02/11/2026

Banyu Pinaruh Sebagai Penyucian Jiwa, Candraswara: Rumah Adalah Tempat Penglukatan Terdekat

Rekomendasi Tempat Melukat di Gianyar, Terbaru 2024

Tirta Empul menjadi salah satu rekomendasi tempat melukat di Gianyar/ commons.wikimedia/ Balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM — Umat Hindu di Bali merayakan Hari Suci Banyu Pinaruh yang jatuh sehari setelah perayaan Saraswati, tepatnya pada Redite Paing Wuku Sinta. Hari suci ini dimaknai sebagai momentum penyucian diri lahir dan batin dari kegelapan pikiran (awidya) menggunakan air ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Akademisi sekaligus Pedharmawacana Candra Prawartana atau yang sering disapa Candraswara menjelaskan bahwa Banyu Pinaruh diidentikkan dengan simbolis ilmu pengetahuan yang mengalir layaknya air menyirami benih tanaman. Pinaruh sendiri merupakan kecerdasan semesta yang dialirkan lewat pembersihan air atau Tirtha Panglukatan sebagai Tirtha Amerta Vinayam, yakni air pembawa kehidupan dan kebijaksanaan.

Dalam tradisi masyarakat, penglukatan Banyu Pinaruh kerap dilakukan di pesisir pantai, campuhan, maupun danau. Namun, Candraswara menyebutkan bahwa ritual pembersihan ini sejatinya sangat memungkinkan dan sah dilakukan di rumah masing-masing.

Akademisi sekaligus Pedharmawacana Candra Prawartana atau yang sering disapa Candraswara
Akademisi sekaligus Pedharmawacana Candra Prawartana atau yang sering disapa Candraswara/ Sukma/ balikonten

“Banyupinaruh dapat dilaksanakan di rumah dengan cara memohon anugrah dari Hyang Guru atau Ida Bhatara Guru dengan prabhawanya sebagai Dewi Saraswati, dengan cara memohon tirtha Hyang Guru ditambahkan dengan mandi air kumkuman plutuk. Di rumah merupakan tempat penglukatan Banyupinaruh yang paling dekat,” ungkap Candraswara.

Ia merujuk pada tata cara yang tertuang dalam Lontar Sundarigama dan Lontar Karmapura yang mengatur tentang cara memaknai Hari Suci Saraswati dan Banyu Pinaruh, hingga etika saat berada di tempat suci. Setelah jasmani disirami lewat penyucian air, pembersihan rohani harus dilanjutkan dengan memupuk ilmu pengetahuan.

Selain Banyu Pinaruh, rangkaian ini merupakan bagian dari siklus transformasi diri yang berlangsung setiap 210 hari (sekali dalam 30 wuku). Siklus ini diawali dari Saniscara Umanis Watugunung (Saraswati) sebagai pemuliaan widya, Redite Paing Sinta (Banyu Pinaruh) sebagai penyucian pikiran, Soma Pon Sinta (Soma Ribek) sebagai refleksi kemakmuran dari ilmu yang matang, Anggara Wage Sinta (Sabuh Mas) sebagai pemujaan Bhatara Mahadewa atas harta benda hasil pengetahuan, hingga ditutup pada Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi) sebagai benteng spiritual agar ilmu tetap berjalan di atas dharma.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026