03/11/2026

Tren Operasi Katarak: Tak Sekadar Sembuh, Pasien Kini Ingin Bebas Kacamata

dr. Ni Kompyang Rahayu, Sp.M(K),

dr. Ni Kompyang Rahayu, Sp.M(K)/ balikonten

MANGUPURA, BALIKONTEN.COM – Paradigma masyarakat terhadap tindakan operasi katarak kini mengalami pergeseran drastis hingga 180 derajat.

Jika dahulu operasi katarak sekadar bertujuan mengembalikan penglihatan yang buram, kini pasien menuntut kualitas visual yang lebih optimal, bahkan ingin terbebas dari ketergantungan kacamata.

Dokter Spesialis Mata Konsultan, dr. Ni Kompyang Rahayu, Sp.M(K), menguraikan bahwa perkembangan teknologi medis diagnostik dan pembedahan modern menjadi faktor utama yang memungkinkan ekspektasi pasien tersebut terpenuhi secara presisi.

“Dulu trennya hanya untuk menghilangkan katarak, pasien dari tidak bisa melihat menjadi melihat kembali. Sekarang trennya sudah berbeda 180 derajat. Pasien ingin memiliki kualitas penglihatan yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau sebelumnya memakai kacamata, setelah operasi katarak mereka ingin terbebas dari kacamata,” ujar dr. Ni Kompyang di Denpasar, Sabtu (10/10/2026).

Inovasi teknologi saat ini juga memberikan dampak signifikan terhadap waktu pemulihan pascaoperasi.

Banyak pasien yang melaporkan perbaikan penglihatan secara mendasar hanya satu hari setelah pembedahan dilakukan.

Meski demikian, pembatasan aktivitas fisik dan langkah perlindungan mata tetap dianjurkan guna mencegah komplikasi.

“Banyak pasien saya setelah tindakan operasi, besoknya sudah bisa melihat seperti sedia kala. Aktivitas saya sarankan paling cepat seminggu. Banyak pasien dari luar daerah atau luar negeri yang seminggu kemudian sudah kembali, tapi tetap kita suggest untuk protect matanya, jangan langsung jalan-jalan ke pantai untuk menghindari infeksi,” jelasnya.

Di sisi lain, dr. Rahayu juga meluruskan kekhawatiran sebagian masyarakat terkait risiko komplikasi operasi katarak yang kerap dipicu oleh mitos atau pengalaman masa lalu.

Ia menegaskan bahwa kegagalan hasil pembedahan pada zaman dahulu sering kali disebabkan oleh adanya penyakit penyerta pada saraf mata yang tidak terdeteksi sebelum operasi.

“Dahulu banyak komplikasi setelah operasi katarak yang membuat masyarakat trauma. Padahal sebetulnya tidak tahu apa penyebabnya, apakah karena komplikasi operasi ataukah pasien tersebut memiliki penyakit lain selain katarak. Dengan teknologi diagnostik modern saat ini, kondisi saraf dan prediksi hasil pascaoperasi sudah bisa dipetakan sejak awal,” tuturnya.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026