Apa Makna Sesunggunya Purnama Kesanga? Begini Penjelasannya
Ilustrasi by Wikimedia Commons/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Kalender Bali Saka memasuki momen krusial hari ini dengan datangnya Purnama Kesanga. Bulan purnama yang muncul pada bulan kesembilan ini memiliki kedudukan istimewa dalam keyakinan umat Hindu.
Fenomena alam ini dianggap sebagai hari suci karena bertepatan dengan beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Chandra atau Dewi Bulan.
Jero Mangku Ketut Maliarsa menjelaskan bahwa Purnama Kesanga adalah waktu yang tepat untuk memohon anugerah kecemerlangan hati dan pikiran. Umat Hindu memanjatkan doa agar memperoleh kerahayuan dan kerahajengan jagat, baik untuk bhuana agung (alam semesta) maupun bhuana alit (diri manusia sendiri).
“Di samping itu, karena bulan penuh bersinar terang benderang maka sangat tepat untuk memuja keagungan-Nya dan memohon waranugraha ketenangan pikiran agar dalam bahasa Bali menjadi galang apadang,” ujar Jero Mangku Maliarsa kepad.
Bulan Sempurna Menuju Kesucian
Bulan purnama pada sasih kesanga melambangkan kesempurnaan cahaya suci. Cahaya ini berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, yaitu Sang Hyang Chandra dan Sang Hyang Ketu.
Momentum ini krusial untuk memohon perlindungan dari malapetaka. Jero Mangku Maliarsa menambahkan, berdasarkan perhitungan kalender Caka, sasih kesanga dipengaruhi oleh bhuta kala. Periode ini kerap disebut sebagai bulan penuh mala (klesa) atau kekotoran.
Rangkaian Bhuta Yadnya dan Nyepi
Filosofi Hindu menekankan pentingnya melaksanakan upacara Bhuta Yadnya pada bulan kesembilan ini. Upacara ini akan mencapai puncaknya pada Tilem Kesanga tahun 2026 ini jatuh pada Selasa, 3 Maret 2026 sedangkan rangkaian suci ini kemudian berlanjut pada Hari Suci Nyepi di hari Kamis, 19 Maret 2026.
“Tujuannya adalah menetralisir, membersihkan hal-hal dari pengaruh negatif agar menjadi positif. Dalam agama Hindu sering disebut nyomya bhuta kala agar tidak mengganggu ketentraman bhuana alit dan bhuana agung,” tegas mantan kepala sekolah ini.
Langkah ini diambil untuk menciptakan keharmonisan dan keseimbangan hidup.
Pantangan Pelaksanaan Yadnya
Perlu diperhatikan bahwa sejalan dengan perhitungan kalender Caka, selama sasih kesanga tidak ada dewasa ayu (hari baik) untuk pelaksanaan Manusa Yadnya dan Dewa Yadnya.
Dipercaya bahwa pelaksanaan upacara tersebut pada sasih kesanga tidak mendapatkan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa dan manifestasi-Nya. Hal ini bahkan diyakini dapat berakibat buruk dalam kehidupan umat manusia.
“Bahkan kita sebagai umat Hindu di samping melakukan persembahan penyomya bhuta kala, juga harus rajin sembahyang memuja keagungan-Nya. Untuk memperoleh anugerah kerahayuan dan kerahajengan yang dibarengi dengan melaksanakan ajaran kebenaran atau ajaran dharma (agama) sehingga juga terhindar dari malapetaka,” tutup Jero Mangku Maliarsa.
***
