03/11/2026

Jantra Tradisi Bali Membuat Sunari, Wariskan Filosofi Sakral ke Generasi Milenial

Jantra Tradisi Bali Membuat Sunari, Wariskan Filosofi Sakral ke Generasi Milenial

Jantra Tradisi Bali Membuat Sunari, Wariskan Filosofi Sakral ke Generasi Milenial/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026 kembali mengukuhkan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui penyelenggaraan pacentokan (lomba) membuat Sunari. Perlombaan yang merupakan bagian dari rangkaian Jantra Tradisi Bali 2026 ini digelar di halaman Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Rabu (24/6). Melalui ajang ini, piranti upacara sakral yang berfungsi memancarkan vibrasi spiritual melalui resonansi angin tersebut diperkenalkan kembali kepada generasi muda.

Sejak tahap awal, panitia mencatat enam kelompok yang mendaftarkan diri. Namun, setelah melalui proses seleksi ketat pada 19 Juni 2025 melalui penilaian video proses pembuatan yang dikirim para peserta, terpilih lima kelompok terbaik untuk melaju ke babak final. Babak final ini didominasi oleh perwakilan dari dua wilayah, yakni tiga kelompok dari Kota Denpasar dan dua kelompok dari Kabupaten Gianyar.

Salah satu juri lomba, I Gede Satria Budi Utama, menjelaskan bahwa absennya perwakilan dari kabupaten lain kemungkinan besar disebabkan oleh faktor logistik, utamanya membawa bilah bambu ke lokasi lomba. Berdasarkan regulasi kompetisi, panjang Sunari yang dilombakan ditentukan minimal 10 hingga 12 meter.

“Kemungkinan kendala utama kabupaten lain ada pada ukuran bambu yang sangat panjang. Padahal, jika disiasati, bambu untuk Sunari ini dapat dibuat menggunakan teknik knock down atau bongkar pasang. Pada perlombaan hari ini, terdapat salah satu peserta yang menerapkan teknik sambung-menyambung tersebut, sehingga proses mobilisasi bambu ke lokasi perlombaan menjadi sangat efisien,” ujar Gede Satria.

Jantra Tradisi Bali Membuat Sunari, Wariskan Filosofi Sakral ke Generasi Milenial
Jantra Tradisi Bali Membuat Sunari, Wariskan Filosofi Sakral ke Generasi Milenial/ balikonten

Mengingat alokasi waktu di lokasi dinilai sangat terbatas—yakni maksimal 90 menit—para peserta telah membentuk lubang-lubang utama Sunari di rumah masing-masing. Di lokasi perlombaan, fokus penilaian diarahkan pada kemahiran teknis operasional akhir, seperti proses ngulat bidak (menganyam pengatur arah angin) serta pembuatan ornamen dan hiasan tambahan.

Secara teologis, Sunari bukan sekadar instrumen penghasil suara, melainkan pengejawantahan dari makrokosmos atau alam semesta. Juri pertama, Prof. Dr. Drs. I Ketut Muka Pendet, menegaskan bahwa pembuatan Sunari di Bali selalu menekankan aspek estetika tinggi karena fungsinya yang melekat pada upacara keagamaan.

“Sunari ini utamanya digunakan untuk upacara keagamaan karena hubungannya yang erat dengan simbol-simbol makrokosmos atau alam semesta. Di Bali, apa pun piranti upacara yang dikerjakan selalu dituangkan dalam bentuk yang indah, termasuk Sunari. Itulah yang membedakan Hindu di Bali dengan Hindu di tempat lain seperti India. Masyarakat Bali memiliki keterampilan untuk memadukan fungsi spiritual dan keindahan,” urai Prof. Muka.

Lebih lanjut, Prof. Muka memaparkan secara rinci anatomi ketujuh lubang Sunari yang melambangkan kesucian alam semesta. Lubang Pertama (Bagian Teratas): berbentuk segitiga sama sisi, melambangkan nada atau bintang. Lubang Kedua berbentuk bulat atau angka nol, melambangkan windu. Lubang Ketiga berbentuk bulan sabit, melambangkan ardha candra, kesatuan tiga unsur kehidupan, yaitu bayu (tenaga), sabda (ucapan), dan idep (pikiran).

Lubang Keempat berbentuk tegak lurus, melambangkan purusa atau lingga. Lubang Kelima berbentuk lesung, melambangkan yoni atau pradana. Lubang Keenam berbentuk swastika, melambangkan keseimbangan alam, dan Lubang Ketujuh berbentuk segi empat, melambangkan bumi.

Sunari juga dilengkapi aksesoris bernilai teologis, seperti Kober bergambar Hanoman sebagai simbol Sang Hyang Bayu (Dewa Angin), serta simbol Rare Angon yang digambarkan melalui figur kera (bojog/wenara) atau semal (tupai) karena keterikatannya dengan elemen angin. Di bagian ujung, dipasang duk (ijuk) sebagai pemberat dan hiasan penambah estetika.

Berdasarkan keputusan dewan juri, Kelompok 5 asal Singapadu, Kabupaten Gianyar, ditetapkan sebagai peraih Juara I. Kelompok yang dipimpin oleh Cokorda Gede Trisna Putra ini dinilai unggul berkat kedalaman riset literatur dan presisi teknik pembuatan.

“Kami merasa bangga dan bahagia karena perjuangan untuk mendapatkan juara ini tidak mudah. Prosesnya dimulai dari penggalian data ilmiah serta penelusuran sumber referensi berupa lontar-lontar aksara kuno,” ungkap Cokorda Gede Trisna Putra.

Riset tersebut bertolak dari analisis kritis kelompok mengenai eksistensi Sunari yang umumnya hanya dihadirkan pada upacara-upacara besar seperti Ngusaba, Ngewangun, dan Memukur. Berdasarkan telaah teks kuno, mereka menemukan bahwa struktur Sunari merupakan representasi visual dari aksara suci Ongkara.

“Ketika anatomi Ongkara diurai, terdapat unsur windu dan segitiga. Di bagian atas terdapat gecek (tetesan) yang disebut nada. Di bawahnya terdapat lengkungan ardha candra yang melahirkan tri aksara, yaitu Ang, Ung, dan Mang yang melebur menjadi OM (alam semesta). Oleh karena itu, esensi yang kami kejar bukan sekadar suara, melainkan pancaran ‘Mantram’ penciptaan alam semesta,” jelasnya.

Ketelitian kelompok Singapadu juga diimplementasikan pada pemilihan material. Mereka memilih bambu tamblang, karena karakteristiknya yang tipis namun elastis. Sifat elastis ini merupakan strategi teknis untuk menghadapi kondisi geografis perkotaan modern seperti Denpasar yang didominasi bangunan tinggi, sehingga pergerakan angin cenderung terhambat. Bambu yang elastis akan tetap lentur dan mampu menangkap angin bertekanan rendah untuk menghasilkan suara optimal.

Seluruh proses pengerjaan dilakukan dengan mematuhi aturan kesucian ritual (yadnya) yang ketat sejak awal April. Mengacu pada Lontar Yadnya Prakerti, seluruh bahan upacara dilarang menggunakan material yang bersifat letah (kotor atau lapuk). Kelompok ini memilih menebang langsung bambu yang sudah matang secara biologis dan kering di pohon, bukan membeli bambu mati yang tidak diketahui asal-usulnya.

“Penebangan bambu harus menggunakan ‘dewasa’ (hari baik),dan ditebang di bawah jam 12.00 siang. Begitu pula saat melubangi bambu Sunari, kami juga memcari hari baik,” tambahnya.

Di akhir kesempatan, Prof. I Ketut Muka Pendet menegaskan bahwa tujuan utama kompetisi ini melampaui aspek kejuaraan semata. Kompetisi ini dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkenalkan dan mengedukasi generasi milenial agar warisan budaya lokal yang sarat nilai filosofis ini tidak punah digerus zaman.

***

Pewarta: Sukma Wilatri

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026