10/09/2026

Keagungan Pura Dasar Buana Gelgel, Ikon Persatuan Budaya Bali yang Abadi

sejarah pura dasar buana gelgel

Pura Dasar Buana Gelgel di Klungkung/ Google Maps/ Balikonten

KLUNGKUNG, BALIKONTEN.COM – Pura Dasar Buana Gelgel berdiri sebagai saksi bisu kejayaan sejarah di Klungkung, Bali, yang dulunya menjadi pusat kerajaan pulau ini. Tempat suci ini menyimpan berbagai simbol mendalam yang mencerminkan perpaduan agama Hindu dan tradisi lokal, menciptakan daya pikat yang tak lekang waktu bagi masyarakat dan pengunjung.

Di Bali, ratusan pura atau kuil Hindu tersebar luas, memainkan peran sentral dalam rutinitas harian serta ritual keagamaan. Di antara semuanya, Pura Dasar Buana Gelgel menonjol dengan keistimewaannya. Berlokasi di Klungkung, pura ini merayakan pujawali setiap Soma Kliwon Kuningan. Sebagai salah satu Pura Dang Kahyangan Jagat di Bali, pembangunannya diprakarsai oleh Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilatikta atau Majapahit pada tahun 1189 Caka, setara dengan 1267 Masehi. Pendiriannya bertujuan menghormati para guru suci yang berjasa menyebarkan ajaran Hindu di Bali.

Menurut catatan sejarah, nama Pura Dasar Buana Gelgel diberikan oleh Dalem Ketut Ngulesir, atau dikenal sebagai Sri Semara Kepakisan, yang memerintah Gelgel sekitar tahun 1302 Saka atau 1380 Masehi. Saat itu, statusnya ditingkatkan menjadi pura kerajaan, menjadikannya fondasi persatuan masyarakat Bali. Dalam bahasa Bali, “Dasar” bermakna fondasi, sementara “Buana Gelgel” merujuk pada dinasti Gelgel yang pernah berkuasa. Nama ini menekankan keterkaitan erat antara ajaran Hindu dan jejak sejarah pulau Dewata.

Pura ini merupakan peninggalan era keemasan Kerajaan Gelgel, yang terus direstorasi sepanjang abad. Mulai dari masa Dalem Ketut Ngulesir (1293-1527) yang memulihkannya dengan meniru gaya Majapahit, hingga Raja Dalem Waturenggong (1520-1558) yang memperluas dan mempercantiknya. Pandita kerajaan Dang Hyang Nirartha turut menyumbang dengan menambahkan pelinggih Padma Tiga, membuat struktur semakin rumit dan menawan. Pada era Dalem Waturenggong, upaya menyatukan empat kelompok masyarakat dalam ibadah di pura ini semakin diperkuat, menjadi pondasi semangat keagamaan di kerajaannya.

Arsitektur Pura Dasar Buana Gelgel mewakili keindahan klasik Bali, dengan atap bertingkat yang elegan, candi kecil berukir halus, serta gerbang kuno yang memukau. Dikelilingi taman hijau dan pohon suci, suasananya menawarkan kedamaian spiritual. Salah satu elemen ikonik adalah Candi Bentar, gerbang berupa dua menara tinggi di pintu masuk, yang melambangkan pemisahan antara dunia fana (Bhuana Alit) dan alam roh (Bhuana Agung). Ini mengingatkan pentingnya harmoni antara materi dan spiritual.

Struktur pura mengikuti konsep Tri Mandala: Nista Mandala dengan dua pohon beringin raksasa yang memberikan teduh sejuk; Madya Mandala yang mencakup Bale Agung sepanjang 12 meter, Bale Pesanekan, serta tempat penyimpanan pratima dan petapakan dari pura-pura di Desa Pakraman Gelgel; dan Utama Mandala sebagai pelataran utama untuk persembahyangan, termasuk odalan atau pujawali setiap enam bulan atau pada Purnama Kapat.

Di dalamnya, altar-alta dihiasi tumpeng nasi dan sesajen lain sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual Hindu Bali. Tiga meru bertingkat menghiasi halaman utama: Meru Tumpang Solas (11 tingkat) untuk keturunan Satrya Dalem; Meru Tumpang Telu (tiga tingkat) untuk Mpu Gnijaya, leluhur Pasek; serta Meru Tumpang Telu lain untuk kelompok Pande. Upacara di sini diiringi musik gamelan dan tarian tradisional, menciptakan nuansa hidup dan penuh warna.

Kini, Pura Dasar Buana Gelgel berada di Desa Pakraman Gelgel yang meliputi 28 banjar dan tiga desa dinas: Gelgel, Kamasan, serta Tojan. Tak hanya sebagai tempat ibadah, pura ini jadi pusat kegiatan sosial dan budaya, mempertahankan identitas unik Bali. Dalam perayaan besar atau upacara adat, warga berkumpul untuk berdoa bersama, mempererat tali persaudaraan. Keunikan ini menarik wisatawan, terutama saat pujawali setiap Senin Kliwon Kuningan, lima hari pasca Galungan, ketika suasana penuh kemeriahan.

Pura Dasar Buana Gelgel terletak di Desa Gelgel, Klungkung, sekitar 42 kilometer dari Denpasar. Berdiri di lahan luas, tampak megah dan hijau di pinggir jalan Gelgel-Jumpai. Seperti pura Bali pada umumnya, ia memiliki tiga mandala. Nista Mandala ditandai pohon beringin kuno yang angker. Di Madya Mandala, pengunjung bisa melihat Pelinggih Bale Agung yang unik, bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan tempat penyimpanan pratima serta petapakan untuk upacara Karya Agung Pedudusan pada Purnama Kapat.

Utama Mandala menyimpan belasan pelinggih, termasuk Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga, dan lainnya. Setahun, ada dua wali atau karya: satu pada Pamacekan Agung, dan Pedudusan pada Purnama Kapat.

Dibangun oleh Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Majapahit pada 1189 Caka atau 1267 Masehi, pura ini termasuk Dang Kahyangan Jagat. Pura semacam ini didirikan untuk menghormati jasa pandita suci, dikelompokkan berdasarkan sejarah kerajaan Bali, tak lepas dari ajaran Rsi Rena dalam Hindu.

Pura atau ashram dibangun di lokasi maharsi melakukan yoga semadi sebagai penghormatan. Contohnya Pura Silayukti di Karangasem untuk Mpu Kuturan, atau Pura Dasar Buana Gelgel untuk Empu Ghana, brahmana kunci perkembangan Hindu di Bali, yang beryoga di sini.

Selain Dang Kahyangan, pura berjarak 3 kilometer dari Semarapura, Klungkung, ini jadi pusat panyungsungan catur warga: soroh Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), Pande (Mahasamaya Warga Pande), dan Brahmana Siwa. Semua menyembah Ida Batara di sini.

Masing-masing memiliki panyungsungan: Meru Tumpang Solas untuk Arya dan Satria Dalem; Meru Tumpang Tiga untuk keturunan Mpu Geni (Pasek); Meru Tumpang Tiga untuk Pande; Padma Tiga untuk Brahmana. Dengan banyak soroh, pura ini diyakini pemersatu jagat melalui konsep “kaula gusti menunggal”.

Pura luas ini juga panyungsungan Subak Gde Suwecapura, seperti Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe, dan Toya Cawu, dilakukan saat Karya Pedudusan Agung dan Pawintenan pada Purnama Kapat.

Diempon Desa Pakraman Gelgel dengan 28 banjar dan tiga desa dinas, keberadaannya terkait Keraton Suwecapura dulu di Gelgel. Meski didirikan 1189 Saka atau 1267 Masehi, sebelum raja pertama Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400), pura ini warisan agung.

Sejarahnya terkait Mpu Ghana dari akhir abad IX Masehi, dibangun Mpu Dwijaksara sebagai penghormatan. Empu Ghana, brahmana dari Jawa, tiba di Bali era Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni (910-933 Saka atau 988-1011 Masehi). Penganut Ghanapatya, menjalani Sukla Brahmacari seumur hidup.

Setelah Kerajaan Suwecapura berdiri, pura jadi merajan keluarga raja, di timur laut keraton di Banjar Jero Agung, Gelgel. “Letaknya di hulu keraton, dulunya disungsung keluarga raja,” ujar Agung Anom Wijaya. Erat dengan Kerajaan Suwecapura, situs peninggalannya masih dilestarikan hingga kini.

Pura Dasar Buana Gelgel menunjukkan bagaimana Bali menjaga harmoni agama dan budaya. Sebagai tempat suci dan simbol keselarasan, ia terus berperan vital bagi masyarakat Bali, memperkaya warisan pulau ini dengan keindahan tradisi abadi.

 

 

 

IKUTI KAMI DI GOOGLE NEWS UNTUK INFORMASI LEBIH UPDATE