03/11/2026

Pura Luhur Gonjeng: Situs Purba Pemohon Keturunan hingga Penawar Wabah Ternak di Tabanan

Pura Luhur Gonjeng di tabanan untuk memohon keturunan

Pura Luhur Gonjeng/ google maps, balikonten

TABANAN, BALIKONTEN.COM – Saat melintasi jalan umum jurusan Tabanan–Marga di wilayah Banjar Lodalang, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, mata pengendara akan tertuju pada sebuah pura yang berdiri kokoh di dekat pohon beringin. Tempat suci ini bernama Pura Luhur Gonjeng, sebuah situs religi yang kini berstatus sebagai cagar budaya dan diyakini telah berdiri sejak ratusan tahun silam.

Sebagai kawasan bersejarah, Pura Luhur Gonjeng menyimpan berbagai peninggalan purbakala berharga, seperti arca, lingga, dan yoni. Uniknya, posisi lingga dan yoni di pura ini terletak di area yang terpisah.

Batu lingga berada di area jaba tengah, tepat di bawah rerimbunan pohon kayu sugih yang teduh. Sementara itu, batu yoni bersemayam di Palinggih Luhur Kaler. Pemisahan ini sejalan dengan fungsi spiritual masing-masing simbol purba tersebut berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat.

Karunia Keturunan dari Lingga Purbakala

Kelian Pemaksan Pura Luhur Gonjeng, Ketut Sukayadnya, mengungkapkan bahwa batu lingga di pura ini memiliki kekuatan spiritual yang dipercaya masyarakat dapat melancarkan permohonan keturunan atau sentana. Paling sering, tempat ini menjadi tujuan bagi pasangan suami istri yang mendambakan kehadiran anak laki-laki (sentana lanang).

“Ada juga pasangan suami istri yang sudah lama membina rumah tangga tetapi belum dikaruniai buah hati, datang untuk nunas sentana (memohon keturunan) pada batu lingga ini,” ujar Sukayadnya, yang juga menjabat sebagai Kelian Dinas Banjar Lodalang.

Sukayadnya mengisahkan, beberapa pasangan suami istri yang sebelumnya hanya memiliki anak perempuan sempat melakukan masesangi (bervokal atau bernazar) di sini. Permohonan mereka pun terkabul dengan lahirnya anak laki-laki.

Ada fenomena menarik pada batu lingga setinggi sekitar 60 sentimeter ini. Menurut penuturan Sukayadnya, ukuran lingga tersebut dahulu cukup pendek. Seiring berjalannya waktu, batu yang tampak tumbuh langsung dari dalam tanah ini memanjang dan membesar dengan sendirinya.

Berdasarkan catatan purana yang sempat diteliti oleh pihak Purbakala dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Pura Luhur Gonjeng ini didirikan pada tahun 1565.

Yoni dan Tradisi Penawar Wabah Gerubug

Jika lingga menjadi simbol maskulinitas dan keturunan, keberadaan yoni di Palinggih Luhur Kaler memegang peranan yang berbeda. Benda suci purbakala yang bentuknya menyerupai lesung batu ini kerap menjadi tempat warga memohon obat atau nunas penawar.

Masyarakat di sekitar kawasan pura biasanya datang membawa permohonan ketika hewan ternak mereka terserang wabah penyakit mendadak dalam jumlah besar atau yang dikenal dengan istilah gerubug. Fenomena mistis ini paling sering dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menyelamatkan hewan ternak babi mereka dari ancaman kematian massal.

Untuk aktivitas ritual, pujawali atau piodalan di Pura Luhur Gonjeng diselenggarakan secara rutin setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Selasa, Anggara Kasih Tambir.

Jejak Sejarah dan Kaitannya dengan Puri Mengwi

Sejarah berdiri dan penamaan Pura Luhur Gonjeng ternyata berkaitan erat dengan kisah heroik masa lalu Kerajaan Mengwi. Perbekel Desa Kukuh, Made Sugianto, memaparkan bahwa eksistensi pura ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa pertempuran hebat di zaman kerajaan antara pasukan Puri Mengwi melawan pasukan Kerajaan Blambangan.

Saat pertempuran berkecamuk di kawasan Desa Kukuh, pasukan Puri Mengwi mendapatkan perlawanan yang sangat sengit dari musuh. Situasi genting ini sempat membuat pertahanan pasukan Puri Mengwi goyah.

“Perlawanan itu memicu guncangan hebat pada pasukan Puri Mengwi. Lama-kelamaan, kata gunjang berubah pengucapan menjadi genjong, dan akhirnya membeku menjadi kata gonjeng,” jelas Sugianto.

Prajurit Puri Mengwi yang terluka dan berhasil selamat dari serangan dahsyat tersebut kemudian membangun sebuah tempat pemujaan berupa pelinggih atau bebaturan yang kemudian dinamakan Gonjeng.

Pasukan yang selamat ini berhasil bertahan hidup karena memilih bersembunyi di dalam hutan lebat kawasan Kukuh yang posisinya berada di dataran rendah. Kawasan hutan persembunyian inilah yang kini dikenal luas sebagai objek wisata Alas Kedaton.

Kondisi geografis tempat persembunyian tersebut juga memengaruhi arsitektur pura di dalam hutan. Area jaba utama Pura Kedaton posisinya sengaja dibuat lebih rendah dari permukaan lahan di sekelilingnya, karena dulunya merupakan titik strategis prajurit Puri Mengwi untuk menghindar dari kejaran pasukan Kerajaan Blambangan.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026