Tradisi Meboros di Busungbiu Buleleng, Tradisi Perburuan Kijang Kuno yang Masih Hidup di Era Modern

Maboros I Bulu Pangi: Tradisi Perburuan Kijang Kuno di Desa Busungbiu yang Masih Hidup di Era Modern/ balikonten/ Pemkab Buleleng
BULELENG, BALIKONTEN.COM – Pagi Jumat, 3 Oktober 2025, hutan-hutan di sekitar Desa Adat Busungbiu, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, kembali bergema dengan suara langkah kaki dan doa-doa khidmat. Ratusan warga desa, dari pemuda hingga tetua adat, berbondong-bondong melaksanakan Tradisi Maboros I Bulu Pangi.
Ritual tersebut merupakan ritual perburuan kijang yang menjadi puncak syukur dalam upacara Pujawali di Pura Puseh setempat. Bukan sekadar berburu, tradisi ini adalah jembatan antara leluhur dan keturunan, mengingatkan betapa harmoni antara manusia dan alam masih jadi inti kehidupan masyarakat Bali.
Setelah sembahyang pagi, para pemburu mengikuti petunjuk mistis dari Ida Bhatara, dan tak lama kemudian, seekor kijang atau bulu pangi seperti disebut dalam bahasa Bali, ditemukan dengan mudah. Saat kijang itu dijemput dalam prosesi mendak, sorak-sorai gembira memenuhi udara. Ini bukan cerita dongeng, melainkan kenyataan yang baru saja terjadi, menegaskan bahwa tradisi kuno ini tetap relevan di tengah gempuran modernitas.
Akar Sejarah: Dari Prasejarah hingga Era Kerajaan Bali
Tradisi Maboros I Bulu Pangi bukanlah warisan baru. Beberapa sumber menyebutnya sudah ada sejak zaman prasejarah, ketika masyarakat Bali bergantung pada perburuan untuk bertahan hidup. Sementara itu, catatan lain menelusurinya ke abad ke-16, sekitar tahun 1500-an, saat sesepuh Desa Busungbiu berhasil mendirikan Pura Puseh sebagai pusat spiritual desa. Saat itu, keberhasilan membangun pura dirayakan dengan perburuan simbolis ini, sebagai bentuk syukur atas pemberian alam dan dewa.
Menurut Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, tradisi ini lahir dari kisah keberhasilan leluhur dalam menciptakan tempat suci, di mana perburuan kijang menjadi penanda bahwa desa telah diterima oleh alam semesta. Secara sosiologis, Maboros bukan hanya ritual, ia adalah pengingat kolektif tentang ketangguhan komunitas dalam menghadapi tantangan, dari paceklik hingga bencana alam. Di Desa Busungbiu, yang dikelilingi hutan lebat, tradisi ini juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan satwa liar, meski kini dilakukan dengan etika modern yang menjaga keseimbangan ekosistem.
Proses Ritual: Langkah Demi Langkah Menuju Syukur
Apa yang membuat Maboros I Bulu Pangi begitu memikat? Jawabannya ada pada ritmenya yang terstruktur, penuh makna spiritual dan gotong royong. Ritual ini biasanya dimulai pagi buta, selaras dengan upacara Ngusaba Desa yang lebih besar.
Pertama, ada sesi persembahyangan di Pura Desa. Warga berkumpul, menyiapkan sesaji sederhana seperti bunga, buah, dan air suci, sambil memohon restu Ida Bhatara Siwa. Ini momen tenang, di mana doa-doa bergema, menciptakan suasana sakral yang jarang dirasakan di kehidupan sehari-hari.
Kemudian, datanglah Ngerauhang, bagian paling mistis. Pemangku adat, membawa sesuhunan (patung suci), memberikan petunjuk melalui petapakan atau gerakan simbolis. Petunjuk ini bisa berupa arah angin, suara burung, atau bahkan mimpi malam sebelumnya, yang menunjukkan lokasi bulu pangi.
Setelah petunjuk didapat, rombongan perburuan bergerak ke hutan. Tak ada senjata modern, semuanya dilakukan dengan perangkap tradisional dan pengetahuan lokal tentang jejak satwa. Jika kijang tertangkap, seringkali dalam waktu kurang dari satu jam, menandakan sebagai swecan atau pemberian langsung dari Bhatara. Prosesi mendak pun dimulai, kijang dibawa kembali ke desa dengan iringan musik gamelan dan tarian spontan, disambut sorak-sorai sebagai tanda keberhasilan ritual Ngajit sebelumnya.
Pelaksanaan 2025: Kijang Ditemukan Cepat, Syukur Melimpah
Pada 3 Oktober 2025, tradisi ini berjalan mulus seperti biasa, tapi dengan sentuhan kontemporer yang membuatnya semakin inklusif. Krama desa dari banjar Semprong memimpin perburuan, dan kijang pertama berhasil ditangkap hanya dalam waktu singkat setelah Ngerauhang, hal ini menjadi bukti bahwa ritual Ngajit sebelumnya sukses besar. Ribuan warga dan wisatawan menyaksikan prosesi mendak, sehingga menarik perhatian pecinta budaya Bali dari seluruh dunia.
Mengapa Tradisi Ini Harus Tetap Dijaga?
Di tengah arus globalisasi yang menggerus banyak adat istiadat, Maboros I Bulu Pangi seperti mercusuar bagi Desa Busungbiu. Ia tidak hanya melestarikan sejarah prasejarah Bali, tapi juga mendidik generasi muda tentang nilai-nilai seperti hormat pada alam dan gotong royong. Pemerintah daerah Buleleng, melalui Dinas Kebudayaan, terus mendukung dengan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda, sambil memastikan praktiknya ramah lingkungan.
Bagi wisatawan, ini merupakan kesempatan emas untuk menyaksikan Bali yang autentik, bukan hanya pantai dan spa, tetapi ritual hidup yang penuh misteri. Jika Anda ke Buleleng saat purnama kapat, sempatkan mampir ke Busungbiu. Siapa tahu, Anda bisa merasakan getar petunjuk dari Bhatara dan pulang dengan cerita yang tak lekang oleh waktu. Tradisi seperti ini mengingatkan kita di balik keindahan Bali, ada kisah-kisah kuno yang terus bernapas, menjaga keseimbangan dunia.
***

