Sejarah Hari Raya Galungan: Awal Mula dan Sumber Lontar Bali
ilustrasi gambar penjor galungan oleh John Skodak/ Flicker/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Hari Raya Galungan merupakan salah satu perayaan penting bagi umat Hindu di Bali yang dirayakan setiap enam bulan sekali (210 hari) pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen sakral untuk memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan), tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan spiritual Bali.
Artikel ini akan mengulas sejarah awal mula Hari Raya Galungan, akar mitologinya, serta sumber lontar Bali yang menjadi rujukan utama, dengan mengacu pada informasi yang terpercaya dan otentik.
Awal Mula Hari Raya Galungan
Perayaan Hari Raya Galungan memiliki akar sejarah yang kuat dalam mitologi Hindu Bali, khususnya berkaitan dengan kisah kemenangan Mpu Sangkul Putih melawan Raja Mayadenawa. Menurut tradisi lisan dan teks lontar, Mayadenawa adalah seorang raja yang sangat sakti namun menolak menyembah dewa-dewa. Ia bahkan melarang rakyatnya untuk beribadah di pura dan memerintahkan mereka untuk menyembah dirinya sebagai penguasa tunggal. Tindakan ini dianggap melanggar prinsip Dharma, yang menjunjung kebenaran, keadilan, dan keseimbangan.
Untuk mengatasi kekacauan yang diciptakan Mayadenawa, seorang pemuka agama bernama Mpu Sangkul Putih melakukan semedi untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Dalam meditasi mendalamnya, ia menerima wahyu untuk mencari bantuan ke Jawa Dwipa atau bahkan India. Dalam perjalanannya, Mpu Sangkul Putih mendapat dukungan dari Dewa Indra, dewa penguasa cuaca dalam mitologi Hindu. Dengan bantuan divine ini, Mpu Sangkul Putih berhasil mengalahkan Mayadenawa dalam pertempuran sengit. Kemenangan ini menjadi simbol kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma), yang kemudian diperingati sebagai Hari Raya Galungan.
Berdasarkan mitologi ini, Hari Raya Galungan tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Perayaan ini mengajarkan nilai-nilai keberanian, keimanan, dan perjuangan untuk mempertahankan kebenaran.
Sumber Lontar Bali sebagai Rujukan
Sejarah Hari Raya Galungan juga didokumentasikan dalam beberapa lontar Bali, khususnya Lontar Purana Bali Dwipa. Menurut lontar ini, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada tahun 882 Masehi (atau tahun 804 Saka). Lontar ini menyebutkan bahwa perayaan Galungan awalnya diadakan di berbagai wilayah di Indonesia oleh komunitas Hindu, bukan hanya di Bali. Namun, seiring waktu, perayaan ini lebih kuat melekat pada tradisi Hindu Bali karena pengaruh budaya dan agama yang kental di pulau ini.
Lontar Purana Bali Dwipa juga mencatat bahwa perayaan Galungan sempat terhenti selama beberapa periode karena berbagai faktor, seperti perubahan politik atau sosial di masa lampau. Namun, tradisi ini kemudian dihidupkan kembali dan kini menjadi salah satu perayaan rutin yang dirayakan dengan penuh semangat oleh masyarakat Hindu Bali setiap 210 hari sekali, sesuai dengan penanggalan kalender Bali.
Selain Lontar Purana Bali Dwipa, beberapa lontar lain seperti Lontar Sundarigama juga menjadi rujukan penting dalam memahami tata cara perayaan Galungan. Lontar ini berisi panduan tentang rangkaian ritual yang dilakukan menjelang dan selama Hari Raya Galungan, termasuk makna filosofis dari setiap tahapan upacara. Misalnya, pemasangan penjor, tiang bambu yang dihiasi dengan janur dan hasil bumi, dijelaskan sebagai simbol kesejahteraan, kesuburan, dan penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa.
Tradisi dan Rangkaian Upacara Galungan
Hari Raya Galungan diawali dengan serangkaian upacara yang dimulai jauh sebelum hari puncak perayaan. Berikut adalah beberapa tahapan penting dalam rangkaian perayaan Galungan berdasarkan tradisi Hindu Bali:
- Tumpek Wariga (25 hari sebelum Galungan): Hari ini didedikasikan untuk menghormati tumbuh-tumbuhan dan alam sebagai sumber kehidupan.
- Sugihan Jawa dan Sugihan Bali: Dilakukan beberapa hari sebelum Galungan untuk menyucikan diri dan lingkungan.
- Hari Penyekeban, Penyajan, dan Penampahan: Hari-hari ini diisi dengan persiapan upacara, seperti membuat sesajen dan mempersiapkan penjor.
- Hari Raya Galungan: Puncak perayaan di mana umat Hindu melaksanakan sembahyang di pura dan rumah masing-masing untuk memohon berkah.
- Hari Kuningan (10 hari setelah Galungan): Penutup perayaan yang menandakan kembalinya para leluhur ke alam niskala setelah memberikan berkah.
- Pegat Uwakan: Buda Kliwon Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian galungan.
Setiap tahapan ini memiliki makna filosofis dan praktis yang memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari Raya Galungan adalah perayaan yang kaya akan makna spiritual, budaya, dan sejarah bagi masyarakat Hindu Bali. Berakar dari mitologi kemenangan Mpu Sangkul Putih atas Mayadenawa, serta didukung oleh catatan dalam Lontar Purana Bali Dwipa, perayaan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Bali. Dengan pemasangan penjor, rangkaian upacara yang terstruktur, dan semangat untuk menjunjung Dharma, Hari Raya Galungan terus hidup sebagai simbol keseimbangan dan kebenaran. Melalui perayaan ini, umat Hindu Bali tidak hanya memperingati kemenangan masa lalu, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual untuk menghadapi tantangan masa kini.

