02/11/2026

Kapan Purnama dan Tilem November 2026? Peralihan Sasih Kelima Menuju Kenem

jadwal rahinan selama januari 2025

kalender Bali tahun 2025/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Umat Hindu di Bali mengenal Purnama dan Tilem sebagai dua hari suci yang memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Kedua rahina ini hadir mengikuti peredaran bulan dan menjadi bagian dari perhitungan kalender Bali. Kehadirannya secara rutin mengingatkan umat untuk menjaga kesucian diri, memperkuat bhakti, serta membangun hubungan harmonis dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam tradisi Hindu Bali, Purnama berlangsung ketika bulan mencapai fase penuh, sedangkan Tilem bertepatan dengan fase bulan baru ketika cahaya bulan tidak tampak pada malam hari. Kedua fase tersebut memiliki makna tersendiri dalam kehidupan spiritual umat Hindu.

Purnama dikenal sebagai waktu untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Chandra atau manifestasi Tuhan yang berkaitan dengan bulan. Sementara itu, pada Tilem, umat Hindu melaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Surya. Kedua pemujaan tersebut berkaitan dengan konsep Sang Hyang Rwa Bhineda yang mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan alam semesta.

Purnama, Hari Suci untuk Memohon Kesucian dan Kesejahteraan

Purnama merupakan hari suci umat Hindu yang berlangsung ketika bulan terlihat bulat penuh. Dalam perhitungan kalender Hindu, fase ini dikenal sebagai Sukla Paksa, yakni paruh terang dalam perjalanan peredaran bulan.

Kata Purnama memiliki hubungan dengan kata purna yang bermakna penuh atau sempurna. Makna tersebut menjadi salah satu landasan umat Hindu dalam memahami Purnama sebagai momentum untuk memohon kesempurnaan hidup, kejernihan pikiran, serta anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada rahina Purnama, umat Hindu di Bali umumnya melaksanakan persembahyangan di sanggah, merajan, pura keluarga, maupun pura kahyangan. Persembahan berupa canang sari, daksina, dan sarana upakara lainnya dihaturkan sebagai wujud rasa syukur serta bhakti kepada Tuhan.

Pemujaan pada hari Purnama juga berkaitan dengan Sang Hyang Chandra. Umat memohon tuntunan agar memperoleh ketenangan batin, kebersihan pikiran, dan kemampuan mengendalikan diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Suasana Purnama sering menjadi momentum bagi keluarga Hindu untuk berkumpul dan melaksanakan persembahyangan bersama. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana nilai keagamaan tetap terpelihara melalui kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dalam ajaran Hindu, kesucian pada Purnama juga berkaitan dengan upaya membersihkan diri dari mala atau kekotoran yang dapat memengaruhi pikiran dan perilaku. Umat diharapkan menggunakan kesempatan tersebut untuk memperbaiki sikap, memperkuat keyakinan, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama makhluk hidup.

Tilem, Momentum Penyucian Diri dan Perenungan Spiritual

Tilem merupakan hari suci yang berlangsung ketika bulan berada pada fase baru atau bulan mati. Dalam sistem perhitungan kalender Hindu, fase ini dikenal sebagai Kresna Paksa, yaitu paruh gelap dalam siklus peredaran bulan.

Secara astronomis, fase bulan baru terjadi ketika posisi Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Bagian Bulan yang diterangi Matahari tidak menghadap langsung ke Bumi sehingga Bulan tidak terlihat jelas pada malam hari.

Bagi umat Hindu di Bali, Tilem memiliki makna spiritual yang erat dengan penyucian diri. Hari suci ini menjadi waktu untuk memohon anugerah, perlindungan, dan tuntunan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui pemujaan kepada Sang Hyang Surya.

Pelaksanaan persembahyangan pada Tilem biasanya dilakukan di tempat-tempat suci keluarga maupun pura. Umat menghaturkan sarana persembahan sebagai bentuk bhakti dan rasa syukur atas kehidupan yang telah diberikan.

Tilem juga menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi. Umat diajak melihat kembali tindakan, perkataan, serta pikiran yang telah dilakukan selama menjalani kehidupan. Kesadaran terhadap kesalahan menjadi landasan untuk memperbaiki perilaku dan menjaga kesucian batin.

Dalam pelaksanaannya, beberapa umat Hindu juga menjalankan kegiatan penyucian diri melalui tradisi melukat sesuai dengan kebiasaan dan tuntunan keagamaan setempat. Bentuk pelaksanaan persembahyangan maupun upakara dapat mengikuti desa, kala, patra serta petunjuk pemangku atau sulinggih.

Kegelapan malam Tilem memiliki nilai simbolis dalam kehidupan spiritual. Suasana tersebut dapat dimaknai sebagai pengingat bagi manusia untuk mengenali kekurangan dalam dirinya dan berusaha memperoleh kejernihan pikiran melalui pengendalian diri serta pelaksanaan ajaran dharma.

Hubungan Purnama dan Tilem dalam Konsep Rwa Bhineda

Purnama dan Tilem memiliki keterkaitan erat dalam ajaran Hindu di Bali. Keduanya menggambarkan dua keadaan yang berbeda dalam satu siklus peredaran bulan. Perbedaan tersebut berkaitan dengan konsep Rwa Bhineda, yaitu dua unsur yang memiliki karakteristik berbeda dan saling melengkapi dalam membentuk keseimbangan.

Dalam pemahaman Hindu Bali, Sang Hyang Chandra berkaitan dengan Purnama, sedangkan Sang Hyang Surya berkaitan dengan Tilem. Keduanya menjadi bagian dari pemahaman tentang keseimbangan unsur kehidupan yang berpengaruh terhadap Bhuwana Agung atau alam semesta dan Bhuwana Alit atau kehidupan manusia.

Konsep tersebut mengajarkan bahwa kehidupan memiliki berbagai keadaan yang harus disikapi dengan kesadaran. Terang dan gelap, siang dan malam, serta berbagai perbedaan lainnya merupakan bagian dari keteraturan alam.

Melalui pelaksanaan Purnama dan Tilem, umat Hindu memperoleh kesempatan untuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Hindu di Bali.

Kajian mengenai Purnama dan Tilem juga dibahas dalam penelitian tentang konsep Rwa Bhinneda pada Wariga di Bali. Kajian tersebut menjelaskan bahwa penentuan kedua hari suci berkaitan dengan penampakan bulan dari Bumi serta pemahaman dualisme dalam teologi Hindu Bali.

Tilem Kelima dan Purnama Kenam dalam Kalender Bali

Dalam rangkaian rerainan berdasarkan perhitungan kalender Bali, terdapat Tilem Kelima dan Purnama Kenam. Kedua hari suci ini berkaitan dengan perhitungan sasih atau bulan dalam sistem kalender Bali.

Tilem Kelima merujuk pada rahina Tilem yang berlangsung pada Sasih Kelima atau bulan kelima dalam penanggalan Bali. Pada hari tersebut, umat Hindu melaksanakan persembahyangan sebagai bentuk pemujaan kepada Sang Hyang Surya. Kegiatan keagamaan ini menjadi kesempatan untuk memohon penyucian diri, perlindungan, dan kesejahteraan.

Sementara itu, Purnama Kenam merupakan rahina Purnama yang jatuh pada Sasih Keenam. Hari suci ini berlangsung ketika bulan mencapai fase penuh dan menjadi waktu bagi umat Hindu untuk melaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Chandra.

Dalam tradisi keagamaan di Bali, Purnama Kenam juga memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan upacara tertentu di kawasan Pura Besakih. Salah satu upacara yang tercatat dalam tradisi keagamaan setempat adalah Panyeb Brahma di Pura Kiduling Kreteg yang dilaksanakan pada Purnama Sasih Kenem.

Upacara tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan di kawasan Besakih yang memiliki hubungan dengan pemujaan terhadap manifestasi Tuhan. Keberadaannya memperlihatkan keterkaitan antara perhitungan sasih, hari suci, dan pelaksanaan upacara di pura.

Penentuan Tilem Kelima dan Purnama Kenam mengikuti perhitungan kalender Bali yang memadukan unsur penanggalan lunar dan sistem waktu tradisional. Karena itu, umat perlu memperhatikan kalender Saka dan penanggalan Bali untuk mengetahui waktu pelaksanaannya secara tepat.

Pelaksanaan Persembahyangan Purnama dan Tilem di Bali

Kehadiran Purnama dan Tilem dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali terlihat melalui aktivitas persembahyangan yang berlangsung di berbagai tempat suci. Kegiatan tersebut umumnya melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban keagamaan.

Sarana upakara yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan serta tradisi masing-masing keluarga. Canang sari, bunga, dupa, dan persembahan lainnya menjadi bagian dari sarana bhakti yang dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Selain persembahyangan, umat Hindu juga menjaga kebersihan tempat suci dan mempersiapkan diri sebelum melaksanakan kegiatan keagamaan. Pikiran yang tenang, perkataan yang baik, serta perilaku yang terkendali menjadi bagian penting dalam menjalankan persembahyangan.

Pelaksanaan kedua hari suci tersebut juga memiliki nilai pendidikan bagi generasi muda. Anak-anak dapat mengenal kalender Bali, memahami perhitungan sasih, serta mempelajari makna Purnama dan Tilem melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan keagamaan keluarga.

Kebiasaan melaksanakan persembahyangan secara rutin turut menjaga keberlanjutan tradisi Hindu Bali. Pengetahuan mengenai hari suci, tata cara persembahyangan, dan makna filosofisnya diwariskan melalui lingkungan keluarga, desa adat, serta lembaga keagamaan.

Purnama dan Tilem menjadi bagian dari perjalanan spiritual umat Hindu yang mengikuti keteraturan alam. Melalui kedua rahina tersebut, umat terus mengupayakan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Purnama – Tilem November 2026

  • 9 November 2026: Tilem Kelima (Sasih Kalima)
  • 24 November 2026: Purnama Kenam (Sasih Kenam)

Purnama-Tilem Tahun 2026

3 Januari 2026. Purnama Kepitu
18 Januari 2026. Tilem Kepitu
2 Pebruari 2026. Purnama Kewulu
16 Pebruari 2026. Tilem Kewulu
3 Maret 2026. Purnama Kesanga
18 Maret 2026. Tilem Kesanga
2 April 2026. Purnama Kedasa
16 April 2026. Tilem Kedasa
1 Mei 2026. Purnama Jiyestha
16 Mei 2026. Tilem Jiyestha
31 Mei 2026. Purnama Sadha
14 Juni 2026. Tilem Sadha
29 Juni 2026. Purnama Kasa
14 Juli 2026. Tilem Kasa
29 Juli 2026. Purnama Karo
12 Agustus 2026. Tilem Karo
27 Agustus 2026. Purnama Ketiga
11 September 2026. Tilem Ketiga
26 September 2026. Purnama Kapat
11 Oktober 2026. Tilem Kapat
25 Oktober 2026. Purnama Kelima
9 Nopember 2026. Tilem Kelima
24 Nopember 2026. Purnama Kenam
9 Desember 2026. Tilem Kenam
23 Desember 2026. Purnama Kepitu

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026