03/11/2026

Jika Perang Dunia Pecah, 3 Aset Ini Wajib Kalian Miliki Apa Saja?

arti mimpi tentang emas dalam kehidupan

Emas sebagai simbol salah satu kekayaan/ pixabay/ balikonten

DENPASAR, BALIKONTEN.COM – Tensi geopolitik dunia berada pada titik didih menyusul memanasnya konflik antara Iran dan Israel. Kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu (1/3/2026), menjadi katalisator utama yang memperburuk situasi setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel mengguncang Teheran sehari sebelumnya.

Di tengah ancaman perang yang nyata, pelaku pasar kini dihadapkan pada urgensi untuk menyusun ulang strategi keuangan mereka guna menghadapi potensi “kiamat” finansial.

Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, memberikan peringatan keras mengenai risiko keruntuhan pasar global yang dapat memicu depresi hebat. Analisis Kiyosaki menyoroti kebijakan tiga institusi utama Amerika Serikat—Gedung Putih, Departemen Keuangan, dan Federal Reserve—sebagai indikator kuat datangnya krisis ekonomi masif. Ia berargumen bahwa kebijakan moneter dan fiskal saat ini justru mempercepat laju menuju ketidakpastian ekonomi.

Emas dan Perak: Benteng Pertahanan Aset Riil

Data pasar menunjukkan bahwa emas tetap menjadi instrumen penyelamat utama (safe haven) saat terjadi guncangan global. Pada Senin (2/3/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas melonjak 1,4 persen ke angka US$ 5.360,49 per troy ons. Posisi ini menandai kembalinya emas ke level US$ 5.300 untuk pertama kalinya sejak Desember 2025.

Berdasarkan data Refinitiv, penguatan emas telah terlihat sejak perdagangan Jumat (27/2/2026) dengan kenaikan 1,74 persen ke level US$ 5.277,29. Secara akumulatif, harga emas global mencatatkan pertumbuhan 3,41 persen dalam sepekan terakhir.

Perak mengikuti jejak emas dengan tren penguatan yang signifikan. Setelah sempat berkonsolidasi di level US$ 87,33 pada pertengahan pekan, harga perak melesat dan ditutup pada posisi US$ 93,81 per troy ons pada akhir Februari 2026. Kenaikan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan posisi pertengahan Februari yang masih berada di level US$ 73,45 per troy ons.

Bitcoin dan Fenomena Crypto Emas

Berbeda dengan logam mulia, Bitcoin (BTC) menunjukkan volatilitas tinggi di tengah kecemasan perang. Hingga pertengahan Februari 2026, Bitcoin mencatatkan penurunan tajam sebesar 23 persen secara Year-to-Date (YTD). Data ini mengonfirmasi bahwa dalam kondisi kepanikan masif, institusi cenderung melikuidasi Bitcoin terlebih dahulu untuk mengamankan likuiditas kas dan menutupi kebutuhan margin.

Namun, terjadi anomali pada sektor aset kripto berbasis komoditas. Crypto Emas seperti PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT) justru menguat 15 persen YTD. Munculnya kesenjangan performa sebesar 38 persen antara Bitcoin dan Crypto Emas memberikan sinyal valid bagi pengelola portofolio mengenai adanya rotasi modal dari aset spekulatif menuju aset riil yang didigitalisasi.

Kritik Terhadap Instrumen Konvensional

Kiyosaki secara konsisten mengkritik instrumen investasi tradisional yang ia nilai rentan kehilangan nilai dalam kondisi depresi. Ia menyarankan investor untuk menghindari akumulasi berlebih pada:

  • Uang kertas (fiat)
  • Saham dan obligasi
  • Reksa dana dan Exchange-Traded Fund (ETF)

Menurut pandangannya, instrumen tersebut sering kali memberikan rasa aman palsu namun tidak memiliki jaminan ketahanan saat sistem finansial global terguncang. Strategi perlindungan kekayaan yang paling rasional saat ini adalah fokus pada kepemilikan aset yang memiliki nilai intrinsik kuat dan daya tahan terhadap inflasi ekstrem.

Pilihan untuk berinvestasi pada emas, perak, dan kripto secara strategis menjadi langkah antisipatif bagi mereka yang ingin menjaga daya beli di tengah ancaman depresi hebat yang mungkin segera tiba.

***

Pewarta: Redaksi

Editor: Redaksi

COPYRIGHT © balikonten.com 2026

Tags: