi, yang melibatkan penjumlahan total neptu dari Sapta Wara, Panca Wara, dan Sad Wara kedua calon mempelai. Angka tersebut dibagi 16, dan sisa pembagiannya memiliki arti khusus:

  1. Bergejolak – hubungan penuh ujian.

  2. Banyak pengeluaran – sering menghadapi kesulitan finansial.

  3. Sering bertentangan – sulit menemukan kesepakatan.

  4. Sulit punya keturunan – peran dominan dalam rumah tangga sering berbalik.

  5. Penuh kasih dan harmonis – rumah tangga sejuk dan penuh pengertian.

  6. Banyak penderitaan – perlu penguatan spiritual untuk selamat.

  7. Perkembangan lambat – rejeki ada tapi butuh kesabaran.

  8. Serba kekurangan – rumah tangga rentan perceraian.

  9. Kaya tapi sering ribut – harta banyak namun tidak membawa ketenangan.

  10. Berwibawa tapi istri dominan – suami cenderung takut istri.

  11. Selalu puas dan indah – hidup penuh berkah.

  12. Murah rejeki – pasangan saling mendukung dalam suka dan duka.

  13. Langgeng tapi berisiko mati mendadak – jika panjang umur, hidup makmur.

  14. Bahagia namun berkurang – bisa miskin jika tak hati-hati.

  15. Kurang harmonis – sering berselisih, rumah tangga tidak tenang.

  16. Selalu berkembang – keluarga sukses, anak-anak berhasil.

Ramalan 5 Tahunan Pernikahan: Menakar Fase Rumah Tangga

Dalam wariga Bali, hubungan rumah tangga juga diramal berdasarkan siklus lima tahunan, dengan metode pembagian total neptu suami dan istri (Sapta Wara + Panca Wara) dibagi 5. Hasil sisanya menunjukkan kondisi rumah tangga setiap lima tahun:

Contoh: Suami lahir Minggu Wage (5+4=9), istri lahir Senin Kliwon (4+8=12), total neptu 21. Maka:

Kesimpulan: Antara Warisan Leluhur dan Usaha Nyata

Ramalan jodoh berdasarkan wariga Bali memang menjadi salah satu pedoman dalam mempersiapkan pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Namun, hasil hitungan yang tampaknya “buruk” bukan berarti menjadi vonis mutlak. Doa, punia (sedekah), sembahyang, dan melukat diyakini bisa menetralisir energi negatif dan memperbaiki karma.

Bagi yang belum menikah, memahami sistem ini bisa menjadi bekal awal untuk mencari pasangan yang sejalan secara spiritual. Namun, perlu diingat bahwa jodoh adalah kehendak Tuhan. Upaya dan pemahaman adalah bentuk ikhtiar untuk membangun rumah tangga yang sakinah, penuh berkah, dan harmonis.

***

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE