Akselerasi Bali Medical Tourism: DPD RI Dorong Penguasaan Bahasa Asing, Hingga Siapkan Helipad Darurat
Akselerasi Bali Medical Tourism DPD RI Dorong Penguasaan Bahasa Asing, Hingga Siapkan Helipad Darurat /balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Anggota Komite I Bidang Hukum dan Badan Akuntabilitas Publik (BAP) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) utusan Provinsi Bali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait pengawalan dan percepatan program Bali Medical Tourism di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, pada Kamis (30/7/2026).
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Anggota DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M.W.S. III atauyang akrab disapa AWK, difokuskan pada pengawasan aspek hukum, tata kelola, serta transparansi publik. Melalui RDP ini, AWK mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi agar Bali tidak hanya menjadi destinasi utama wisata budaya, tetapi juga tumbuh sebagai pusat unggulan layanan kesehatan (medical tourism) berstandar internasional yang tepercaya.
Dalam RDP tersebut, Arya Wedakarna menyoroti pentingnya pembenahan fasilitas fisik hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan (nakes). Hal ini mencakup penguasaan bahasa asing serta pemanfaatan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan sistem bedah robotik. Langkah strategis ini dinilai mendesak mengingat tingginya permintaan tenaga kesehatan untuk program kerja Government-to-Government (G2G) ke luar negeri, seperti Jerman, serta melonjaknya kunjungan wisatawan asing ke Bali.
Anggota DPD RI, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M.W.S. III menekankan krusialnya penguasaan komunikasi bahasa Inggris di tengah peningkatan angka wisatawan.
“Di dalam ilmu kedokteran sebenarnya sudah banyak istilah asing, namun bahasa Inggris untuk komunikasi dengan pasien sangat penting. Di Bali ada 16 juta turis pada 2025, dengan 7 juta di antaranya turis asing. Jika satu persen saja membutuhkan layanan kesehatan, komunikasi bahasa Inggris sangat krusial. Ini yang menyebabkan Penang dan Kuala Lumpur unggul,” jelas AWK.
Selain kapasitas bahasa, penerapan teknologi medis mutakhir juga menjadi fokus utama pembenahan. RSUP Prof. Ngoerah sendiri dinilai telah melangkah terdepan setelah sukses melakukan operasi jantung berbasis robotik dengan tingkat keberhasilan mencapai 96 persen. AWK pun menambahkan bahwa teknologi AI dan sistem robotik harus diterapkan di fakultas-fakultas kedokteran.
“Saya ingin Bali tidak tertinggal. Kita dorong RS Prof. Ngoerah bersama Bali International Hospital di Sanur menjadi yang terdepan. Karena itu, sekolah tinggi kesehatan dan SMK kesehatan harus meningkatkan kualitasnya, bila perlu syarat TOEFL harus tinggi. Jangan hanya berorientasi jadi nakes di Bali, tetapi bisa bekerja di seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri,” tegasnya.
Lebih lanjut, AWK memaparkan rencana pengembangan jangka panjang kawasan medis Bali. Rencana tersebut mencakup penyediaan helipad untuk transportasi udara darurat, pembukaan fakultas kedokteran baru, hingga rencana kerja sama investasi rumah sakit asal Tiongkok dan India.
Sebagai bentuk komitmen, AWK mengaku akan terus mengawal alokasi anggaran APBN untuk pengembangan sarana kesehatan di Bali agar tetap berfasilitas tingkat dunia. Salah satu situs anggaran APBN yang didorong menjadi simbol Indonesia dalam pelayanan kesehatan internasional adalah RS Prof. Ngoerah, di mana ada empat unit gedung lagi yang akan dibangun hingga tahun-tahun berikutnya.
***


