Banten Sesuwuk, Menetralisir Vibrasi Negatif saat Tumpek Wayang
Banten Sesuwuk, Menetralisir Vibrasi Negatif saat Tumpek Wayang/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Setiap enam bulan sekali umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Wayang, hari suci yang jatuh pada pertemuan Wuku Wayang, Saniscara (Sabtu), dan Pancawara Kliwon dalam kalender Bali. Menjelang perayaan tersebut, umat Hindu memiliki tradisi khusus yang disebut mabanten Sesuwuk, yang dilaksanakan sehari sebelumnya pada Dina Kala Paksa atau Sukra Wage Wayang.
Di sejumlah daerah di Bali, hari ini juga dikenal sebagai pamagpag kala, yaitu momentum untuk menetralisir kekuatan negatif yang diyakini muncul pada waktu tersebut. Pada hari itu, umat Hindu biasanya memasang sesuwuk atau seselat sebagai penanda di setiap palinggih (bangunan suci) yang kemudian dijadikan satu ( diikat benang tridatu) dan dilebar atau dihaturkan di lebuh atau pintu masuk rumah saat hari Tumpek Wayang. Hal tersebut karena Dina Kala Paksa dipercaya sebagai waktu yang bersifat tenget (angker) atau leteh (kotor).
Pedharmawacana sekaligus Penata Layanan Operasional Urusan Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Putu Widya Candra Prawartana, M.Pd., saat dikonfirmasi Sabtu (14/3) menjelaskan bahwa Banten Sesuwuk dihaturkan sebagai upaya spiritual untuk menetralisir pengaruh waktu yang bersifat kala ala paksa atau waktu yang dianggap kurang baik.
Menurutnya, melalui persembahan tersebut umat memohon agar waktu yang bersifat negatif dapat dikembalikan menjadi hita kala paksa, yaitu waktu yang membawa keharmonisan dan keseimbangan.
“Banten sesuwuk yang dihaturkan menjelang Tumpek Wayang bertujuan mensterilkan atau menetralisir pengaruh kala yang bersifat ala paksa, sehingga waktu yang semula dianggap naas dapat kembali menjadi waktu yang harmonis,” ujarnya.
Secara simbolis, sesuwuk dibuat dari potongan daun pandan berduri sepanjang sekitar lima sentimeter yang diolesi kapur sirih dengan tanda tapak dara atau tanda silang. Potongan daun ini kemudian diletakkan di dalam nyiru (sidi) yang dilengkapi benang tridatu berwarna merah, putih, dan hitam.
Di dalam nyiru tersebut juga disertakan takir berisi triketuka yang terdiri dari mesui, kesuna (bawang putih), dan jangu, serta canang sari. Persembahan ini juga dilengkapi dengan api dakep, yaitu api yang dihasilkan dari sabut kelapa yang disilangkan. Setelah ritual selesai, sesaji biasanya diletakkan di tanah di depan pintu masuk rumah atau lebuh.
Tradisi Banten Sesuwuk sendiri tercantum dalam sejumlah lontar seperti Kala Tattwa, Sundarigama, dan Tapini Yadnya, yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan ritual tersebut. Melalui simbol duri pada daun pandan, umat diingatkan bahwa ketajaman bukan hanya untuk menolak penderitaan atau kesialan, tetapi juga sebagai sarana spiritual untuk mengelola waktu agar kembali menjadi hita atau membawa kebaikan.
Tumpek Wayang juga memiliki kaitan erat dengan kisah Dewa Kumara dalam mitologi Hindu. Dikisahkan bahwa Dewa Kumara hampir dimangsa oleh Batara Kala karena lahir pada Wuku Wayang. Oleh sebab itu, mereka yang lahir pada wuku tersebut biasanya disarankan menjalani ritual mebayuh oton hingga sapuh leger pada saat Tumpek Wayang sebagai upaya penyucian diri.
Tradisi Banten Sesuwuk pun menjadi salah satu simbol penting dalam kehidupan religius umat Hindu Bali, sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus upaya menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta menjelang Tumpek Wayang.

