Hubungan Galungan-Kuningan dengan Hari Raya Saraswati

Ilustrasi gambar banten/ Wikimedia Commons/ Balikonten
DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Dalam tradisi Hindu Bali, Hari Raya Saraswati, Galungan, dan Kuningan bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan pilar spiritual yang membentuk siklus kehidupan yang harmonis dan bermakna. Ketiga hari suci ini, yang terintegrasi dalam sistem kalender Pawukon selama 210 hari, mencerminkan perjalanan spiritual umat Hindu Bali dalam mengejar pengetahuan, merayakan kemenangan kebaikan, dan menghormati leluhur. Setiap perayaan memiliki peran unik namun saling melengkapi, menciptakan sinergi yang memperkuat nilai-nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Hari Raya Saraswati: Fondasi Pengetahuan Suci
Hari Raya Saraswati dirayakan untuk menghormati Dewi Saraswati, dewi pengetahuan, kebijaksanaan, seni, dan pembelajaran. Perayaan ini jatuh pada hari terakhir siklus Pawukon, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Watugunung. Umat Hindu Bali memberikan persembahan berupa bunga, buah, dan daun lontar kepada buku-buku suci, naskah lontar, dan simbol pengetahuan lainnya. Umat menghindari aktivitas membaca atau menulis sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Dewi Saraswati.
Makna utama Saraswati adalah menerima kebijaksanaan untuk meningkatkan kualitas hidup, baik secara intelektual maupun spiritual. Dewi Saraswati, yang digambarkan dengan empat lengan memegang lontar, alat musik, dan mala, melambangkan kemurnian dan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan atau sifat negatif. Perayaan ini menjadi fondasi spiritual, memberikan pencerahan yang menjadi landasan bagi perayaan berikutnya, seperti Galungan dan Kuningan.
Hari Raya Galungan: Kemenangan Dharma atas Adharma
Galungan adalah salah satu hari raya terpenting dalam tradisi Hindu Bali, dirayakan setiap 210 hari pada hari Rabu (Buda) di minggu ke-11 (Dunggulan) kalender Pawukon. Perayaan ini memperingati kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan), menggambarkan perjuangan spiritual untuk mengatasi ego, nafsu, dan sifat buruk dalam diri. Galungan juga menjadi momen ketika roh leluhur diyakini turun ke bumi untuk berkumpul dengan keluarga mereka.
Ritual Galungan mencakup pemasangan penjor, tiang bambu yang dihiasi dengan anyaman daun kelapa, bunga, dan persembahan, sebagai simbol kemakmuran dan syukur. Umat Hindu Bali juga mengunjungi pura untuk berdoa dan memberikan persembahan berupa buah-buahan dan bunga. Galungan berlangsung selama sepuluh hari, menjadi periode refleksi spiritual dan penguatan ikatan keluarga serta komunitas.
Hari Raya Kuningan: Syukur dan Penutupan Siklus
Kuningan dirayakan sepuluh hari setelah Galungan, tepatnya pada Sabtu (Saniscara) Kliwon Wuku Kuningan. Nama “Kuningan” merujuk pada warna kuning, yang melambangkan nasi kuning sebagai persembahan utama, menandakan kemurnian dan penutupan siklus spiritual. Pada hari ini, roh leluhur diyakini kembali ke surga pada tengah hari, sehingga persembahan diletakkan sebelum waktu tersebut.
Kuningan adalah waktu untuk mengungkapkan rasa syukur atas warisan spiritual dari leluhur dan memohon perlindungan serta keselamatan lahir batin. Ritual ini melengkapi Galungan dengan menegaskan hubungan antara manusia dan leluhur, sekaligus memohon berkah untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebaikan.
Sinergi Spiritual: Saraswati, Galungan, dan Kuningan
Ketiga hari raya ini saling terhubung dalam sebuah siklus spiritual yang harmonis. Saraswati menjadi titik awal dengan menekankan pentingnya pengetahuan sebagai pemandu dharma. Ilmu yang diterima pada Hari Raya Saraswati menjadi bekal untuk menghadapi perjuangan spiritual dalam Galungan, di mana umat mengalahkan sifat-sifat buruk dalam diri. Kuningan kemudian menutup siklus ini dengan ungkapan syukur dan doa untuk keselamatan, memastikan bahwa kebaikan yang telah dicapai dapat terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan ini diperkuat oleh Pagerwesi, hari suci yang jatuh 4 hari setelah Saraswati, yang berfokus pada perlindungan spiritual. Pagerwesi menjadi jembatan yang mempersiapkan umat untuk memasuki periode Galungan-Kuningan dengan kekuatan batin yang lebih kokoh. Dengan demikian, siklus ini dapat dilihat sebagai: Saraswati (pengetahuan), Pagerwesi (perlindungan), Galungan (kemenangan), Kuningan (syukur dan keselamatan).
Makna Keseluruhan dalam Kehidupan Hindu Bali
Hubungan antara Saraswati, Galungan, dan Kuningan mencerminkan pendekatan holistik dalam tradisi Hindu Bali. Pengetahuan dari Saraswati memberikan pencerahan, Galungan memperkuat kemenangan spiritual, dan Kuningan menegaskan rasa syukur serta hubungan dengan leluhur. Ketiga perayaan ini tidak hanya memperkaya dimensi spiritual, tetapi juga memperkuat identitas budaya Bali melalui ritual kolektif, seperti pembuatan penjor, persembahan, dan sembahyang bersama.
Meskipun tanggal perayaan ini berubah setiap tahun berdasarkan kalender Pawukon dan Saka, esensi spiritualnya tetap konsisten. Tradisi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara intelektual, moral, dan spiritual dalam menjalani kehidupan yang selaras dengan dharma.
Hubungan Galungan-Kuningan dengan Hari Raya Saraswati terletak pada sinergi spiritual yang membentuk siklus kehidupan Hindu Bali. Saraswati membuka jalan dengan kebijaksanaan, Galungan merayakan kemenangan kebaikan, dan Kuningan menutup dengan syukur dan doa untuk keselamatan.
Ketiga hari raya ini menciptakan harmoni yang memperkaya kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Bali, menjadikannya warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
***

