Tepis Stigma SDM Pariwisata Tak Produktif, SPSI Badung Sebut Devisa dan PHR Tinggi Bukti Kerja Karyawan
Ketua FSP Par SPSI Kabupaten Badung, Slamet Suranto/ balikonten
MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata (FSP Par) SPSI Kabupaten Badung menentang keras anggapan sejumlah pihak yang mempertanyakan kualitas serta produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) sektor pariwisata di Bali jelang pembahasan upah minimum.
Isu mengenai rendahnya produktivitas pekerja kerap dimunculkan kembali oleh pihak tertentu setiap kali agenda penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mendekat. Serikat pekerja menilai narasi tersebut tidak realistis dan berbanding terbalik dengan fakta pertumbuhan industri pariwisata di Pulau Dewata.
Ketua FSP Par SPSI Kabupaten Badung, Slamet Suranto, mengkritik keras klaim yang meragukan kapasitas tenaga kerja lokal di tengah keberhasilan sektor pariwisata Bali dalam menyumbangkan devisa besar bagi negara maupun pendapatan daerah melalui Pajak Hotel dan Restoran (PHR).
“Kami terus terang menentang pernyataan-pernyataan yang menyebut SDM pariwisata di Bali kurang produktif. Kita lihat kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan di Bali semua survive. Hasilnya bagus, bahkan ada perusahaan yang sudah mengembangkan sayapnya, tapi masih dibilang kita tidak produktif,” tegas Slamet Suranto di Denpasar, Rabu (23/9/2026).
Slamet menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan pariwisata bertahan dan berkembang hingga menghasilkan pendapatan daerah yang tinggi merupakan bukti nyata kontribusi dan kerja keras para pekerja di lapangan. Kontribusi tersebut telah teruji selama bertahun-tahun dalam menjaga keberlangsungan operasional industri pariwisata nasional.
Ia mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk menghentikan stigma negatif terhadap produktivitas pekerja pariwisata. Pihaknya berharap narasi-narasi yang mendiskreditkan tenaga kerja lokal tidak lagi digunakan sebagai pola tahunan untuk menahan penyesuaian hak-hak pekerja.
***
