Pukau Ribuan Penonton di PKB 2026, Gong Kebyar Wanita Badung Tampilkan 3 Garapan Seni Sarat Filosofi Atma Kerthi
Pukau Ribuan Penonton di PKB 2026, Gong Kebyar Wanita Badung Tampilkan 3 Garapan Seni Sarat Filosofi Atma Kerthi/ balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Sanggar Seni Guntur Madu dari Banjar Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, yang mewakili Duta Kabupaten Badung, sukses memikat perhatian ribuan penonton dalam Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Pertunjukan seni tersebut digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Denpasar, pada Minggu malam (28/6).
Dalam parade tersebut, Duta Kabupaten Badung tampil berhadapan dengan Duta Kabupaten Gianyar yang diwakili oleh Sanggar Seni Lila Janaki, Banjar Peninjoan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati. Pagelaran seni ini turut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa beserta jajaran, serta Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun.
Duta Kabupaten Badung mempersembahkan tiga materi garapan yang seluruhnya selaras dengan tema PKB 2026, yaitu Atma Kerthi, yang bermakna penyucian dan pemuliaan jiwa.
Garapan pertama yakni Tabuh Kreasi “Panga Sani”, mengajak penonton merenungkan pentingnya mengendalikan ego dan kembali mendengarkan suara hati agar jiwa menjadi penuntun dalam menjalani kehidupan.
Untuk garapan kedua, Duta Badung menyuguhkan Tari “Wana Pering” yang terinspirasi dari filosofi bambu yang lentur namun kokoh sebagai simbol keseimbangan, ketulusan, dan keharmonisan hidup sesuai nilai Atma Kerthi.
Sebagai penutup, Duta Badung menyuguhkan garapan Sandhyagita “Jiwa Anubhawa”, yang mengisahkan perjalanan atma menuju kesadaran sejati. Melalui berbagai ujian, sang jiwa memahami bahwa setiap rintangan merupakan cerminan dirinya sendiri hingga akhirnya mencapai kedamaian dan pencerahan.
Pembina sekaligus komposer Tabuh Kreasi, I Putu Sopyarta, S.Sn., mengungkapkan bahwa proses persiapan untuk pementasan berskala besar ini telah dimulai sejak Januari 2026. Ia menyebutkan bahwa menyatukan komitmen waktu dari para peserta menjadi tantangan terbesar selama masa latihan. Pasalnya, sebagian besar anggota sanggar masih berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, bahkan ada yang sudah bekerja.
“Kesulitannya lebih kepada waktu latihan karena sebagian masih kuliah dan bekerja. Selain itu, kami juga harus memahami karakter masing-masing penabuh agar proses latihan berjalan baik,” ujarnya.
Putu Sopyarta menjelaskan bahwa sebagian peserta awalnya bahkan tidak memiliki latar belakang sebagai penabuh gamelan. Namun, melalui pembinaan intensif dari tingkat dasar, mereka akhirnya mampu menyuguhkan performa maksimal di panggung bergengsi PKB.
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Badung, termasuk perhatian langsung dari Bupati Badung yang sempat meninjau proses latihan secara langsung.
Secara keseluruhan, pementasan ini melibatkan sekitar 80 seniman, yang terdiri atas 34 penabuh beserta para penari yang menghidupkan setiap alur cerita garapan.
Melalui pementasan yang sarat akan makna filosofis ini, pihaknya berharap pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
”Kami berharap, krama Badung maupun Krama Bali pada umumnya terhibur dan dapat menerima suguhan yang kami tampilkan,” pungkasnya.
***
